Depan >> Berita >> Hukum >>

Amankan Lokasinya, Jangan Hajar Wartawannya
17 Oktober 2012 - 21:50 WIB > Dibaca 1274 kali Print | Komentar
JAKARTA (RP) - Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan TNI menganggap penganiayaan terhadap wartawan peliput jatuhnya Hawk 200 di Kampar, Riau, Selasa (16/10) oleh perwira menengah TNI AU, sudah termasuk tindak pidana. Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin, menyatakan bahwa kasus itu harus diproses hukum.

Hasanuddin mengakui, sudah menjadi aturan baku di negara manapun ketika terjadi kecelakaan pesawat tempur, maka lokasi jatuhnya pesawat harus seteril. Namun menurut Hasanuddin, hal itu bukan berarti menjadi alasan bagi TNI AU bisa bertindak semaunya.

"Tapi wartawan juga berkepentingan melaksanakan tugas jurnalistiknya. Dalam kasus ini, seharusnya petugas TNI AU cukup membuat garis pembatas dan tak perlu melakukan pemukulan, pencekikan terhadap wartawan tersebut," kata Hasanuddin di Gedung DPR RI, Rabu (17/10).

Pensiunan Mayor Jenderal TNI AD yang pernah menjasi Sekretaris Militer Kepresidenan itu menambahkan, pelaku pemukulan tidak bisa dibiarkan begitu saja. "Jadi harusnya segera diproses dan dipidanakan," cetusnya.

Seperti diketahui, enam wartawan yang tengah meliput jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 di Riau, Selasa (16/10, dianiaya oknum TNI AU berpangkat Letkol. Tak hanya itu, kamera wartawan pun ikut dirampas.
 
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, menyesalkan terjadinya penganiayaan itu.  Menurut Purnomo, apapun alasannya tindakan tersebut tidaklah dibenarkan. Untuk itu pihaknya meminta kasus tersebut diusut tuntas.

"Saya sudah minta supaya TNI AU mengusut," kata Purnomo pada wartawan di Istana Negara, Rabu (17/10).
 
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono juga sudah meminta maaf atas perlakuan anak buahnya di lapangan. "Selaku pimpinan saya mohon maaf kepada wartawan khususnya yang terlibat situasi tersebut," kata Agus.

Sebenarnya, kata Agus, maksud dari tindakan anggotanya saat kejadian adalah mengamankan lokasi jatuhnya pesawat militer Hawk 200. Karena pengamanan pesawat militer yang jatuh berbeda dengan pesawat sipil. Dikhawatirkan ada bahan peledak yang membahayakan masyarakat dan wartawan itu sendiri bila mendekat ke lokasi kejadian.

"Namun saya memahami, bahwa tindakan atau cara yang dipakai mereka (anggota TNI AU) di luar batas kepatutan. Sekali lagi saya selaku pimpinan TNI mohon maaf. Saya juga sudah minta untuk tindaklanjuti proses hukumnya bagi prajurit yang melakukan pelanggaran tersebut," tegas Agus.(ara/boy/jpnn)
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
Polri Sebar Mata-mata untuk Tangkap La Nyalla
Selasa, 24 Mei 2016 - 20:24 wib
Ultrasmania Lapor ke P2TP2A, Ini Alasannya
Selasa, 24 Mei 2016 - 20:00 wib
Pakar Forensik: EgyptAir Meledak di Udara
Selasa, 24 Mei 2016 - 19:31 wib
Jokowi Belum Puas dengan Peringkat Indonesia
Selasa, 24 Mei 2016 - 19:19 wib
Gerindra Usung Tokoh Militer, Ahok Bilang Begini
Selasa, 24 Mei 2016 - 18:48 wib
Medsos Geger: Susno Duadji Jadi Petani!
Selasa, 24 Mei 2016 - 18:34 wib
Cari Berita
Hukum Terbaru
Polri Sebar Mata-mata untuk Tangkap La Nyalla

Selasa, 24 Mei 2016 - 20:24 WIB

Duh... Pengguna Kaos Turn Back Crime Bakal Ditangkap Polisi kalau...

Selasa, 24 Mei 2016 - 19:05 WIB

Jessica Bebas Sabtu Mendatang, Ini Komentar Kapolri

Selasa, 24 Mei 2016 - 18:55 WIB

Sri Rubiyati Pritahin, Minta Polisi Segera Tangkap Pelaku

Selasa, 24 Mei 2016 - 18:19 WIB

Pengacara Jesscica Tuding Polisi Sudah Salah sejak Awal

Selasa, 24 Mei 2016 - 18:04 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
Follow Us