Depan >> Berita >> Hukum >>
DUGAAN MERINTANGI PENYIDIKAN
Kata Direktur RS Medika, Seharusnya Malam Itu Novanto Masuk Lewat IGD, tapi...
Senin, 16 April 2018 - 19:00 WIB > Dibaca 450 kali Print | Komentar
Kata Direktur RS Medika, Seharusnya Malam Itu Novanto Masuk Lewat IGD, tapi...
Setya Novanto. (JPG)
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Terdakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto seharusnya melewati Instalasi Gawat Darurat (IGD) pasca mengalami kecelakaan tunggal pada 16 November 2017 lalu.

Akan tetapi, menurut Direktur RS Medika Permata Hijau, Hafil Budianto Abdulgani, mantan ketua DPR itu langsung masuk ruang rawat VIP tanpa melewati IGD.

"Bahwa kejadian dari pasien (Novanto) dengan diagnosa hipertensi. Ada konotasi hipertensi emergency. Dalam arti kata gawat darurat," ucapnya saat bersaksi di persidangan perkara merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa dokter Bimanesh Sutarjo, di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (16/4/2018).

Dia menyebut, ada dua jalur seorang pasien bisa masuk ke ruang rawat, yaitu IGD dan poliklinik. Akan tetapi, karena malam itu Novanto diduga mengalami kecelakaan, seharusnya ia masuk melalui jalur IGD.

"Lalu ada kecelakaan yang mengakibatkan cidera. Bila ada konotasi emergency, baik itu hipertensi maupun kecelakaan, maka penanganannya kami memiliki IGD. Jadi, alur pasien masuk adalah IGD," sebutnya.

Adapun di persidangan sebelumnya terungkap bahwa dokter jaga IGD yakni, dokter Michael Chia Cahaya menolak memeriksa Novanto. Dia memerintahkan Novanto agar langsung dibawa ke ruang rawat VIP 323 atas saran dari Bimanesh.

Meski begitu, Hafil tak bisa menyalahkan Michael lantaran ada permintaan dari mantan kuasa hukum Novanto, Fredrich Yunadi agar dibuatkan surat pengantar rawat inap dari IGD dengan diagnosa kecelakaan meski saat itu Novanto belum tiba di rumah sakit.

"Rumah sakit punya peraturan. Di situ disebutkan dokter boleh menolak kemauan pasien. Apalagi menurut dokter Michael yang datang bukan pasien. Yang datang lawyer. Makanya dia menolak. Logika saya sebagai dokter, jika saya tidak melihat pasien saya, tidak mendengar permintaan pasiennya maupun keluarga, maka menolak (membuat surat rekomendasi rawat inap)," terangnya.

Bimanesh dalam perkara itu didakwa telah melakukan rekayasa agar Novanto dirawat inap di RS Medika Permata Hijau untuk menghindari pemeriksaan penyidik KPK saat menjadi tersangka kasus e-KTP.

Dia diduga telah melakukan rekayasa kesehatan Novanto bersama dengan pengacara Fredrich Yunadi. Dia diduga melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP. (rdw)

Sumber: JPG
Editor: Boy Riza Utama
KOMENTAR
Berita Update

Hotel Dafam Tawarkan Promo Merdeka Package
Jumat, 17 Agustus 2018 - 14:15 wib
Hadirkan Layanan Purnajual Terbaik bagi Konsumen
MMKSI Luncurkan Service Booking Card
Jumat, 17 Agustus 2018 - 14:01 wib
Perda Pengelolaan Sampah
September, Wako Minta Denda Rp2,5 Juta Diterapkan
Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:43 wib
Arbi Hidayat Terpilih Ketua PC Sapma PP
Sapma PP Pekanbaru Gelar Muscab I
Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:39 wib
Sehat Bersama Awal Bros Panam
Mau Merdeka dari Penyakit? Lakukan MCU
Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:29 wib

7 Hektare Lahan Terbakar
Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:00 wib
Alamaaak!
Batal Borong
Jumat, 17 Agustus 2018 - 11:54 wib

Karnaval Berlangsung di Tengah Terik Matahari
Jumat, 17 Agustus 2018 - 11:37 wib

Revisi Perda Tempat Hiburan
Jumat, 17 Agustus 2018 - 11:24 wib

Truk Bertonase Besar Leluasa Masuk Kota
Jumat, 17 Agustus 2018 - 11:02 wib
Cari Berita
Hukum Terbaru
Luna Maya dan Cut Tari Tetap Tersangka

Rabu, 08 Agustus 2018 - 11:12 WIB

Zulkifli Tertawa Ditanya Emas Batangan

Rabu, 08 Agustus 2018 - 10:33 WIB

Pelaku Aborsi Dipindahkan ke Polresta

Senin, 30 Juli 2018 - 10:03 WIB

Tim Khusus Dibentuk Polri untuk Usut Laporan Eks Danjen Kopassus
Adik Kandung Ketua MPR Membisu saat Tiba di Gedung KPK
Sagang Online
loading...
Follow Us