Minim Pendaftaran HAKI Industri Kreatif
Senin, 02 Juli 2018 - 12:16 WIB > Dibaca 302 kali Print | Komentar
Berita Terkait

Kenalkan Kopi Indonesia ke Amerika dan Kanada



SURABAYA (RIAUPOS.CO) - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus mendorong para pelaku ekonomi kreatif tanah air untuk mendaftarkan merek dan hak cipta produk yang dimiliki. Tujuannya, mencegah pemalsuan yang dapat merugikan produsen dan konsumen.

Wakil Kepala Bekraf Ricky J Pesik menyatakan, masalah pendaftaran hak atas kekayaan intelektual (HAKI) memang cukup berat. Sampai saat ini, baru sekitar 17 persen dari 16,9 juta pelaku ekonomi kreatif di Indonesia yang sudah mendaftar HAKI. ’’Jadi, masih banyak PR kita karena ada sekitar 83 persen yang belum mendaftarkan. Padahal, manfaat dari HAKI itu besar,’’ ujarnya di sela-sela kegiatan Bekraf Developer Day 2018 di Surabaya, Ahad (1/7).

Menurut dia, kesadaran pelaku ekonomi kreatif untuk mendaftarkan HAKI belum begitu tinggi. Padahal, bila sebuah produk telah memiliki HAKI, kerugian akibat pemalsuan merek dapat ditekan. ’’Kesadaran pelaku kreatif ini cukup rendah karena mereka menganggap biaya mengurus HAKI besar dan pengurusan dokumennya rumit,’’ jelasnya.

Sebagaimana diketahui, pendaftaran HAKI ditujukan ke Kementerian Hukum dan HAM. Namun, Bekraf berkomitmen terus memfasilitasi dan mendampingi pelaku ekonomi kreatif untuk mendaftar. Sejak 2016 sampai sekarang, tercatat ada 4 ribu pelaku usaha industri kreatif yang didaftarkan Bekraf untuk memiliki HAKI.

’’Kami menargetkan sampai 2019 bisa memfasilitasi 10 ribu pelaku kreatif. Makanya, kami akan masif melakukan sosialisasi terkait dengan masalah tersebut agar kesadaran mereka terus bertambah,’’ papar Ricky.

Persoalan besar lain di industri kreatif Indonesia yang ditemui hingga kini adalah masalah talenta. Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Sungkari menjelaskan bahwa industri kreatif tanah air sampai sekarang kekurangan ahli-ahli yang tanggap terhadap digital ekonomi. ’’Yang minat untuk bekerja di industri kreatif sebenarnya banyak. Tetapi, yang benar-benar ahli masih sedikit,’’ ungkap Hari.

Padahal, ke depan, potensi industri kreatif digital sangat besar lantaran dunia sekarang sudah berubah secara visioner. Contohnya, di sektor game. Pada 2015, nilai industri game Indonesia 321 juta dolar AS. Kemudian, pada 2016 nilainya mencapai 480 juta dolar AS dan naik lagi tahun lalu menjadi 800 juta dolar AS.

’’Karena itu, lewat ajang ini, seluruh para pelaku ekonomi kreatif bisa sharing sekaligus bertemu dengan para investor. Karena peluang terhadap industri kreatif sangat besar untuk digarap,’’ tuturnya.(car/c14/fal/das)
KOMENTAR
Berita Update

Jalan Perhentian Luas-Situgal Terancam Putus
Jumat, 21 September 2018 - 15:00 wib

Belanja Hemat hingga 50 Persen di Informa WOW Sale
Jumat, 21 September 2018 - 14:45 wib
Berkas Korupsi Kredit Fiktif Dinyatakan Lengkap

Berkas Korupsi Kredit Fiktif Dinyatakan Lengkap
Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Korut Segera Tutup Fasilitas Nuklir Utama Tongchang-ri
Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Lanud Lahirkan Tiga Penerbang Tempur
Jumat, 21 September 2018 - 14:00 wib

Harimau Mangsa Ternak Warga
Jumat, 21 September 2018 - 13:30 wib
Kantor UPTD Dukcapil Mandau Penuh Sesak

Kantor UPTD Dukcapil Mandau Penuh Sesak
Jumat, 21 September 2018 - 12:53 wib

Kesbangpol Gelar Penyuluhan Narkoba di Rupat
Jumat, 21 September 2018 - 12:30 wib
ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat
Jumat, 21 September 2018 - 12:00 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP
Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib
Cari Berita
Nasional Terbaru
TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 WIB

Pamflet Undangan Diskusi Divestasi Newmont itu Hoax

Kamis, 20 September 2018 - 14:11 WIB

BPJS Kesehatan Laporkan Pengkritik

Rabu, 19 September 2018 - 15:48 WIB

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 WIB

Tiap Anggota Dewan Terima Rp200 Juta

Selasa, 18 September 2018 - 10:36 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us