Dan/Atau

16 Februari 2014 - 09.02 WIB > Dibaca 5307 kali | Komentar
 
Dan/Atau
Selasa, 7 Januari 2014, lalu Anas Urbaningrum kembali tidak memenuhi panggilan kedua penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada pemanggilan pertama (31 Juli 2013), Anas pun tidak datang karena sakit. Konon, ketidakhadiran Anas atas panggilan kedua penyidik KPK disebabkan oleh ketidakjelasan penetapan status tersangka Anas dalam kasusnya. Peristiwa itu membuat pihak KPK berang. Lembaga rasuah itu lalu melayangkan surat p(em)anggilan ketiga sambil melontarkan ancaman akan menjemput paksa Anas (oleh pasukan Brimob) jika tidak memenuhi panggilan penyidik KPK untuk diperiksa.

Alhamdulillah, ancaman KPK itu tidak terwujud. Jumat, 10 Januari 214, mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu memenuhi panggilan KPK. Bahkan, hingga kini Anas Urbaningrum (yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK sejak 22 Februari 2013 itu) masih menghuni salah satu kamar di rutan KPK.

Apa sesungguhnya yang membuat penetapan status tersangka Anas dalam kasusnya dianggap tidak jelas? Menurut pihak Anas, penyebabnya terdapat pada surat perintah penyidikan (sprindik) yang sumir. Dalam sprindik itu, konon, terdapat frasa (kelompok kata) yang berbunyi ... dan/atau proyek-proyek lainnya. Frasa itulah yang dianggap sumir karena tidak diikuti keterangan yang jelas (tidak menyebutkan nama proyek secara eksplisit). ‘’Sebenarnya penyidik bisa saja menuliskan dengan jelas korupsi apa yang dituduhkan kepada Anas. Tapi, hal itu tidak juga dilakukan,’’ demikian komentar Adnan Buyung Nasution (pengacara Anas) tentang hal itu.

Terlepas dari persoalan benar-tidaknya sprindik itu (secara hukum), ada masalah lain yang (juga) penting diperhatikan, yakni penggunaan dua kata (peng)hubung secara bersamaan: dan/atau. Sudah tepatkah penggunaan dan/atau dalam sprindik KPK itu?

Pada dasarnya, pernyataan yang mengandung dan/atau dapat diperlakukan sebagai dan, dapat juga diperlakukan sebagai atau.

Tanda garis miring (/) mengandung arti pilihan. Jika ada pernyataan A dan/atau B, misalnya, berarti ada dua kemungkinan tafsir utama: A dan B atau A atau B. Dengan demikian, jika diterapkan pada kasus Anas, sprindik KPK itu juga memiliki dua kemungkinan tafsir utama, yaitu (1) Anas terlibat dalam kasus proyek Hambalang dan proyek-proyek lainnya atau (2) Anas terlibat dalam kasus proyek Hambalang atau proyek-proyek lainnya. Tafsir (1) mengasumsikan bahwa Anas terlibat dalam beberapa kasus: tidak hanya dalam proyek Hambalang, tetapi juga dalam proyek-proyek lainnya. Sementara itu, tafsir (2) mengasumsikan bahwa Anas hanya terlibat dalam satu kasus: hanya dalam kasus proyek Hambalang atau hanya dalam kasus proyek-proyek lainnya.

Artinya, karena bersifat pilihan, tafsir (2) masih menyisakan ruang tafsir baru atas status tersangka Anas dalam kasusnya: ada kemungkinan Anas tidak terlibat dalam kasus proyek Hambalang. Padahal, opini publik telah terbentuk, bahwa Anas telah ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam kasus megaproyek yang juga telah menyeret para mantan petinggi Partai Demokrat (Nazaruddin, Angelia Sondakh, dan Andi Malarangeng) itu.

Dari segi bahasa, penggunaan dan/atau (ditulis menggunakan tanda garis miring; tidak ditulis dan atau) sudah sesuai dengan kaidah tata tulis (ejaan) bahasa Indonesia. Masalahnya terletak pada (tata) makna. Dalam konteks sprindik, makna dan/atau menjadi tidak pas karena tuntutan sprindik yang harus jelas/pasti menyebutkan jenis kasusnya. Sementara itu, dan/atau justru menawarkan pilihan-pilihan, yang mengarah pada ketidakpastian. Oleh karena itu, andai Anas memang diduga tidak hanya terlibat dalam kasus Hambalang, sprindik itu tidak perlu menggunakan dan/atau (tetapi cukup dan): ... dan proyek-proyek lainnya.

Kalaulah secara hukum masih dianggap tidak jelas (karena tidak menyebut nama proyeknya), secara bahasa kelompok kata itu tetap memberi kepastian bahwa Anas memang diduga terlibat dalam kasus Hambalang dan proyek-proyek lainnya.

Dengan kata lain, jika sprindik itu menggunakan dan/atau, semua kasus yang disangkakan kepada Anas menjadi (semakin) tidak jelas. Semuanya masih dalam kemungkinan: mungkin Hambalang dan proyek-proyek lainnya, mungkin (hanya) Hambalang, atau mungkin pula (hanya) proyek-proyek lainnya.

Apakah hal itu dilakukan KPK karena semata-mata berpedoman pada asas praduga tidak bersalah? Tidak juga. Umumnya, asas praduga tidak bersalah itu diungkapkan dengan kata diduga, bukan dengan dan/atau dalam penyebutan kasus.

Dan/atau ternyata juga banyak digunakan dalam teks/naskah peraturan dan perundang-undangan. Penggalan kutipan Pasal 310 Ayat (3) Undang-Undang Lalu Lintas Angkutan Jalan (UU LLAJ) berikut ini, misalnya, memperlihatkan hal itu.

(3) ... dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).

Tafsir ayat itu adalah bahwa pelanggar dapat diancam dengan tiga kemungkinan pidana: (a) dua pidana sekaligus: pidana penjara (paling lama lima tahun) dan pidana denda (paling banyak Rp10.000.000,00); (b) pidana penjara (paling lama lima tahun) saja; atau (c) pidana denda (paling banyak Rp10.000. 000,00) saja. Artinya, di pengadilan, hakim pun hanya dapat menjatuhkan hukuman dalam tiga kemungkinan: (a), (b), atau (c).

Begitulah, meskipun sama-sama bersifat pilihan, tafsir dan/atau pada sprindik Anas berbeda dengan tafsir dan/atau pada Pasal 310 Ayat (3) UU LLAJ. Dan/atau pada sprindik Anas menyiratkan kebelumpastian: mungkin (a), mungkin (b), mungkin pula (c), sedangkan pada UU LLAJ masih menjanjikan kepastian: jika bukan (a), pasti (b) atau (c).
Salam. ****

Agus Sri Danardana
Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 24 Juni 2018 - 14:35 wib

Setelah 61 Tahun, Perempuan Arab Saudi Akhirnya Mengemudi

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:32 wib

Berencana Lakukan Aksi Teror di Pilgub Jabar

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:30 wib

Tips Menjaga Kesehatan dalam Perjalanan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:27 wib

Jumlah Pemilih 186.379.878 Jiwa

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:19 wib

Pilkada, 170 Ribu Polisi dan Ribuan TNI Diturunkan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:04 wib

Meksiko Berhasil Atasi Korea Selatan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:02 wib

Xiaomi Mi Max 3 Tampil dengan Layar Lebar

Minggu, 24 Juni 2018 - 13:59 wib

Sofa cushion Bikin Susah Beranjak

Follow Us