Kegilaan Rusdi Kirana Terobos Vacuum

Senin, 12 Jun 2017 - 10:48 WIB > Dibaca 1330 kali | Komentar

Cina itu ibarat vacuum cleaner. Kita bisa kesedot. Cina tidak bermaksud menyedot pun, negara sekitarnya bisa kesedot sen­diri. Ekonominya.

Sekarang Cina lagi kelebihan kapasitas. Barang-barang mereka menjadi murah. Pabrik-pabriknya sudah terlalu banyak. Dan terlalu besar. Pabrik apa pun. Bidang apa pun. Benar-benar kelebihan pabrik. Kebesaran pabrik. Tanpa bermaksud membanjiri negara lain pun, banjir produk Cina terjadi dengan sendirinya.

Apa yang harus kita perbuat? Marah? Menghancurkan me­sin vacuum cleaner itu? Menyumbat slangnya? Agar kita tidak kesedot?

Rasanya akan sia-sia. Bahkan destruktif. Untuk kedua belah pihak. Terutama untuk kita sendiri. Tidak realistis. Ibarat membuat asap dengan cara membakar diri sendiri.

Kita harus menyesal. Dulu. Dulu sekali. Sekitar tahun 2005. Kita tidak mau memanfaatkan kebijakan ”rukun tetangga” dari Cina. Malaysia-lah, dan terutama Thailand, yang panen raya. Pejabat kita waktu itu tidak tahu bahwa ada kebijakan ini: Cina membuka diri secara khusus untuk menerima produk pertanian dari negara tetangga. Tarif pajaknya khusus. Seperti sayur dan buah tertentu.

Kebijakan itu disebut early harvest policy. Sayang, kita melewatkannya begitu saja. Justru kita kebanjiran buah dari Cina.

Kita terlambat. Tapi, kesempatan masih luas. Penduduk Cina terlalu besar: 1,3 miliar. Nafsu makannya terlalu baik: perlu makanan apa saja. Mereka pun mampu membelinya.

Semua orang kuat punya titik lemahnya sendiri. Cina sekalipun. Ia tidak bisa menghasilkan ”buah tropik” atau ”sayur tropik”. Titik itulah yang harus kita totok dengan kekuatan totok yang telak.

Perkebunan buah tropik harus menjadi kekuatan utama kita. Harus jadi senjata totok yang kuat.

Entah siapa yang akan bisa jadi panglima di sektor itu. BUMN? Yang dulu sudah mulai tanam pisang, manggis, jambu, dan durian secara besar-besaran? Apa kabar perkembangannya?

Titik lemah lainnya adalah ini: Orang Cina senang bepergian. Seperti kita juga. Berarti turisme. Bisa jadi senjata totok berikutnya. Kita tidak perlu bercocok tanam. Cukup tersenyum-senyum sepanjang tahun. Apa susahnya tersenyum? Ups, jangan-jangan tersenyum lebih sulit daripada bercocok tanam. Sebab, senyum yang diperlukan adalah senyum yang tulus. Dari bibir sampai ke hati. Bukan senyum plastik.

Panglima di sektor itu sudah ketahuan: swasta. Lion Air. Sudah teruji melakukan terobosan selama hampir satu tahun terakhir.

Terobosan Lion ini tidak main-main. Sulit dilakukan siapa pun: membuka penerbangan langsung ke jantung-jantung Cina. Dari dan ke Manado.

Adakah orang gila yang mau membuka penerbangan dari kota seperti Chongqing ke Manado? Selain Rusdi Kirana? Si pemilik Lion? Di mana itu Chongqing? Jangankan letaknya. Bagaimana mengucapkan nama kota itu saja tidak mudah.

Kota tersebut adalah kota pedalaman yang paling pedalaman. Dulu kota itu bagian dari Provinsi Sichuan. Lebih miskin daripada NTT. Kini Chongqing berdiri sendiri. Sebagai kota besar langsung di bawah pemerintah pusat. Penduduknya lebih dari 52 juta. Hampir dua kali penduduk Jatim. Gedung bertingkatnya melebihi gedung bertingkat di Surabaya, Bandung, Semarang, dan Medan yang dijadikan satu. Kotanya bergunung-gunung. Indah. Dibelah Bengawan Chang Jiang, sungai terpanjang ketiga di dunia.

Mungkin awalnya penduduk Chongqing juga tidak tahu di mana itu Manado.

Lion juga buka penerbangan langsung Manado–Wuhan. Kota pedalaman Cina yang lain lagi. Ibu kota Hubei. Provinsi yang berpenduduk sekitar 100 juta.

Gila. Empat kali seminggu Lion Air menerbangi Manado–Cina. Itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang kelebihan kapasitas. Singapura yang dulu dikenal pandai menyedot penumpang dari negara lain. Kini Lion dengan kelebihan kapasitasnya mencoba menyedot penumpang negara lain.

Tahun lalu saja, selama setengah tahun Lion bisa menyedot 40 ribu penumpang Cina. Dibawa ke Manado. Kota kecil itu sampai terkaget-kaget. Tahun ini, menurut perkiraan Dino Gobel dari North Sulawesi Tourims Board, bisa dua kali lipatnya. Ternyata mereka menyukai Pulau Lihaga yang masih perawan. Bukan Bunaken.

Saya kagum pada langkah Lion tersebut. Itulah usaha nyata untuk ”melawan” Cina secara benar.***

KOMENTAR
BERITA TERBARU
Pjs Bupati Pimpin Rakor Bersama OPD

Pjs Bupati Pimpin Rakor Bersama OPD

20 Februari 2018 - 13:45 WIB
Pelayanan Tidak Boleh Terhenti

Pelayanan Tidak Boleh Terhenti

20 Februari 2018 - 13:40 WIB
Camat Reteh Apresiasi Keberadaan BUMDes Tanjung Raya

Camat Reteh Apresiasi Keberadaan BUMDes Tanjung Raya

20 Februari 2018 - 13:33 WIB
Mayat Karyawan PT THIP

Mayat Karyawan PT THIP

20 Februari 2018 - 13:31 WIB
Kembangkan Kelapa Pandan Wangi

Kembangkan Kelapa Pandan Wangi

20 Februari 2018 - 13:28 WIB
Pemkab Antisipasi Pencegahan Karhutla

Pemkab Antisipasi Pencegahan Karhutla

20 Februari 2018 - 13:25 WIB
Bhabinkamtibmas dan Masyarakat Perbaiki Jembatan Rusak

Bhabinkamtibmas dan Masyarakat Perbaiki Jembatan Rusak

20 Februari 2018 - 13:22 WIB

Oktober, Pasar Induk Difungsikan

20 Februari 2018 - 12:45 WIB
BERITA POPULER
Hotel Terisi Penuh, Disaksikan 21.000 Wisatawan

Hotel Terisi Penuh, Disaksikan 21.000 Wisatawan

20 Feb 2018 - 11:59 WIB | 772 Klik

Oktober, Pasar Induk Difungsikan

20 Feb 2018 - 12:45 WIB | 733 Klik
Museum Sang Nila Utama Pascarenovasi (1)

Museum Sang Nila Utama Pascarenovasi (1)

20 Feb 2018 - 11:55 WIB | 698 Klik
Bupati Minta Pelaku Pencoretan Papan Nama  Diproses Hukum

Bupati Minta Pelaku Pencoretan Papan Nama Diproses Hukum

20 Feb 2018 - 11:29 WIB | 498 Klik
TPPU Hasil Narkoba Capai Rp 1,7 M

TPPU Hasil Narkoba Capai Rp 1,7 M

20 Feb 2018 - 10:15 WIB | 385 Klik

Follow Us