Depan >> Kolom >> Chaidir >>

Kolektor Kecebong

Senin, 10 Jul 2017 - 10:53 WIB > Dibaca 2196 kali | Komentar

RIAUPOS.CO - BERUDU alias cebong alias kecebong tiba-tiba menjadi buah bibir. Gerangan mimpi apakah anak-anak itu? Mungkin mereka mimpi berenang sepuas-puasnya di kubangan luas tak bertepi, atau mungkin mimpi waktu tak bergerak, sehingga memberi peluang bagi mereka untuk selamanya tak kehilangan masa kanak-kanak yang menyenangkan. (Kan ada pepatah, “Besar berudu di kubangan, besar buaya di lautan”). Bila waktu bergerak, maka berudu itu akan mengalami metamorfosis menjadi katak. Ini bukan dongeng, atau hoax, tapi kisah nyata. Tidak banyak di antara satwa lemah sejenis di seluruh du­nia yang bernasib baik seperti kecebong Indonesia. Kecebong Indonesia beruntung karena digemari oleh Presiden Jokowi. Opo ora hebat? Seperti pernah menjadi viral di media maya, Presiden Jokowi ternyata oh ternyata, memiliki hobi yang terbilang aneh bin ajaib: suka memelihara kecebong dan katak. Hobi tersebut sudah bermula sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo dan tetap dijalani saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Konon, karena kesibukannya sebagai Presiden, hobi tersebut tak lagi bisa dilanjutkan. Kecebong yang dipelihara Presiden Jokowi tentu saja bermetamorfosis menjadi katak. Dan katak-katak inilah yang mengeluarkan suara. Dengan mendengar suara kodok itu, terlebih saat hujan, Presiden Jokowi mengaku merasakan ketenangan. “Supaya kalau malam ada suara kodok, kwang-kwong, kwang-kwong, kwang-kwong. Kan enak, jadinya fresh otaknya,” ujar Presiden Jokowi, suatu ketika. Sang putera bungsu Kaesang Pangarep (22), suatu kali buka rahasia hobi aneh ayahandanya di acara Mata Najwa (24/2/2016 lalu). “Bapak itu dua minggu sekali suka ambil kecebong di kolam. Dipelihara, jadi lebih banyak,” tutur Kaesang kepada pembawa acara Najwa Shihab. “Dipindahin, nanti jadi kodok,” tutur Kaesang yang disambut tawa penonton Mata Najwa di studio. Sebenarnya, tidak ada yang baru di bawah matahari. Dalam fenomena biologi, perubahan bentuk tersebut dari dulu sampai sekarang belum berubah. Telur-telur katak menetas jadi kecebong, kira-kira delapan pekan kemudian kakinya mulai tumbuh; seiring tumbuhnya kaki, ekor kecebong mulai mengecil dan bersembunyi. Sebagian menyebut ekornya dimakan oleh kecebong yang mulai lupa akan ekornya. Ketika sistem paru-paru mulai berkembang, insangnya mulai menghilang. Maka dunia kecebong tinggal sejarah, mereka berubah menjadi katak dewasa yang bisa hidup di dua dunia, di air maupun di darat. Metamorfosis dari kecebong menjadi katak itu sifat permanen, sekali menjadi katak mereka tak bisa berubah kembali menjadi kecebong. Begitulah kehidupan kecebong. Dalam Ensiklopedi Indonesia, kecebong disebut sebagai larva hewan amfibia; biasanya berekor hidup di air dan bernafas dengan insang; kecebong adalah anak katak. Hampir seluruh satwa amfibia Indonesia diwakili oleh katak dan kodok, yang menunjukkan keragaman ukuran, bentuk, dan perilaku. Satwa ini sering muncul dalam cerita rakyat dan seni, juga menjadi bagian penting ekosistem lahan basah dan bernilai sangat penting bagi manusia. Mereka menolong mengatur pertumbuhan hama pertanian serta menjadi petunjuk kesehatan lingkungan. Lalu apa hubungannya dengan topi hitam bertuliskan “Kolektor Kecebong” yang digunakan oleh Kaesang dalam beberapa kunjungan bersama ayahnya, apakah dimaksudkan untuk merepresentasikan hobi sang ayahanda mengoleksi kecebong atau menyindir pencitraan diplomasi sang ayah, atau menyindir haters alias pembenci Jokowi di medsos yang sering menyebut Jokowi sebagai kolektor kecebong? Multitafsir. Menariknya, Kamus Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia, Edisi Ketiga yang diperbaharui karya John M. Echols dan Hassan Shadily (2014), menyebut kecebong itu memiliki dua makna, pertama, jelas, adalah anak katak itu; kedua, bermakna sebagai obrolan, sebagai percakapan ramah-tamah (chitchat, small talk). Disebutkan, orang yang mengecebong berarti orang yang memberi iming-iming (lure with sweet talk). Mengecebongkan berarti membual tentang sesuatu (boast of something). Dan, pengecebong adalah pembual, mulut ember (blabber-mouth). Tafsir mana yang kita pakai? Kirim aku topinya, Kaesang, Please.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Ruhut Minta Semua Pihak Tak Salahkan Jokowi Terkait Pengadangan Anies

Ruhut Minta Semua Pihak Tak Salahkan Jokowi Terkait Pengadangan Anies

19 Feb 2018 - 18:45 WIB | 1890 Klik
GNPF Ulama Hormati Pengajuan PK Ahok

GNPF Ulama Hormati Pengajuan PK Ahok

19 Feb 2018 - 20:10 WIB | 1259 Klik
Ketika "Uang Panas" E-KTP Mengalir ke 11 Fraksi DPR

Ketika "Uang Panas" E-KTP Mengalir ke 11 Fraksi DPR

19 Feb 2018 - 17:10 WIB | 1228 Klik
Marak OTT Kepala Daerah Jelang Pilkada, Ini Penjelasan KPK

Marak OTT Kepala Daerah Jelang Pilkada, Ini Penjelasan KPK

19 Feb 2018 - 17:40 WIB | 1082 Klik
Sedang Hamil saat Ditangkap, Menantu Elvi Sukaesih Dapat Perlakuan Khusus

Sedang Hamil saat Ditangkap, Menantu Elvi Sukaesih Dapat Perlakuan Khusus

19 Feb 2018 - 20:00 WIB | 1010 Klik

Follow Us