Khuruj, Kenangan, dan Tranformasi
UPMR, SASTRA TABLIG
Minggu, 13 Mei 2018 - 12:38 WIB > Dibaca 549 kali Print | Komentar
UPMR, SASTRA TABLIG
Berita Terkait



(RIAUPOS.CO) - MUNGKIN kini saatnya saya melemparkan istilah berbeda: Sastra Tablig, selepas sastra lain sebelumnya: Sastra Sufi, Sastra Pesantren, Sastra Islami, Sastra Religius, dan juga Sastra Profetik. Saya akan menggambarkannya secara sekilas nanti, sembari benar-benar pulih, dan jeda gencatan gawai. Mungkin, perdebatannya menjadi agak panjang. Tapi, tak apalah, meski akan makan masa, juga menyedot banyak udara untuk panjang napas.

Mulanya, saya tak punya sangka, ternyata di Jamaah Tabligh (JT) ada seorang sastrawan yang ciamik. Terutama sebagai outsider, saya hanya berta’aruf dengan JT lewat pandangan-pandangan. Sebenarnya, telah lama saya menjumpai mereka, sejak saya remaja di Yogyakarta. Mereka adalah sekelompok orang berjubah, bergamis panjang, umumnya polos, sorban diikat di kepala, mengunjungi masjid demi masjid. Mereka serupa komunitas backpacker. Tas ransel penuh pakaian, bahkan beserta alat masak, termasuk kompor.

Di masjid, mereka bersegera berkegiatan, serupa ceramah agama, mengajar ngaji anak-anak sekitar, bersilaturahmi dari rumah ke rumah warga sekitar, mendatangi orang demi orang. Terutama adalah untuk mengajak masyarakat sekitar untuk datang dan hadir ke masjid. Dan tentu saja, untuk memakmurkan masjid. Bila tak salah, mereka melakukan tablig, dan istilah popular yang sering terdengar adalah “khuruj fi sabilillah”.

Bila dicermati, anggota jamaah ini bercirikhaskan menggunakan siwak, dalam bentuk potongan kayu siwak, bukan pasta gigi siwak; makan dan minum duduk, dengan posisi kaki satu ditekuk berdiri dan satu kaki lagi sebagai alas pantat; menjumput nasi dengan tiga jari. Bila Senin dan Kamis, biasanya mereka berpuasa. Dan ketika mereka berbuka di masjid, mereka mengajak serta masyarakat sekitar untuk bersama-sama mengamalkannya.

Obrolannya terutama adalah menekankan pada amalan “sunnah”, dalam makna yang asali, masih belum terkontaminasi oleh apa yang dikenalkan pemikir barat sebagai akulturisasi, adaptasi kebudayaan, dialektika kultural, atau sebutan lain. Amalan sunnah sebagai turats, warisan tradisi Nabi Muhammad saw yang harus dijaga, serupa asal dan aslinya, dalam bantuk maupun cara.

Para anggota jemaah ini, secara berkala, dan sering dalam masa lumayan lama, berkhidmat dengan menggunakan waktu, tenaga dan harta sendiri, untuk khuruj fi sabilillah dari kota ke kota. Bahkan, seorang kenalan saya berkesah, khuruj kadang hingga ke luar negeri. Bila WNI, mereka kadang khuruj ke India, Eropa, Afrika, Amerika, Malaysia, atau negeri-negeri lain. Di Indonesia, khususnya masyarakat kota, lebih mudah menemukan anggota jamaah tablig WNA dalam rombongan, misalnya dari Pakistan, Banglades dan sebagainya.

Sedang khuruj bagi sastrawan anggota jamaah tablig, tampaknya juga adalah serupa penziarahan. Proses kreatif yang tak lapuk. Hasilnya, adalah kenangan-kenangan. Pada titik ini, rebut kembali kenangan dan mempertahankannya adalah fardhu ‘ain, bukan lagi fardhu khifayah.

UPMR dan Tabligh

Saya tunak membaca cerpen-cerpen dalam buku kumpulan cerpen Ulat Perempuan Musa Rupat (UPMR) karya Norham Abdul Wahab. Bahkan, bila saya rasa kurang tumakninah dan khusuk membacanya, saya kembali berwudhu. Terutama terhadap hal-hal yang memantik renung dan tafakur saya. Kesah-kesah dalam buku UPMR ini kerap membuat saya menggigil. Khususnya membaca “ulat sufi” dalam cerpen “Ulat Al-Hajjaj” dan “Ulat Tokak” yang terus mengaduk sisi terdalam ghirah ketauhidan saya. Dan pada kesah-kesah lain, dalam cerpen yang lain, selalu yang muncul adalah ghirah jihad.

Dalam bahasa “Pengantar Pembacaan” yang diberikan penyair sufi Amien Wangsitalaja (sekarang bermastautin di Samarinda, berkhidmat di Kantor Bahasa Kalimantan Timur), dengan meminjam istilah pergerakan, disebut sebagai “elan jihad”. Tadarus ulat mampu menggeser duduk sila kita, serupa para sufi yang langsung pingsan memandang bara api, tersebab takutnya dengan api neraka. Tapi, kesah-kesah dalam cerpen ini laisa sastra sufi semata-mata.

Pada beberapa bagian, tampak kuat menyokong dakwah Islam, tablig dan khuruj fi sabilillah. Karenanya, kesah-kesah dalam buku ini tak cukup disebut hanya sebagai Sastra Islami, seperti umumnya saya kenal pada karya-karya Helvy Tiana Rosa Wa Akhwatuha. Tampak sekali, beberapa kesah bergaya pesantren juga muncul, seperti “Mbah Sukiman dan Mbah Rukini sedang berjemaah”, “Ndaru sedang berdiri khusuk menghadap kiblat”, padahal mereka semua telah almarhum.

Inilah “sastra tabligh”. Kenangan yang diwujudkan adalah mabuk Allah, makrifatullah. Sekaligus, transendensi tersebut menyokong kepada mabuk perubahan: transformasi. Rindu peradaban makrifatullah dalam makna yang luas, yang tauhid, yang Allah SWT adalah satu-satunya, dan hanya satu. Tidak ada yang melampauinya. Bukan peradaban yang dikuasai oleh nafsu duniawi, materialistis, kesekuleran yang menjebak, cinta harta benda yang membutakan, dan tautan nafsu asmara yang melenakan. Kesah demi kesah dalam UPMR ini menyorong wajah ke arah wajah-Nya, lewat peristiwa G-30S-PKI, pembangunan NYIA (New Yogyakarta International Airport), dan taburan kemajuan yang menggerus kenangan di kampung halaman.

Syekh NhAW tampak menggeretak giginya, di balik senyum manisnya. Menggelegak darahnya di balik gamis santunnya: memandang kemungkaran dan kemaksiatan di atas pembangunan dan kemajuan zaman yang kian materialistis dan menjauh dari wajah-Nya. Ada perlawanan terhadap pembangunan bandara NYIA, misalnya, namun bukan perlawanan ala kaum Marxis, kelompok kiri yang menekankan perlawanan dalam perspektif ekonomi-politik. Ini sastra tabligh. Gema jihadnya tampak kuat, namun mengalun santun.

Di cerpen “Ndaru” (NYIA), misalnya, apa namanya yang paling tepat, seorang pemilik lahan menolak menjual tanahnya dengan harga paling mahal. Dan sebaliknya, akan memberikan dengan cuma-cuma kepada ngarsa dalem Sri Sultan Hamengku Buwono, eh Bawono, sebagai umara’ wilayah Ngayogyakarta? Yang punya lahan, Ndaru (bernama asli, Darussalam), hanya ingin “barter” untuk mendapatkan cinta-Nya. Mendekap segala kenangan bersama-Nya. Hanya dengan cara, lahan tersebut digunakan sebagai lokasi pembangunan masjid bandara.

Luas lahannya lebih besar dari rencana semula, dan diberikan gratis cuma-cuma. Hanya saja, ngarsa dalem dan investor pengelola pembangunan bandara (NYIA) mengubah siteplant, peta pembangunan bandara, beberapa meter dari rencana awal lokasi masjid didirikan. Ghirah jihad, elan jihad, macam begini yang disuguhkan dan disuarakan “sastra tabligh” kepada pembaca. Jihad sejati yang menyuarakan kebenaran kepada penguasa tirani.

Hal yang sama juga tampak dalam cerpen “Selepas Subuh’ (Ternyata, Istriku Gerwani). Pada peristiwa 1965, cara berdamai mana lagi yang lebih indah daripada dinarasikan dengan gemulai dalam cerpen ini? Seorang tentara, algojo pemburu dan pembantai berdarah dingin, memungut nyawa demi nyawa anggota PKI, yang daftar namanya tertera pada kertas yang selalu digenggamnya. Namun kemudian, tentara haus darah ini menyunting dan menikahi seorang wanita Gerwani, bahkan tokoh utama Gerwani di wilayah itu, ketika itu, yang juga berdarah dingin dan melakukan pembantaian. Ini cinta macam apa?

Tentara yang sekuler, sebagai suami, dan istri yang tokoh Gerwani, lebih memilih (atau memperoleh) akhir hidup yang husnul khotimah, dengan cara bertaubat dan membangun masjid di lahan miliknya. Serta mengisi hari-hari tua mereka dengan banyak beribadah dan dzikir hingga sakaratul maut tiba. Padahal, lahan itu, telah ditawar dengan harga berapa saja, untuk dibeli sebuah organisasi politik di Jakarta. Ini cinta macam apa?

Ini sastra tablig, yang lahir dari penziarahan panjang kehidupan bernama khuruj fi sabilillah dan pertaubatan, yang melahirkan kenangan-kenangan transendental dan mendobrak.  Tazkiyatun nafs ke dalam, sekaligus menggerakkan ke luar. Merapatkan cinta kepada wajah-Nya, sekaligus membela sepenuh ghirah jihad bersama dhu’afa: melawan tirani kapitalis yang mengangkangi pembangunan di mana-mana. Seperti cerpen “Musa Rupat” yang dikesahkan, dan perlu dibaca berulang-ulang, dengan tunak. Tabik.***


KOMENTAR
Berita Update

HNSI Diharapkan Berkontribusi Terhadap Masyarakat
Kamis, 16 Agustus 2018 - 17:00 wib

Bupati Apresiasi Sosialisasi Gratifikasi
Kamis, 16 Agustus 2018 - 16:30 wib
95 Hektare Lahan Terbakar

95 Hektare Lahan Terbakar
Kamis, 16 Agustus 2018 - 16:00 wib
Cuaca Ekstrim Waspadai Karhutla

Cuaca Ekstrim Waspadai Karhutla
Kamis, 16 Agustus 2018 - 15:30 wib

Bupati Kukuhkan Anggota Paskibraka
Kamis, 16 Agustus 2018 - 15:00 wib
Belum Bisa Setop Konflik Perusahaan-Masyarakat

Belum Bisa Setop Konflik Perusahaan-Masyarakat
Kamis, 16 Agustus 2018 - 14:00 wib
Jembatan Siak IV
Ponton dan Crane Bersiap Jelang Penyambungan
Kamis, 16 Agustus 2018 - 13:30 wib
PPP: Ma’ruf Amin Tak Mengancam Jokowi

PPP: Ma’ruf Amin Tak Mengancam Jokowi
Kamis, 16 Agustus 2018 - 13:15 wib

Hari Ini, Bus Salawat Terakhir Beroperasi
Kamis, 16 Agustus 2018 - 12:40 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Agar Siswa Paham Dunia Literasi dan Musikalisasi Puisi

Kamis, 16 Agustus 2018 - 00:50 WIB

Puisi Inspirasi Tiada Henti

Minggu, 12 Agustus 2018 - 08:42 WIB

Spirit Lokal dari Ceruk Kampung

Minggu, 05 Agustus 2018 - 15:01 WIB

Masa Depan Yang Entah

Minggu, 29 Juli 2018 - 08:49 WIB

Jawaban

Minggu, 29 Juli 2018 - 08:16 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us