Depan >> Kolom >> Chaidir >>

Menuju Riau Berintegritas

Senin, 07 Agu 2017 - 09:29 WIB > Dibaca 244 kali | Komentar

RABU 9 Agustus 2017 esok lusa, Provinsi Riau memperingati Hari Jadi ke-60. Tema yang dipilih adalah “Menghulu Budaya Melayu, Menghilir Riau Berintegritas”. Bukan Riau namanya kalau tak piawai merangkai kata sarat makna. Selintas, tema ini menyiratkan keakraban masyarakatnya dengan aktivitas sungai, sebentar ke hulu dan sebentar ke hilir, mendayung ke tengah ke tepi berkecipak kecipung.

Wajar. Riau memang sepantun sungai dan pantai. Sebab provinsi ini dialiri empat sungai besar yang berhulu di punggung Bukit Barisan dan berkuala di Selat Melaka; masing-masing yaitu Batang Rokan, Batang Kampar, Sungai Siak dan Sungai Indragiri yang di bagian hulunya bernama Batang Kuantan.

Sejarah mencatat, peradaban masyarakat Riau bermula dari kampung-kampung di tepi sungai dan di tepi pantai. Di sanalah manusia-manusia nomaden itu bermukim, berkembang dan bermasyarakat. Tidak ada moda transportasi lain kecuali transportasi air. Semua, arus orang barang diangkut melalui sungai. Hasil hutan dan hasil tanaman diangkut dari hulu ke hilir, sebaliknya keperluan pokok diangkut dari hilir ke hulu.

Dalam perspektif dunia industri dikenal istilah hulu-hilir. Industri hulu, yaitu industri yang hanya mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi. Industri ini sifatnya hanya menyediakan bahan baku untuk kegiatan industri yang lain. Misalnya: industri kayu lapis, industri alumunium, industri pemintalan, dan industri baja. Industri hilir, yaitu industri yang mengolah barang setengah jadi menjadi barang jadi sehingga barang yang dihasilkan dapat langsung dipakai atau dinikmati oleh konsumen. Misalnya: industri pesawat terbang, industri konveksi, industri otomotif, dan industri meubeler.

Logika industri tentu saja tak sesuai untuk dipadankan dengan logika hulu-hilir dalam kebudayaan. Namun dalam pemahaman secara umum, hulu sungai adalah tempat munculnya mata air yang bening, jernih, dan bersih, belum tercemar. Semakin mengalir jauh ke hilir, air itu semakin keruh akibat dicemari lingkungan. Dalam logika ini, budaya Melayu itu pada awalnya adalah kebudayaan yang bersih belum tercemar oleh budaya-budaya luar yang datang kemudian. Maka dengan demikian, “menghulu budaya Melayu” agaknya bisa diartikan ibarat mengangkat batang terendam. Mengangkat kembali ke permukaan teras kebudayaan Melayu (yang masih murni) sehingga bisa dipedomani dalam realitas kehidupan yang semakin hari —ibarat sungai—  makin tercemar.

Tentu saja upaya mengangkat batang terendam itu menjadi sebuah dilema, sebab pada sisi lain kita dihadapkan pada masyarakat yang semakin dinamis yang setiap saat dituntut kreatif menghasilkan inovasi. Atau, kebudayaan Melayu yang kita banggakan itu dianggap kontraproduktif, tak mampu menjawab tantangan zaman.

“Menghilirkan Riau Berintegritas” adalah penggalan tema yang tak kalah menarik. Kata kuncinya adalah integritas. Integritas adalah kesetiaan atau ketaatan terhadap nilai moral dan prinsip kebenaran yang dijunjung tinggi; jujur, tulus. Riau memiliki tunjuk ajar amat banyak tentang integritas, tentang keutamaan kejujuran, ketaatan, kesetiaan, keikhlasan, dan kebersihan hati.

Orang tua-tua mengatakan, siapa jujur, hidupnya mujur. Orang Melayu berusaha senantiasa menanamkan sifat jujur kepada anak-anaknya sejak dini. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang jujur, ikhlas, lurus dan bersih hati dihormati dan disegani oleh masyarakat. Dalam ungkapan tunjuk ajar Melayu (Tenas Effendy, 2004), keutamaan kejujuran digambarkan tidak kurang dari 103 ungkapan dan 35 pantun. Misalnya, apa tanda Melayu jati, lurus dan jujur sampai ke hati; apa tanda Melayu jati, hidupnya jujur sampai mati; apa tanda Melayu terbilang, jujurnya sampai ke sumsum tulang. Salah satu pantun dalam syair Melayu: Wahai Ananda buah hati bunda/hiduplah jujur jangan durhaka/jauhkan bohong haramkan dusta/supaya hidupmu tiada ternista.


Maka tak salah perhelatan peringatan Hari Antikorupsi Internasional (HAKI) Desember 2016 lalu, Riau terpilih sebagai tuan rumah dan dibangun pula sebuah Monumen Integritas yang terletak di tengah Kota Pekanbaru. Sayangnya, pembangunan Monumen Integritas itu kemudian ternyata tak berintegritas, terindikasi korupsi. Integritas, ternyata mudah diucapkan tetapi sulit dalam pelaksanaannya. Dirgahayu Riau.***


KOMENTAR

Follow Us