Dalam Syakban

Minggu, 14 Mei 2017 - 11:31 WIB > Dibaca 1846 kali | Komentar

RIAUPOS.CO - PESAN-pesan pendek telepon genggam (SMS) kawan saya Abdul Wahab pagi semalam dibayang-bayangi oleh hal-hal yang absurd mengenai kawan kami, Wak Bayau, pemilik kedai kopi di kampung. Ia heran yang menggoreskan luka di hati karena melihat pembeli dalam dua hari terakhir ini tak putus-putus, lebih banyak dibandingkan hari-hari lewat.

Sepatutnya, kata Wahab,  Wak Bayau gembira karena jumlah pembeli meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Bila perlu ia menyatakan kegembiraan tersebut dengan cara memberikan potongan harga bagi setiap pembelian sekian dan sekian. Kalau agak rumit, beri saja harga khusus kepada pelanggan tetap, selesai perkara.

“Tetapi persoalannya, sebab yang membuat Bayau heran bercampur  sedih itu adalah berkaitan dengan motivasi atau dorongan belanja. Konon sekejap lagi, sebulan lebih warga tidak dapat menikmati kopi dan lontong serondeng Wak Bayau. Maklum, kan sebentar lagi puasa, sedangkan Bayau akan menutup dagangannya selama bulan mulia tersebut,” tulis Wahab.

Saya ingat, saat balik kampung beberapa tahun lalu sempena menziarahi makam orangtua, kepada saya dan Wahab, Bayau mengatakan, kalaupun dagangannya bukan berkaitan dengan makanan maupun minuman, ia pun agak enggan bekerja pada bulan puasa. “Sebelas bulan kita diberi kesempatan, masa sebulan saja tidak bisa berdamai dengan pekerjaan, untuk fokus pada ibadah,” katanya waktu itu.

Kami memang tidak mau mempersoalkannya. Apalagi sikap semacam itu, memang lumrah di kampung kami. Makanya, kayu api saja sudah dipersiapkan sejak sebulan sebelum puasa. Kalaupun masih banyak yang terlihat bekerja pada bulan puasa, tampaknya hanya untuk menjaga kebiasaan saja. Menjalani apa yang sudah ada, tidak menambah-nambah pekerjaan kalau menguranginya tidak mungkin.

Misalnya, orang tetap membangkit pengerih—sejenis menangkap ikan—sesuai dengan irama pasang surut air. Tapi kalau membangkit pegerih pas saat orang berbuka, sebagian besar nelayan akan membiarkannya begitu saja sampai waktu membangkit pengerih berikutnya. Sudah dapat dipastikan akan banyak ikan yang mati darah sehingga tak laku lagi dijual.

Banyaklah lagi SMS-SMS Wahab senada yang sampai di telepon genggam saya. Antara lain ditulisnya, bagaimana masih saja ada orang membicarakan puasa berkaitan dengan makan dan minum, seolah-olah hanya dua kegiatan itulah aktivitas kehidupan manusia. Padahal puasa bukan hanya menahan makan dan minum, masih banyak lagi hal-hal yang di luar itu. Sesuatu yang menjadi kebiasaan, tetapi fatal bagi puasa Ramadhan.

Tak lupa Wahab menulis bagaimana sikap orang-orang saleh dalam menghadapi puasa. Jangankan membayangkan tak makan maupun minum sepanjang siang, membayangkan apa pembukaan pada pagi hari saja, mereka hindari. Malahan mencari-cari pembukaan saja di antara mereka menganggap bukan sesuatu yang layak.

Menanggapi SMS Wahab itu, saya menulis bahwa kalaulah dalam satu dua hari ini, warga kampung kita berpikir bakal tak minum kopi dan makan lontong serondeng Wak Bayau sebulan lebih karena puasa, mereka sebenarnya sudah ketinggalan. Di televis-televisi saja, sudah lama iklan keperluan puasa ditayangkan, bahkan hal serupa juga untuk keperluan Idul Fitri. Puasa belum, hari raya sudah jadi pikiran.

Cuma kepada Wahab saya tulis bahwa jangan-jangan sikap mereka, terutama orang-orang kampung kami itu, sebagai wujud dari keinginan mereka untuk melaksanakan puasa sebaik-baiknya. “Sekurang-kurangnya, mereka masih memikirkan puasa berkaitan dengan makan dan minum. Bahwa pandangan mereka tidak sama dengan orang-orang yang disebut saleh, apalagi ulama pula, haraplah dimengerti sendiri,” tulis saya.

Setidak-tidaknya pula, lanjut saya, mereka mengatakan hal itu saat sedang tidak makan dan minum pada siang hari di bulan Ramadhan. Padahal hal-hal semacam ini banyak kita temui pada bulan suci itu, khususnya pada ujung-ujung Ramadhan.

“Barangkali banyak yang mempersiapkan diri untuk Ramadhan ini sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi SAW, juga terjadi pada bulan Syakban, bulan pada saat sebagaimana  juga banyak orang memikirkan berbagai keperluan puasa bahkan Idul Fitri itu. Mana kita tahu kan, apalagi tak mungkin mengoarkan amalan baik kepada orang...,” tulis saya.***

KOMENTAR
BERITA POPULER

Follow Us