Aliran Keluar Dana Asing Berlanjut
Kamis, 26 April 2018 - 11:57 WIB > Dibaca 328 kali Print | Komentar
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Kegugupan pasar keuangan tidak hanya terlihat dari bergejolaknya nilai tukar. Indeks harga saham gabungan (IHSG) kemarin anjlok cukup dalam, yakni 2,4 persen, menuju level 6.079,85. Investor asing mencatat jual bersih (nett sell) Rp 1,96 triliun di seluruh pasar. Dalam sepekan terakhir, asing juga mencatat nett sell Rp3,65 triliun.

Beberapa hari belakangan, IHSG yang merupakan barometer papan utama pasar saham di bursa Jakarta memang sering bergerak di zona merah. Saham-saham di sektor keuangan terkoreksi paling dalam dengan penurunan 4,07 persen.

Selain karena penguatan dolar AS, jebloknya IHSG kemarin dibayangi gejolak harga minyak dunia. Dari dalam negeri, sentimen datang dari panjangnya hari libur nasional pada Juni mendatang yang mengakibatkan dana investor di pasar modal tidak berputar hingga 2 pekan. ”Saya rasa ini rekor bursa tutup selama itu tanpa ada kejadian luar biasa apa pun,” kata Dirut Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio di Jakarta kemarin.

Ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menilai, pendalaman pasar keuangan sangat diperlukan. Sebab, ketika tertiup sentimen negatif, nilai tukar maupun indeks saham masih mudah terguncang. Akibatnya, dana-dana asing pun keluar. ”Bagaimana tidak, 40 persen dana di pasar surat utang Indonesia itu milik asing. Lalu, di saham, 60 persen milik asing,” katanya.

Dia menyarankan pemerintah dan regulator agar membuat instrumen yang terjangkau dan beragam sehingga mampu memperbanyak dana investor lokal, terutama investor ritel, untuk masuk di pasar modal dan surat utang. Sementara itu, untuk menjaga nilai tukar agar lebih stabil, BI masih kesulitan jika berharap pelaku ekspor dan impor menggunakan mata uang lain seperti baht Thailand dan ringgit Malaysia untuk berbisnis.

Yang paling mungkin baru yuan alias renminbi Cina  yang menjadi favorit pebisnis. Sebab, likuiditasnya lebih banyak dan mudah dicari.

”Tapi, niat BI untuk me­ngampanyekan mata uang selain dolar AS itu bagus, cuma efeknya masih jangka panjang sekali dalam memengaruhi permintaan dolar AS di pasar,” urainya.

Direktur Treasury & International Banking PT Bank Mandiri Tbk Darmawan Ju­naid mengungkapkan, perbankan berupaya menyediakan likuiditas mata uang selain dolar AS. Di Bank Mandiri, transaksi dalam mata uang yuan merupakan valas kedua terbesar yang difasilitasi Bank Mandiri.

Pada kuartal I 2018, transaksi dengan mata uang yuan tumbuh 59 persen dari periode yang sama tahun lalu. Jumlahnya mencapai CNY 601 juta. (rin/ken/c10/sof/das)
KOMENTAR
Berita Update

Hotel Dafam Tawarkan Promo Merdeka Package
Jumat, 17 Agustus 2018 - 14:15 wib
Hadirkan Layanan Purnajual Terbaik bagi Konsumen
MMKSI Luncurkan Service Booking Card
Jumat, 17 Agustus 2018 - 14:01 wib
Perda Pengelolaan Sampah
September, Wako Minta Denda Rp2,5 Juta Diterapkan
Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:43 wib
Arbi Hidayat Terpilih Ketua PC Sapma PP
Sapma PP Pekanbaru Gelar Muscab I
Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:39 wib
Sehat Bersama Awal Bros Panam
Mau Merdeka dari Penyakit? Lakukan MCU
Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:29 wib

7 Hektare Lahan Terbakar
Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:00 wib
Alamaaak!
Batal Borong
Jumat, 17 Agustus 2018 - 11:54 wib

Karnaval Berlangsung di Tengah Terik Matahari
Jumat, 17 Agustus 2018 - 11:37 wib

Revisi Perda Tempat Hiburan
Jumat, 17 Agustus 2018 - 11:24 wib

Truk Bertonase Besar Leluasa Masuk Kota
Jumat, 17 Agustus 2018 - 11:02 wib
Cari Berita
Ekonomi-Bisnis Terbaru
Hotel Dafam Tawarkan Promo Merdeka Package

Jumat, 17 Agustus 2018 - 14:15 WIB

MMKSI Luncurkan Service Booking Card

Jumat, 17 Agustus 2018 - 14:01 WIB

Belum Bisa Setop Konflik Perusahaan-Masyarakat

Kamis, 16 Agustus 2018 - 14:00 WIB

SBT Promo Merdeka

Kamis, 16 Agustus 2018 - 09:38 WIB

Wonderful Harmony of Riau Berlangsung di 10 Mal

Kamis, 16 Agustus 2018 - 09:33 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us