Medsos Ramadan

Minggu, 11 Jun 2017 - 11:03 WIB > Dibaca 1090 kali | Komentar

RIAUPOS.CO - TIDAKLAH berlebihan untuk disebutkan bahwa tindakan kawan saya Abdul Wahab, ternyata telah mendahului apa-apa yang difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai hal yang diharamkan  berkaitan dengan media sosial (medsos) awal pekan ini. Terutama pada bulan Ramadan, ia malah lebih banyak tidak mengaktifkan semua bentuk media sosial yang diaksesnya, termasuk telepon genggam itu sendiri.

Sayangnya bagi saya,  mengapa Wahab tidak memberi tahu sebelumnya, mengapa ia selalu menonaktifkan telepon genggam waktu siang hari pada bulan Ramadan yang riang ini. Kalau tidak, tentulah saya tidak perlu tertanya-tanya, bahkan sampai mencari tahu ke sana ke mari, ke kawan lain atau ke sebarang kenalan, hanya untuk satu dua pertanyaan, “Apa kabar Wahab? Mengapa hp-nya tak aktif?”

Seperti yang sudah saya duga, tak seorang pun tahu mengapa hal itu terjadi, mengapa hp-nya  jarang aktif. Tak mungkin kepada mereka saya meminta untuk mencari tahu keadaan tersebut, apalagi sampai mencari Wahab yang saya kira juga bukan pula “pekerjaan” mudah. Wahab memang lasak, susah ditebak ke mana ia pergi.

Malahan pernah terjadi, karena hendak menolong orang secara mendadak, ia pergi meninggalkan kampung tanpa sepengetahuan anggota keluarga seorang pun. Dalam soal-soal semacam ini, saya dan banyak orang di kampung kami menilai bahwa Wahab disebut lolou. Kalau sudah menolong orang, tak pandang kiri kanan, termasuk tak sempat memberi tahu orang terdekat. Begitu pun kalau memberi, sampai menunggang tempayan pun ia tak keberatan.

Cuma menonaktifkan hp dalam waktu lama, pada siang hari lagi, bukanlah tabiat Wahab yang saya kenal selama ini. Benda itu senantiasa aktif walaupun ia sendiri sedang tidur. Usah khawatir untuk menyampaikan atau meminta sesuatu informasi darinya, senantiasa terjawab dengan cepat. Kalaupun sesekali ada juga yang tertunda, hal itu hanya karena masalah lain, bukan karena hp tak aktif,  misalnya karena ia harus memikirkan suatu jawaban atas satu pertanyaan melalui perangkat penyampai pesan tersebut.

“Maklumlah Bat, karena aku lemah, maka aku tutup hp pada siang hari, sehingga informasi yang tak perlu, langsung tersaring oleh waktu,” tulis Wahab melalui pesan pendek (SMS) tadi malam, setelah berkali-kali saya telepon dan saya kirimi SMS. Disebutnya kemudian, sayang kalau puasa Ramadan yang tidak setiap saat dilaksanakan, terganggu oleh alat tersebut. Belum lagi, alat-alat komunikasi lain yang berjelepak jumlahnya, semacam televisi dan media cetak.

Seperti kebanyakan penduduk Indonesia, Wahab pun senantiasa terlibat dalam apa yang disebut media baru. Ia punya akun facebook, twitter, bahkan semua fasilitas komunikasi yang ada. Kalau kontak denganku menggunakan SMS, selalu diejek ketinggalan zaman, hal itu hanya disebabkan soal kebiasaan dan masalah sejarah karena SMS-lah fasilitas pesan tulis paling awal dibandingkan penyampai pesan tertulis lainnya dan kami gunakan sejak awal. Wahab juga punya akun whatsApp, line, BBM, dan entah apa lagi.

“Banyak informasi penting yang aku peroleh dari semuanya itu, tetapi juga informasi sampah, sampai ghibah. Membaca ghibah kan saat kita sedang berpuasa misalnya, kupikir ikut mengurangi nilai puasa. Aku tak kuat untuk menolak pancingan suatu informasi, sehingga merasa lebih baik menonaktifkan hp,” tulis Wahab.

Di sisi lain, tulis Wahab, ia berusaha memelihara puasanya. “Kadang-kadang, kita tidak sadar telah berbuat sesuatu yang jangan-jangan tergolong ria dengan medsos ini. Misalnya, tiba-tiba saat sedang sibuk chatting, kita minta izin karena mau membaca Alquran, lah...,” tulisnya.

Begitulah, lanjut Wahab, bangsa ini dikepung oleh berbagai ancaman yang dapat merusak puasa. Jumlahnya tak sedikit, berbanding dengan pengguna internet yang mencapai angka 83 juta orang pada tahun 2015. Apa pun fasilitas internet, Indonesia berada posisi teratas sebagai pemakai, termasuk dalam mengakses pornografi.

Hal itu antara lain disalurkan melalui kepemilikan hp pintar sekitar 290 juta unit atau lebih besar dari jumlah penduduk Indonesia sendiri. “Belum lagi televisi yang menggila, menempati angka 95 persen sebagai penyalur informasi. Sayangnya pula, sebagian besar informasi itu bersifat hiburan dan berasal dari asing, sing, sing, sing....,” tulis Wahab.

Pada gilirannya, Wahab mendukung hal-hal yang difatwakan MUI sebagai suatu keharaman seperti ghibah, memburuk-burukkan orang, hoax, dan macam-macam lagi. Belum sempat saya membalas SMS-nya, Wahab  menulis, “Tapi sudahlah, daripada aku menyalahkan orang terus, lebih baik aku matikan hp ini. Kalau menghindari televisi dan media cetak, mudahlah tu. Oke?”***

KOMENTAR

Follow Us