Memancing

16 Februari 2014 - 08.59 WIB > Dibaca 5937 kali | Komentar
 
Sekarang hujan baru saja selesai. Di luar sana, jembatan kayu rumah kami terlihat masih basah. Selain ada beberapa serakan pasir yang tidak terlalu tinggi, ada juga genangan air pada sekeping papan yang permukaannya melengkung. Udara menjadi dingin. Sepertinya kampung tempat tinggal kami tidak berpenghuni, senyap. Dan juga gelap.

Beberapa kali terdengar hempasan gelombang di bawah rumah. Maklum, perumahan yang berdiri di atas permukaan laut dengan menggunakan tiang beton sebagai pondasi, membuat kami sudah tidak asing lagi mendengar bunyi hempasan gelombang. Ini bukan saja disebabkan oleh air pasang naik, akan tetapi juga saat lewatnya pompong masyarakat untuk mencari ikan ke laut, bunyi desau gelombang biasa melintas di bawah rumah. Sayangnya, ketika desau gelombang yang kerap datang itu memulai pertunjukannya, sudah dapat dipastikan bahwa banyak ikan akan bertabur entah ke mana. Ikan-ikan itu takut. Baru setelah gelombangnya mereda, ikan-ikan kecil di bawah rumah akan terlihat kembali bermain.

Biasanya di belakang rumah kami akan terlihat banyak ikan saat air mulai naik pasang. Ini karena di belakang rumah kami tempat membuang sisa-sisa sampah dapur. Ada remah-remah nasi, tulang-tulang ikan sisa makan malam keluarga, juga beberapa perut ikan yang sengaja di buang karena tidak bisa diolah menjadi makanan. Semua itu bagus untuk memancing agar ikan-ikan terus berdatangan. Ya, saya akan memancing ikan. Sendiri, tanpa ditemani oleh siapa pun.

Kalau pun mau memancing, jangan sekarang. Air sedang keruh. Ini suara Samsul mengingatkan. Kawan saya itu memang ahli dalam hal memancing, terutama sekali di laut. Tak kira di belakang rumah atau pun di laut lepas, Samsul adalah ahlinya. Padahal saya sudah siap untuk memancing.

Ada beberapa potongan cumi-cumi kecil yang sudah menumpuk di dalam mangkok. Cumi-cumi itu sengaja saya potong untuk dijadikan umpan. Dan dua gulungan tali pancing yang sudah terikat rapi, kuat, berat, tersedai di dalam tas. Semuanya sudah siap.

Malam ini kau tidak akan mendapatkan ikan. Percayalah. Samsul kembali bertemberang.

Sebelumya dia memang telah memperhatikan air di belakang rumah. Sementara saya waktu itu, masih duduk mengaji di bangsal depan. Tidak sedikit pun di pikiran saya akan terlintas seperti yang Samsul ucapkan. Dapat atau tidaknya ikan, semuanya tergantung pada rezeki yang diberikan oleh yang Maha Pemberi rezeki. Bukan Samsul.

Ya, lihatlah. Perkampungan kami adalah perkampungan di atas air. Setiap rumah yang ada telah berdiri kokoh sejak lama di atas air dengan beragam sisik ikan selalu menempel di lantai dapur rumah. Sisik itu bukan saja sebagai penanda bahwa kami adalah pemakan ikan, namun juga sebagai penangkap ikan ulung yang pernah dikenal manusia. Buktinya, sambil duduk di teras rumah yang menghadap ke laut, banyak saudara-saudara kami yang berhasil mendapatkan dua tiga ekor ikan hanya dalam beberapa jam. Tidak menunggu terlalu lama.

Tidak seperti sekarang, Samsul justru berkata lain. Saya tidak akan mendapatkan ikan. Apa pasal?

Kau lupa? Aku ini orang laut. Aku lebih tahu muka laut dibanding kau yang hanya duduk di rumah sambil tak sudah-sudah menulis di depan laptop. Apa kau sadar itu?

Saya diam. Lalu Samsul terus melanjutkan ocehannya. Untuk memancing diperlukan pelangkah, petuah. Bukan hanya keinginan untuk memancing.

Pelangkah? Petuah apa?

Samsul melirik jam di dinding. Sepertinya dia mau menunjukkan sesuatu, hanya saja masih menunggu tepat atau tidaknya waktu untuk memulai pembicaraan. Saya menunggu. Dan sejauh ini, sekedar diketahui, setelah hujan reda, jembatan papan di depan rumah masih basah, cuaca agak dingin bila hendak berlama-lama memancing ikan. Juga berangin.

Arus tidak sesuai untuk memancing. Biasanya kalau arus seperti ini, ikan akan malas untuk berkeliaran. Dia lebih memilih berdiam diri di terumbu karang.

Mana ada terumbu karang di belakang rumah. Saya membuncah.

Barangkali Samsul lupa. Rumah kami tidaklah seperti yang diceritakannya itu. Rumah kami berada sekitar 70 meter dari bibir pantai. Airnya agak dalam memang, bisa mencapai sebatas dada orang dewasa bila sedang pasang. Di dasarnya bersih, tidak ada karang. Yang ada hanya bekas-bekas tulang ikan, kulit kerang. Itu pun bekas makan keluarga yang memang sengaja dibuang ke laut. Tujuannya supaya ikan senang berkumpul di belakang rumah karena mendapatkan banyak makanan.

Ternyata Samsul malah berang. Dia bertanya soal asal usul segala kepada saya. Padahal sebelumnya kami hanya berbual biasa saja. Tidak ada sangkut paut dengan asal usul.

Memangnya kau ini tak tahu ya? Memangnya kau ni orang Melayu atau bukan? Matanya memerah. Dia menghembuskan nafas panjang. Lalu sambil berdiri di tepi tingkap, tangan melingkar ke belakang, Samsul bersuara. Orang Melayu itu banyak petuahnya. Untuk memancing, meminang, makan minum, sampai membuka ladang untuk berkebun, ada petuahnya. Kau tahu? Tidak bisa sembarang.

Duh, mengapa urusannya bisa sejauh ini? Padahal saya hanya mau memancing di belakang rumah. Tidak ada lain. Lagi pula di belakang rumah, dengan kondisi air pasang seperti sekarang, air pasang penuh, saya bersemangat untuk memancing. Bukan harus memikirkan ini itu. Apalagi harus berpetuah segala. Saya hanya tinggal membuka pintu belakang dan melemparkan tali pancing ke air. Selanjutnya menunggu ikan memakannya.

Aku katakan ada petuah karena Atok kita dulu telah berpesan.

Pesan? Apa yang orang tua itu pesankan dengan seorang lelaki pemalas bangun pagi seperti Samsul? Apa tak salah berpesan sesuatu ke orang yang untuk bangun sholat subuh saja terlalu berat itu? Tak salah?

Memancing itu harus melihat hari. Perhatikan dengan baik arah angin. Soal angin bertiup dari mana, itu menjadi soal. Tapi yang perlu diperhatikan apakah hembusan angin itu mempengaruhi gelombang? Bila mempengaruhi gelombang, permukaan air beriak-riak kecil kemudian membesar, itu tandanya kurang bagus untuk memancing.

Sudah sejak pagi cuaca di kampung kami memang tidak terlalu bersahabat. Terlalu cengeng. Sedikit-sedikit menangis.

Sedikit-sedikit menumpahkan air. Seluruh penghuni kampung lebih memilih berdiam diri dalam rumah masing-masing. Mereka enggan untuk ke luar rumah. Demikian juga saya, sama. Dengan cuaca yang terus hujan, kadang-kadang angin berhembus kencang, menjadikan pilihan di dalam rumah lebih seronok jika dibandingkan berada di luar.

Nah, kau lihatlah air laut itu? Tak tenang. Sergah Samsul.

Bagaimana mau tenang, angin kencang.

Ha, tahu pun.

Jadi mengapa?

Jangan memancing malam ini. Percuma.

Jangan memancing? Apa lelaki yang tak tahu sejuk itu tak tahu? Umpan sudah siap. Tali pancing sudah siap. Bahkan untuk urusan makanan kecil pun, sudah disiapkan. Bagaimana pula hendak membatalkan rencana besar ini? Akh, Samsul nak mencari pasal nampaknya.

Saya coba untuk mengalihkan pembicaraan. Ya, bagaimana kalau diajak bual soal perempuan? Barangkali Samsul akan tertarik. Tapi ketika saya sedang sibuk mengemas peralatan memancing sambil bertanya ini itu, Samsul justru kian jauh bercerita.

Dulu, ketika Atok memancing ikan di depan sana, di karang tengah, dia tidak banyak membawa umpan. Hanya ada dua ekor cumi-cumi. Lalu ketika dia menjatuhkan satu cumi-cumi ke laut, kau tahu apa yang terjadi?

Saya memang tidak tahu apa yang terjadi. Saya berterus terang pada Samsul.

Dia mendapatkan ikan besar yang di dalam perutnya penuh sesak dengan cumi-cumi. Cumi-cumi itu masih segar, seperti baru saja dimakan. Masih utuh.

Wou, saya membayangkan mata pancing yang saya pegang akan mendapatkan sama seperti Atok kami dulu memancing. Saya tidak perlu menuggu lama. Cukup menjatuhkan mata pancing yang diberi umpan cumi-cumi ke laut, akan ada ikan menyambarnya. Dan di dalam perut ikan itu, kalau boleh meminta, jangan cumi-cumi tapi telor ikan. Banyak.

Caranya? Menyesal saya bertanya seperti ini.

Memang budak Melayu satu ni tak dapat diharap. Masih belum tahu cara mendapatkan ikan seperti itu? Dasar!!!

Samsul beralih dari jendela ke meja makan. Kali ini dia membuka tudung saji. Samsul meraih seekor ikan goreng. Ni, kau lihat ini? Ini adalah ikan. Di dalam mulut ada selera. Setiap yang memiliki selera, pasti akan menginginkan pilihan. Memilih, kawan!!! Memilih!!!

Saya tak meresponnya. Saya terlanjur tersinggung. Memangnya saya bukan budak Melayu apa? Saya adalah budak Melayu yang sudah lama mencecap kehidupan ini. Diawali dengan sekolah di kampung halaman, melanjutkan ke perguruan tinggi di Pekanbaru sana, sampai sudah bekerja segala sekarang. Saya kira di dalam darah ini tak dapat dibuang uap Melayunya. Tapi Samsul meragukannya. Huh...

Ikan akan lebih memilih berada di dalam sarangnya, di dalam lubang karang dari pada harus bersusah-susah melawan arus yang kuat hanya untuk mencecap umpan di ujung kail. Ya, kalau dapat. Bagaimana kalau tidak? Hanya menelan air? Belum lagi resiko tertancap dengan ujung kail di sudut bibir, itu juga merupakan suatu pilihan. Kau harus tahu itu.

Ya, masalahnya aku bukan hendak memancing ke laut lepas sana, seperti yang kerap kau lakukan. Aku hanya ingin memancing di belakang rumah untuk melengkapi waktu. Jangan sampai waktu terbuang percuma, lebih baik memancing. Kalau dapat, kan lumayan. Saya harus optimis. Harus.

Ha, masih juga belum mengerti. Ih, suara Samsul meninggi. Sekarang ini bukan lagi persoalan dapat atau tidak dapat ikan. Bukan itu.

Saya sempat menjeling ke luar, ke belakang rumah yang membentang luas air laut. Air semakin meninggi. Buktinya, lantai terbawah tempat penampungan tong air rumah kami yang berada di bawah rumah, sudah hampir basah oleh air laut. Beberapa sampah pun terlihat hanyut ke darat. Hmm, ini pertanda air masih akan terus pasang.

Beberapa gelombang kecil silih berganti menghempas di antara tiang rumah. Dan angin, seperti yang dicakapkan oleh Samsul memang membuat permukaan laut beriak. Putih ombaknya menjadikan air sedikit keruh dari biasanya. Arus, memang seperti yang dicuap-cuapkan Samsul. Lelaki yang bersabuk kain itu memang tidak salah. Paling tidak dari tanda-tanda, mirip. Saya bercakap di dalam hati. Tak berani kuat-kuat.

Bayangkan, kata Samsul lagi, Dengan diam di dalam lubang atau di tepi karang yang teduh, tidak berarus, ikan lebih nyaman dari pada harus bersusah-susah. Tak perlu takut.

Kadang-kadang, saya terpikirkan hal yang sama dengan Samsul. Selain itu, setelah saya lihat ke bawah rumah dengan diterangi oleh lampu senter, memang tidak terlihat ikan. Airnya dalam, dan di permukaan ada riak-riak kecil. Sesekali dihiasi pula dengan gelombang menghentam tiang rumah. Hmm, bila begini, bukan hanya ikan yang malas ke luar, sepertinya saya pun malas.

Saya membayangkan bagaimana kalau cuaca seperti ini saya pergi melaut, seperti keturunan kami terdahulu. Wow, pasti menegangkan. Hentaman gelombang tinggi di haluan pompong menjadikan setiap manusia di atasnya seperti berada dalam mesin cuci. Sekali di goyang ke kiri, dan sekali waktu digoyang ke kanan.

Tapi saya sudah mempersiapkan semuanya. Saya tidak mungkin segampang itu terpengaruh bualan Samsul. Dia sengaja bercuap-cuap seperti penjual sayur yang setiap pagi melintas di jembatan rumah kami. Dia juga sengaja berusaha menggoyahkan keinginan saya agar tidak jadi memancing. Dia kira saya adalah anak kecil yang masih bisa dipengaruhi. Tidak. Pendirian saya sudah bulat. Malam ini, dengan cuaca seperti apa pun, saya akan tetap memancing ikan, walau hanya di belakang rumah.

Lagi pula, apa yang salah dengan memancing ikan di belakang rumah? Tidak ada yang salah. Bahkan beberapa malam sebelumnya, saya berhasil mendapatkan dua ekor ikan kirong. Dan menjelang subuh, dapat lagi seekor ikan ketambak. Semuanya menjadi tiga ekor. Kan lumayan untuk menambah lauk. Kami tidak perlu membeli ikan di pasar. Cukup menggorengnya sambil dilawan dengan sambal belacan. Akan bertambah-tambahlah saya makan. Rasanya masih gurih. Inikan lagi hanya dipengaruhi oleh bualan Samsul yang tak berdasar itu. Tak mungkin saya akan berhenti.

Saya membuka pintu selebar-lebarnya. Dan saya mulai mengeluarkan alat pancingan, umpan, segelas teh panas, dan roti. Di dalam hati saya berkata, Kita lihat saja siapa yang benar. Kau atau aku...

Saya memposisikan diri pada tempat yang agak terlindung dari angin malam. Maklum, anginnya sangat dingin. Belum lagi rintik-rintik hujan masih terasa membasahi atap daun rumah kami. Dan di remang-remang lampu rumah tetangga yang berjarak lumayan jauh itu, dapat saya perhatikan bahwa gelombang laut memang kuat. Tidak ada kesan akan menjadi tenang.
Ha, kau masih akan memancing?

Duh, mengapa suara Samsul terus membising?

Dengan menjawab pertanyaan Samsul melalui lemparan pertama tali pancing ke air, saya seolah ingin menunjukkan kepada lelaki bebal satu itu, bahwa rezeki bukan ditentukan oleh petuah akan tetapi Allah-lah yang menentukannya. Bila Dia berkehendak saya mendapatkan ikan, dua ekor atau pun tujuh ekor, saya pasti akan mendapatkannya. Namun bila Dia berkehendak lain, lain pulalah yang akan terjadi.

Baiklah, kalau kau masih tetap berkeras. Aku mau makan. Setelah itu, mau...

Mau ke rumah Azizah? Saya langsung memotong. Sementara tangan diusahakan tidak bergerak karena dalam posisi memagang tali pancing. Jangan sampai ada gigitan sakti dari ikan, saya justru melepaskannya begitu saja. Biar Samsul yang melepas pergi. Jangan ikan. Tak ada gunanya dia di rumah. Hanya mengacau saya saja. Biar dia pergi.

Tapi sebelum dia berlalu, masih saja mulutnya sempat berkata begini, Berteriaklah bila mendapatkan ikan. Aku ingin tahu kalau kau mendapatkan ikan.

Bagi saya, ini merupakan suatu tantangan. Dia mencabar saya.

Kita lihat saja nanti. Saya berkuat di dalam hati. Saya harus dapat.

Tali kembali saya periksa. Ah, umpannya habis. Ini pasti pertanda bagus. Kalau umpan habis, berarti dimakan ikan. Saya harus kembali mengaitkan umpan baru agar bisa dimakan lagi. Bila perlu umpan akan saya kaitkan dua iris. Baru selanjutnya menunggu. Menunggu dan menunggu.

Sementara malam terus beranjak tinggi. Beberapa rumah bahkan telah mematikan lampu. Mereka sudah beranjak tidur. Hanya tinggal satu dua rumah lagi yang masih menyalakan lampu. Itu pun rumah Wak Mawai, lelaki tua yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat jaring. Dia biasa bekerja hingga tengah malam untuk menyelesaikan jaring pesanan pembeli.
Dan saya masih menunggu tali pancingan di makan ikan. Sampai kapan? Entahlah.***

Terempa, 6 Desember 2013


Ellyzan Katan
kelahiran 16 Juni 1984 adalah alumni Universitas Islam Riau. Penulis novel Mimpi-mimpi May dan kumpulan cerpen Getah Damar. Sekarang menetap dan bekerja di Terempa, Kepulauan Anambas, Kepri. Dapat dihubungi di email; tanjakqu@gmail.com.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:38 wib

Cantik Dengan Kilau Warna Rose Gold

Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:30 wib

Pelamar CPNS Salah Unggah Informasi

Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:00 wib

STIE Syariah Bengkalis Wisuda 174 Lulusan

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:59 wib

Bangga Nyanyi Lagu Batak di Penutupan IMF

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:33 wib

Roro Fitria Sedih Belum Penuhi Wasiat Ibu

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:30 wib

Pelaku Judi Togel Ditangkap Polisi

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:12 wib

SMA Darma Yudha Juara 1 Lomba Fermentation di Malang

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:00 wib

Pilkades Serentak Digelar 12 Desember

Follow Us