Oleh: HM Nazir Karim
’’Pembajakan” Nilai Jihad
Senin, 21 Mei 2018 - 09:59 WIB > Dibaca 1567 kali Print | Komentar
’’Pembajakan” Nilai Jihad
RIAUPOS.CO - Tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan. Ketakwaan adalah memelihara diri dari segala yang membahayakan dan menyengsarakan hidup, dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Ketakwaan dapat dipandang sebagai ukuran derajat kemanusiaan manusia. Semakin tinggi ketakwaan seseorang, semakin tinggi derajat kemanusiaannya.

Ketakwaan dalam arti sebenarnya mencerminkan bukan hanya ketakwaan pribadi, tapi juga ketakwaan yang mampu melahirkan kebajikan komunitas, yang berguna bagi orang banyak.

Dapat dikatakan manusia yang mulia di mata Allah adalah manusia yang bermanfaat bagi dirinya dan orang banyak. Orang yang tidak bermanfaat bagi orang banyak bukan orang saleh dan bukan pula orang bertakwa.

Manfaat bagi orang banyak adalah ukuran atau bukti kebaikan, yang sekaligus adalah ukuran ketakwaan dan kesalehan. Rasulullah Muhammad SAW mengatakan bahwa manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang banyak. Tetapi harus diingat bahwa semua perbuatan yang dilakukan untuk kesalehan harus disertai dengan niat untuk mengabdi kepada Tuhan. Jika suatu perbuatan tidak disertai niat untuk mengabdi kepada Tuhan, akan timbul godaan kuat untuk pamer diri (riya’).

Puasa yang berhasil mencapai tujuannya, yaitu ketakwaan, melahirkan sifat-sifat terpuji seperti kejujuran, kesabaran, ketabahan, kepedulian sosial, kedermawanan, kasih sayang, keramahan, dan toleransi. Puasa yang lebih tinggi kualitasnya bukan hanya menahan diri dari perbuatan yang membatalkannya, tetapi juga menahan diri dari perbuatan-perbuatan tercela seperti: berbohong, menipu, memfitnah, bergunjing, mendengar yang tidak bermanfaat, melakukan kekerasan, menghina, dan mencaci-maki.

Pesan takwa dalam puasa ini perlu dipahami di tengah gejala menguatnya sentimen di kalangan Barat terhadap Islam. Bahwa Islam adalah musuh Barat pascakeruntuhan komunisme di Eropa Timur. Jauh masa sebelum keruntuhan komunisme, sentimen permusuhan itu sebenarnya juga telah ada, tetapi penguatan sentimen itu belum mendapat tempat, sebab ketika komunisme masih berdiri kokoh, barat mempunyai dua musuh, Islam dan komunisme.


KOMENTAR
Berita Update

HNSI Diharapkan Berkontribusi Terhadap Masyarakat
Kamis, 16 Agustus 2018 - 17:00 wib

Bupati Apresiasi Sosialisasi Gratifikasi
Kamis, 16 Agustus 2018 - 16:30 wib
95 Hektare Lahan Terbakar

95 Hektare Lahan Terbakar
Kamis, 16 Agustus 2018 - 16:00 wib
Cuaca Ekstrim Waspadai Karhutla

Cuaca Ekstrim Waspadai Karhutla
Kamis, 16 Agustus 2018 - 15:30 wib

Bupati Kukuhkan Anggota Paskibraka
Kamis, 16 Agustus 2018 - 15:00 wib
Belum Bisa Setop Konflik Perusahaan-Masyarakat

Belum Bisa Setop Konflik Perusahaan-Masyarakat
Kamis, 16 Agustus 2018 - 14:00 wib
Jembatan Siak IV
Ponton dan Crane Bersiap Jelang Penyambungan
Kamis, 16 Agustus 2018 - 13:30 wib
PPP: Ma’ruf Amin Tak Mengancam Jokowi

PPP: Ma’ruf Amin Tak Mengancam Jokowi
Kamis, 16 Agustus 2018 - 13:15 wib

Hari Ini, Bus Salawat Terakhir Beroperasi
Kamis, 16 Agustus 2018 - 12:40 wib
Cari Berita
Petuah Ramadhan Terbaru
Rapat Paripurna DPRD Molor

Jumat, 27 Juli 2018 - 10:53 WIB

Memperbaiki Salat

Rabu, 13 Juni 2018 - 11:02 WIB

Puasa dan Sifat Malu

Selasa, 12 Juni 2018 - 11:14 WIB

Tatkala Harta Dipanaskan

Senin, 11 Juni 2018 - 09:53 WIB

Membasmi Mentalitas Korupsi

Minggu, 10 Juni 2018 - 12:39 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us