OLEH: PROF DR H AKBARIZAN MA MPD

Bulan Menuntut Ilmu

Petuah Ramadhan | Selasa, 22 Mei 2018 - 10:25 WIB

Bulan Menuntut Ilmu

RIAUPOS.CO - Bila Ramadan datang kegiatan-kegiatan menuntut ilmu sangat banyak dan semarak. Te­levisi penuh dengan pengajian-pengajian yang menampilkan ustaz-ustazah yang mumpuni mulai sebelum sahur sampai waktu berbuka. Masjid dan musala mengisi pengajian-pengajian seperti kuliah lima menit (kulim) setelah Salat Subuh, dan santapan rohani setelah Salat Isya sebelum Tarawih.

Instansi pemerintah dan swasta menambah suasana menuntut ilmu dengan pengajian-pengajian setelah Salat Zuhur berjamaah. Bulan Ramadan adalah bulan yang memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk menambah pengetahuan sebanyak-banyaknya dari banyak ulama dan ustaz.

Tentu saja setiap orang yang menuntut ilmu, Allah memberi balasan pahala sama. Bahkan lebih dari pahala orang yang berjihad di medan perang. Sebagaimana ungkapan yang terkenal: “Tetesan tinta ilmuwan lebih berharga daripada tetesan darah pahlawan.” Atau ungkapan, “Siapa yang berjalan menuju tempat menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Hanya saja penuntut ilmu yang Allah mudahkan jalan menuju surga mesti memenuhi delapan indikator. Pertama, mengikhlaskan niat hanya karena Allah. Dalam menuntut ilmu niatnya adalah wajah Allah dan akhirat. Dari Umar bin Dzar bahwasanya dia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, mengapa orang-orang menangis apabila ayah menasihati mereka, sedang mereka tidak menangis apabila orang lain yang menasihati mereka?” Ayahnya menjawab: ”Wahai putraku, tidak sama ratapan seorang ibu yang ditinggal mati anaknya dengan ratapan wanita yang dibayar (untuk meratap).

Kedua, memberantas kebodohan dirinya dan orang lain. Pada dasarnya manusia itu jahil (bodoh), sebagaimana firman Allah yang artinya: ”Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa pun..”. Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Ilmu itu tiada bandingannya bagi orang yang niatnya benar.”

Mereka bertanya: ”Bagaimanakah hal itu?” Beliau menjawab: “Berniat memberantas kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.”

Ketiga, membela syariat. Orang yang membela syariat adalah para pengemban syariat. Di samping itu, bid’ah juga selalu muncul silih berganti yang ada kalanya belum pernah terjadi pada zaman dahulu dan tidak ada dalam kitab-kitab. Sehingga tidak mungkin membela syariat kecuali para penuntut ilmu.  Kitab-kitab yang ada sering kali memperlihatkan perbedaan di dalamnya. Kadang kala seorang muslim tidak tahu apa yang harus dia ambil dan apa yang harus dia tinggalkan. Di sinilah letaknya urgensi menuntut ilmu.





loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU