Ingat Ayah di Senam Puasa

Senin, 05 Jun 2017 - 11:35 WIB > Dibaca 934 kali | Komentar

Di bulan puasa ini peserta senam saya menurun drastis. Dari 50 tinggal 15 orang. Untung saya tidak memungut bayaran. Tidak perlu takut pendapatan turun. Mengapa saya tetap berolahraga? Di bulan puasa? Setiap pagi? Satu jam lebih? Jelas. Saya ingin tetap sehat. Di samping ingin naik pangkat: hahaha …. jadi pelatih. Sudah 8 tahun tiap hari senam di Monas, Jakarta, tidak pernah naik pangkat. Selama terkena perkara, saya harus tinggal di Surabaya. Mau senam di mana? Banyak senam di Surabaya, tapi aerobik. Atau pilates. Atau freeletics. Terlalu muda untuk orang berumur 66 tahun. Mau senam Dahlan Style, begitu teman-teman menamai senam Monas, tidak ada temannya. Maka saya putuskan bikin senam Monas cabang Surabaya. Saya angkat diri saya sendiri jadi pelatihnya. Beberapa teman lama bisa saya ancam untuk pura-pura jadi peserta. Lalu tergiur. Jadi peserta beneran. Kian lama kian banyak. Asyik. Yang berjilbab pun kini bisa dansa Xiao Ping Guo. Atau Mambo Number Five. Atau Cha Cha Badansa. Dan banyak lagi. Yang muda-muda sudah bisa lebih lincah daripada saya. Bahkan saya sudah melantik lima di antara mereka, lima dara cantik, sebagai pelatih baru. Kian seru. Kian asyik. Entahlah, apakah juga kian sehat. Ancaman penyakit memang masih terus mengintai saya. Saya harus atasi itu. Saya tidak boleh takluk. Tidak boleh jatuh sakit. Kekebalan tubuh saya memang diturunkan. Secara sengaja. Agar hati baru saya bisa tetap kerasan di tubuh saya. Menggantikan hati lama yang penuh kanker 10 tahun lalu. Saya harus jaga kesehatan melebihi orang normal. Tidak takut batal puasa? Karena kehausan? Karena kelelahan? Saya punya obatnya. Sangat manjur. Namanya: Moh. Iskan. Ayah saya. Almarhum. Bayangan masa kecil tentang ayah terus hidup sampai saya tua. Di bulan puasa pun ayah pergi ke sawah. Mencangkul. Selama empat jam. Biarpun panas sudah terik. Menembus punggung hitam yang tanpa baju. Yang memperlihatkan tulang-tulangnya yang menonjol. Sesekali ayah menegakkan punggungnya. Agar tidak pegal-pegal. Sesekali juga ayah membasahi celana kombor hitamnya yang sampai bawah lutut itu. Dengan air lumpur di sela-sela cangkulnya. Agar badan terasa lebih dingin. Sesekali lainnya ayah tampak mengencangkan kolornya. Agar celana kombornya tetap menempel di perutnya yang kian siang kian tipis. Sebelum puasa saya sering mengirim singkong rebus ke sawah untuk sarapannya. Dalam bulan puasa tidak ada lagi sarapan. Saya mendampingi dari jauh. Sambil membuat mainan. Membuat wayang dari tangkai bunga rumput. Lalu memainkannya dengan iringan gamelan dari mulut sendiri. Belakangan ayah tidak mencangkul lagi. Sawah itu dijual. Setelah tidak ada meja dan lemari yang bisa dijual lagi. Ketika isi rumah sudah habis dijual. Ketika sakitnya ibu terus berlarut-larut. Jadi, dibanding beratnya ayah mencangkul, di mana susahnya senam? Yang hanya 1,5 jam? Di bawah pohon rindang? Dengan lagu-lagu top hit bervariasi? Dengan teman-teman dansa yang sebagian seksi-seksi? ”Maka,” kata saya kepada peserta senam di bulan puasa, ”kalau Anda takut senam, ingatlah ayah saya.” Dari sawah ayah mampir ke parit. Untuk mandi. Tepatnya untuk membersihkan badannya dari lumpur. Dengan segenggam rumput sebagai penggosoknya. Saya sering ikut seperti itu. Tiba di rumah, ayah menggelar tikar mendong. Di lantai rumah yang berupa tanah. Tidur. Dengan celana kombor hitam lainnya. Tanpa baju. Saat telentang, terlihat kulit perutnya seperti menempel di bagian paling belakang tulangnya. Hanya turun naik napasnya yang menandakan kulit perut itu tidak lengket di dasar perutnya. Satu jam kemudian ayah saya sudah di masjid: salat Zuhur. Lalu ambil cangkul lagi ke sebidang tanah di belakang rumah. Atau sabit. Merapikan pohon pisang. Atau membetulkan parit. Atau menimba air sumur untuk mengisi bak mandi. Ada saja yang dilakukannya. Sampai azan Asar. Ke masjid. Jadi imam. Pulang dari masjid langsung buka Alquran. Membacanya sampai senja. Satu bulan puasa ayah bisa tamat dua kali. Saya satu kali. Ayahlah yang dulu mengajari saya membaca Quran. Sebelum masuk SD, saya sudah bisa menamatkannya. Saya sudah bisa membaca huruf Arab sebelum bisa membaca huruf Latin. Meski tidak tahu artinya. Tidak ada TK di desa saat itu. Apalagi playgroup. Kelak, ketika di usia tua saya memutuskan belajar bahasa Mandarin, saya ingat itu. Saya paksakan harus bisa membaca huruf kanji meski awalnya tidak tahu artinya. Sehabis buka puasa, sampai malam, waktu ayah habis untuk ibadah. Ayahlah imam salat Tarawih. Di kampung saya hanya ayah yang hafal ayat-ayat Quran sebanyak yang diperlukan untuk salat Tarawih. Di luar bulan puasa, ayah kembali ke sawah di malam hari. Di bulan puasa waktunya habis di masjid. Termasuk mengawasi kami-kami yang masih anak-anak. Agar tetap dalam grup di sekeliling meja di tengah masjid. Membaca Quran sampai larut malam. Sayalah ketua grup anak-anak itu. Sebelum remaja. Saat saya harus meninggalkan kampung untuk ke Pesantren Takeran, Magetan, 6 km dari kampung saya. Sosok ayah yang pekerja keras itu terpatri kuat di benak anaknya. Sampai sekarang. Tidak bisa hilang. Kalau tahu olahraga itu bisa menyehatkan, mengapa Pak Dahlan tidak sejak dulu-dulu olahraga? Ya…., itulah. Waktu itu saya pun seperti Anda sekarang ini.***
KOMENTAR

Follow Us