Kueh dan Krisis

Sabtu, 12 Agu 2017 - 23:40 WIB > Dibaca 975 kali | Komentar

“Teman saya hanyalah tukang buah dan toko buku”. Itu kata S. Takdir Alisjahbana, empat dekade silam. Takdir selain dikenal sebagai tokoh pemikir progresif, filsuf modern Indonesia, sastrawan, namun punya kebiasaan berkebun dan menanam buah. Tak hanya buah-buahan yang ditanam, akan tetapi juga tumbuhan seperti bambu. Dia punya seorang kenalan berkebangsaan Jepang. Dan si Jepang ini membawa kaidah cara menanam bambu (buluh); “tanamilah buluh dengan cara menghunjam dalam-dalam batang bambu itu ke dalam tanah, agar menghasilkan rebung yang terbaik”. Selanjutnya, ada satu kesan mendalam ketika “berdialog” dengan pemikiran Takdir; jika dikaitkan dengan toko buku, bahwa buku bagi sosok ini,  bukanlah sebuah kaidah yang perlu dibincang dan dipertengkarkan lagi. Sebab, seorang intelektual besar sekelas Takdir, buku atau teks adalah sarapan dan mainannya hingga memucuk malam. Namun, ketika disangkutkan dengan buah-buahan dan tanaman, maka Takdir menjadi ‘sensual’ untuk dibicarakan. Sebab, dia bukanlah seorang petani sebagaimana diperkatakan secara awam.

Teman sejati seorang Takdir adalah tukang buah. Kenapa? Karena buah-buah yang dipetik dari pohon, sejatinya adalah “kueh Tuhan”, ujar Takdir. Sementara, kueh buatan manusia tidak akan pernah selezat “kueh buatan Allah: bernama buah-buahan. Maka, menanam dan berkebunlah. Dengan berkebun, orang akan lebih dekat dengan “katahati” (atau conciousness). Jika seseorang sudah menyatu dengan katahati sendiri, maka dia adalah sosok makhluk yang akan bertolak (untuk sebuah perantauan panjang) dari kaidah-kaidah etis terdasar. Nilai etis itu adalah ‘katahati’ pertama. Misalnya; ketika seseorang yang menghampiri rumah kita, dan di sela-sela liang pintu kita dapat mengintip, bahwa yang datang adalah seorang miskin yang memerlukan bantuan; maka berdetak hati kita menyebut (“ku bantu 50 ribu rupiah lah”). Seketika akan mengambil uang di kamar, niat pertama ini beralih, “ah... tak perlu 50 ribu. Cukup 25 ribu saja”. Terjadi tarik menarik (dalam “katahati”). Maka, niat pertama itulah yang benar-benar keluar dari sumber mata air kata hati (50 ribu). Sedangkan hasil renungan sampai terkuras menjadi 25 ribu, itu bukan lagi murni katahati. Dia sudah melalui sejumlah pertimbangan demi pertimbangan. Jika terjadi demikian, maka ikhlaskan saja anda bersedah dengan nominal 50 ribu rupiah itu. Sebab, angka itulah yang terucap (dalam hati) pertama kali ketika anda membaca mimik wajah sang fakir yang menghampiri rumah.

Lalu? Dengan berkebun dan bertanamlah, bagi para salik di jalan tasawuf,  dijadikan sebagai instrumen mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Para filsuf, para sufi amat dekat dengan peristiwa menanam dan berdialog dengan hal-ihwal vegetasi (tanaman dan tumbuhan). Sebab, bagi mereka krisis kemanusiaan itu berawal dari krisis nilai yang ada di dalam diri (autonom); demikian pula krisis nilai yang dibentuk oleh faktor-faktor luar lingkungan (heteronom). Ajaran-ajaran nilai dan etik tinggi, sejak Socrates, Ramakrishna, Buddha berbincang tentang penindasan yang ditanggapi dengan damai. Termasuk tuntunan perilaku yang diperlihatkan Nelson Mandela di era modern ini: “Lebih elok menderita atas kekejaman dan ketidak-adilan, dari pada melakukan kekejaman dan ketidak-adilan sendiri ke atas makhluk lain”.

Bahwa sepanjang perjalan sejarah peradaban, krisis yang benar-benar dianggap sebagai sumbu krisis menurut Karl Jaspers adalah krisis yang beruntun terjadi pada sekitar adab kelima Sebelum Masehi. Runtutan krisis ini oleh Jaspers disebut sebagai Achsenzeit (sumbu sejarah manusia). Maka, ketika krisis demi krisis terjadi berulang-ulang, maka sebuah kebudayaan bagi Sorokin, tiada jalan lain; periksalah kreativitas kebudayaan itu secara seksama. Sebab, untuk dapat mempertahankan kreativitas kebudayaan, haruslah dengan cara mengubah dasarnya (nilai-nilai); ketika dasar-dasar lama telah habis kemungkinan-kemungkinannya. Nah, dalam zaman modern ini, kebudayaan sensate (inderawi) yang mengalami synergitas dengan kebudayaan ideasional (idealistik), adalah sebuah paham progresif, namun harus dilakukan lewat pembaharuan demi pembaharuan. Termasuk pula, agama yang  menjadi sumber krisis masa kini, maka dia (agama) bisa dibantu oleh ilmu untuk merumuskannya kembali. Agama yang baik dan bermanfaat untuk umat manusia adalah agama yang dipeluk dan digendong oleh orang-orang berilmu.

Bagi Arnold Toynbee, krisis dewasa ini adalah krisis nilai, terutama nilai etik. Dan bersamaan dengan itu “kita sering mendengar semboyan-semboyan supaya kembali kepada agama, karena memang agamalah yang sampai sekarang merupakan sumber etik yang terbesar” (menurut catatan Tadir pula). “Tetapi soal yang kita hadapi berhubung dengan agama adalah sedemikian, sehingga tanpa berlebih-lebihan dapat dikatakan bahwa krisis agaman itu sendiri yang menjadi inti krisis masa kini”, ujar Takdir lagi. Maka, setiap krisis akan melahirkan konflik demi konflik. Baik vertikal, apatah lagi horizontal. Namun, semua konflik itu sendiri bersumber dari diri sendiri; yang dalam kaidah Immanuel Kant disebut sebagai konflik “katahati”. Kant yang dikenal sebagai filsuf yang saleh dengan sauh iman yang kukuh dalam agamanya, mampu melukiskan secara elok tentang konflik yang menghasilkan krisis kemanusiaan yang bersumber dari “katahati” itu. Konflik   dijelaskannya dalam upaya dia ingin menjelaskan fungsi dari “katahati” itu sendiri: “Katahati adalah kesadaran individu akan adanya suatu mahkamah dalam dirinya, yang di dalamnya fikirannya tuduh-menuduh. Dalam konflik katahati individu itu serempak sebagai penuntut, pesakit, dan hakim sekaligus”.
 

Kembali ke kisah “kueh Tuhan” sebagai jalur langit tentang kebijakan menjalani kaidah-kaidah bumi. Namun, manusia diberi ruang untuk melakukan perbaikan dan pemeriksanaan (secara bengkel kebudayaan dan workshop peradaban) tentang nilai etik yang mungkin tak sejalan dengan kaidah dan langgam kekinian. Cahaya pemikiran yang mengikut alur zaman dengan kaidah-kaidah progresif merupakan suatu narasi yang berjalin-jalin, salin mengkit dan menjahit sejalan dengan konteks dan teks, seajalan dengan semangat “ke-kini-an” (tempo present) dan “ke-di-sini-an” (bahan-bahan lokal, termasuk nilai dan segala perkakas ideasional kebudayaan yang berpembawan serba lokalitas). Melalui kecerdasan temporal dan spatial pula, manusia mampu menjawab segala krisis yang berlangsung secara berulang-ulang dalam langgam dan ragamnya. Bergegaslah, memuliakan “kueh Tuhan” dan berseggas pula membentang pemikran-pemikiran progresif yang membumi.***


KOMENTAR
BERITA TERBARU
Pemko Gerah Pasar Kaget Marak

Pemko Gerah Pasar Kaget Marak

17 Oktober 2017 - 11:00 WIB
Berjuang Jadi Janda

Berjuang Jadi Janda

17 Oktober 2017 - 10:55 WIB
Sampah Rajawali Tak Ada Solusi

Sampah Rajawali Tak Ada Solusi

17 Oktober 2017 - 10:52 WIB
Menjaga Jalur Hijau

Menjaga Jalur Hijau

17 Oktober 2017 - 10:48 WIB
Ubah Sampah Jadi Gas

Ubah Sampah Jadi Gas

17 Oktober 2017 - 10:45 WIB
Korban Banjir Terbantu dengan Perhatian Pemkab

Korban Banjir Terbantu dengan Perhatian Pemkab

17 Oktober 2017 - 10:44 WIB
SKTM Digunakan untuk Memperoleh Bantuan

SKTM Digunakan untuk Memperoleh Bantuan

17 Oktober 2017 - 10:40 WIB
IRT Dihipnotis Dua Pria

IRT Dihipnotis Dua Pria

17 Oktober 2017 - 10:37 WIB

Follow Us