Wonderful Indonesia
Depan >> Berita >> Hukum >>
DUGAAN MERINTANGI PENYIDIKAN
Minta Hakim Tunda Sidang Pleidoi, Fredrich Akui Baru Selesaikan 602 Halaman
Jumat, 08 Juni 2018 - 17:20 WIB > Dibaca 247 kali Print | Komentar
Minta Hakim Tunda Sidang Pleidoi, Fredrich Akui Baru Selesaikan 602 Halaman
Fredrich Yunadi. (JPG)
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Permintaan untuk menunda sidang lanjutan yang beragendakan pembacaan nota pembelaan (pleidoi) kepada majelis hakim dilayangkan terdakwa perkara dugaan merintangi penyidikan korupsi e-KTP, Fredrich Yunadi.

Adapun alasan Fredrich adalah nota pleidoi yang dibuatnya belum sepenuhnya selesai.

"Minta sidang pada Jumat 22 Juni 2018. Kami sudah menyelesaikan 602 halaman, dari 1.200 halaman," ujarnya kepada Ketua Majelis Hakim Syafuddin Zuhri, di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Jumat (8/6/2018).

Dia menilai, penasihat hukumnya sudah menyampaikan surat ketidakhadiran lantaran ingin menyelesaikan ribuan pleidoi yang akan dibacakan oleh Fredrich dan juga tim kuasa hukum.

Karena itu, Hakim Zuhri menanyakan terkait kesiapan Fredrich untuk membacakan nota pleidoi.

"Saudara masih belum siap?" tanya hakim.

"Iya belum siap, Yang Mulia," jawab Fredrich.

Mantan pengacara Setya Novanto itu bahkan menyebut akan membeberkan pembelaan dalam surat tuntutan yang ditemukan adanya rekayasa oleh jaksa penuntut umum.

"Kami nanti lampirkan bukti rekaman selama sidang untuk membuktikan apa yang ditulis penuntut umum, pemalsuan itu yang kami sampaikan di persidangan," jelasnya.

Meski begitu, jaksa penuntut umum meminta pria yang sebelumnya bernama Fredy Junadi itu untuk tidak lagi mengulur-ngulur waktu membacakan nota pembelaan.

"Ucapan ini tidak ada lagi penundaan, mohon ini adalah jaminan untuk ditepati. Jadi tidak mengundur lagi," papar Jaksa Tadir Suhan.

Jaksa KPK sebelumnya menuntut Fredrich 12 tahun penjara dan mewajibkan membayar denda sebesar Rp600 juta. Jaksa meyakini Fredrich terbukti bersalah melanggar Pasal 21 Undang-undang Tindak Pidana Korupsi tentang mencegah, merintangi, atau menggagalkan penyidikan secara langsung atau tidak langsung.

Adapun jaksa menuntut hukuman maksimal kepada Fredrich karena tindakannya dianggap tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi. Fredrich Yunadi selaku advokat juga dianggap melakukan perbuatan tercela serta bertentangan dengan hukum.

Di samping itu, hal yang memberatkan tuntutan jaksa, Fredrich dianggap kerap bertingkah dan berkata kasar, serta terkesan menghina orang lain sehingga merendahkan martabat dan kehormatan lembaga peradilan. Jaksa menyatakan tak menemukan hal yang dapat meringankan hukumannya.

"Terdakwa sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan atas perbuatannya," kata Jaksa KPK, Kresna dalam sidang pembacaan tuntutan," kata jaksa saat membacakan tuntutan terhadap Fredrich, Kamis (31/5/2018). (ce1/rdw)

Sumber: JPG
Editor: Boy Riza Utama
KOMENTAR
Berita Update

Nakhoda Paham, Lancang Kuning Berlayar Malam
Sabtu, 22 Juni 2018 - 14:16 wib
SBY Yakin Paslon No 3 Jadi
Survei Lamda Indonesia, Firdaus-Rusli Tertinggi
Sabtu, 22 Juni 2018 - 13:51 wib

All New Honda CR-V Promo Spesial Idulfitri
Sabtu, 22 Juni 2018 - 13:39 wib
Disdik Pekanbaru
Daya Tampung SMP Negeri 8.064 Pelajar
Sabtu, 22 Juni 2018 - 13:26 wib
Mei, NTP Riau Turun 1,92 Persen

Mei, NTP Riau Turun 1,92 Persen
Sabtu, 22 Juni 2018 - 13:18 wib

Hotel Swis Belinn SKA Tawarkan Paket Halalbihalal
Sabtu, 22 Juni 2018 - 12:07 wib
Angkutan Umum Masih Menjadi Primadona

Angkutan Umum Masih Menjadi Primadona
Sabtu, 22 Juni 2018 - 11:48 wib

Hari Pertama Kerja, OPD Pelayanan Disidak
Sabtu, 22 Juni 2018 - 11:44 wib
Pilkada Riau 2018
LE-Hardianto Fokuskan Pengembangan Wirausaha
Sabtu, 22 Juni 2018 - 11:41 wib
Cari Berita
Hukum Terbaru
Penyiram Air Keras Masih Misterius, Novel  Bakal Diperiksa Lagi
Kasus Novel Belum Terungkap, Pegawai KPK Dibayangi Kecemasan
Diinfokan Kasus Rizieq Shihab Dihentikan, PA 212 Ucapkan Terima Kasih
Dieksekusi ke Lapas Sidoarjo, Alfian Tanjung Tetap Terbukti Bersalah
Terkait Pemberitaan, Wakapolri Tegaskan Wartawan Tak Boleh Langsung Dipidana
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini