Sembahan Alam

Minggu, 14 Mei 2017 - 02:27 WIB > Dibaca 1536 kali | Komentar

Kenyataan primitif itu berkait dengan alam besar. Untuk menjinakkan alam besar, manusia menyusun sejumlah fetisisme (semacam azimat) yang melekat pada tubuh. Istilah fetis berasal dari bahasa Portugis feitico, kemudian diambil menjadi istilah dalam bahasa Inggris kuno dengan sebutan fetys. Secara harfiah, fetis itu bermakna “buatan”, atau yang “dibuat”, atau sesuatu yang dibuat menjadi semacam azimat atau jimat yang dikenakan pada tubuh manusia. Sebagai jimat, para pelaut Portugis yang mengarungi samudera, mengena atau memakai fetis (jimat) yang melekat pada tubuh, demi menjinakkan dewa-dewa laut yang melihat mereka selama perlintasan segara besar, terutama terhadap dewa-dewa sesembahan orang-orang pantai barat Afrika. Ihwal ini berlangsung sekitar abad ke-18. Tradisi fetisisme ini kemudian menjadi bagian dari ibadah dalam tradisi Katholik Roma periode ini. Seorang peneliti agama, De Brosses dari Prancis mengaitkan fetisisme ini sebagai istilah untuk agama ras rendah. Namun, kebingungan segera muncul, sebab istilah fetis juga pernah digunakan oleh Auguste Comte dan para penulis lain, yang berkaitan dengan bangsa-bangsa yang menyembah langit dan segala perkakas yang berada di langit.

Sejarah agama-agama primitif tak bisa dilepaskan dari orientasi langit dan makhluk tinggi yang diciptakan dalam pikiran manusia primitif yang bersemayam di atas langit. Jupiter itu sendiri adalah langit. Legenda Yunani kuno melekatkan nama matahari itu sebagai Helios, dengan dewi Selene sebagai dewi bulan. Di Cina, langit langsung disembah sampai saat ini. Sementara orang-orang Babel(onia) menyembah bintang. Mincopies memuja matahari sebagai dewa dermawan dan bulan sebagai dewa rendah. Bangsa Inca di benua Amerika menyeru sang Pencipta , Matahari dan Guntur. Demikian pula bagi bangsa Jerman kuno, Guntur adalah dewa agung mereka. Orang Samoyede saban pagi sujud ke arah matahari seraya bergumam; “Kala Engkau bangun, kami jua bangun. Ketika Engkau rebah, kami pun beristirahat”. Api, bagi orang Ojibways adalah makhluk ilahi nan suci, dan kepadanya orang tak boleh berbuat sekehendak hati. Mengutip Lewis Campbell; “Eter langit dan angin adalah sayap yang tak kenal letih”. Inilah sederet sembahan alam besar yang dirayakan oleh manusia kuno dan primitif di awal-awal pradaban.

Instink menyembah kepada Yang Berkuasa itu turun mengarah ke alam kecil; sungai-sungai, laut, mata air, pohon, kebun, tanaman, buah-buahan, hewan dan batu. Pada fase ini, tanah Inggris dipenuhi sejumlah sumur-sumur suci. Sungai Nil, Gangga, Indus disebut dalam catatan peradaban manusia menjadi orientasi suci dan menentukan lanskap perkotaan dan pemukiman manusia kala itu, bahkan hingga kini. Belum puas dengan alam kecil, manusia menurunkan lagi sembahan itu ke roh leluhur. Inilah era suku dengan kantong-kantong pesukuan yang terpencil, kemudian memasuki era kedatuan (chiefdom), juga masih melakukan pemujaan kepada roh leluhur. Karena mereka berkeyakinan bahwa setelah mati, majelis roh itu masih tetap menyelenggarakan kehidupan di alam sana. Bahkan pada era ini, demi meletakkan roh pemimpin suku atau kepala rumah tangga (bapak) pada posisi mulia, ketika kepala suku atau seorang lelaki yang serba berada, meninggal dunia, maka para pelayan harus dibunuh agar roh pelayan ini menjadi penjaga dan pengawal roh leluhur itu. Bahkan tak sedikit pula isteri dengan sukarela ikut mati bersama (mencebur ke dalam api pembakaran) demi menjaga kesetiaan kepada sang suami dan menjaga roh tetua pemimpin suku atau kedatuan itu.   

Persoalan menyembah yang dilakukan oleh manusia adalah sebuah jawaban atas sesuatu nan kudus, nan tinggi dan nan agung yang saban detik menjadi pikiran oleh setiap manusia yang lemah. Manusia memposisikan dirinya sebagai tak berdaya di atas ayunan alam besar (makro), juga tak kuat berdepan dengan fenomena serba tak terduga dari alam kecil seperti luapan banjir, gempa, tsunami, gelombang pasang, kekeringan atau kemarau panjang, gangguan hewan buas dan hama tanaman. Peralihan orientasi sembahan ini secara antropologi, tetap dalam pandangan keselamatan bagi manusia. Akunya adalah manusia. Manusia memposisikan egonya sebagai orientasi alam. Keselamatan ego menjadi perihal yang utama dan pertama. Segala sesuatu diukur berdasarkan parameter keselamatan dirinya (ego)  di tengah kepungan alam raya yang maha luas dan tak terduga. Agama awal muncul tersebab rasa takjub dan rasa ingin dinaungi oleh sebuah kekuatan prima yang mampu melindungi keberlanjutan hidup dan warisan manusia dalam bentuk pemikiran dan perkakas fisikal (ragawi) berupa bangunan, irigasi, alat berburu dan meramu, instrumen musik yang dihajatkan untuk merayu yang maha kuasa.  Dan semua ini berasal dari kaidah yang melekat pada diri manusia yang kemudian disebut sebagai “tangkal”, azimat atau jisim, atau wafak, atau yang lebih populer dikenal sebagai jimat.

Agama awal terlahir dari jimat yang melekat pada tubuh manusia. Agama yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang taksub atas kekuasaan maha tinggi dan maha besar. Bukan agama dalam makna langit dan wahyu. Agama dalam kajian antropologi, merupakan suatu sistem penyelamatan diri dalam interaksinya dengan kekuasaan yang maha tinggi. Lalu, azimat atau fetis itu diperluas posisinya. Tidak hanya melekat pada tubuh manusia, akan tetapi memasuki ruang lebih luas, misalnya di atas palang pintu sebelah dalam rumah. Bisa pula di sebelah dinding luar rumah. Kenyataan ini masih bergelung dalam kehidupan harian suku-suku terasing dan terpencil. Namun, di era modern perkotaan, bentuk-bentuk ekspresi jimat ini pun muncul dalam beragam varian. Dan ini selalu dikaitkan dengan fenomena sinkretisme kepercayaan. Masyarakat yang menjadi pendukung suatu agama, masih berada pada fase transisional. Sebelah kakinya sudah menghayat agama tauhid, namun sebelah kakinya yang lain masih terantai dengan kepercayaan lokal (leluhur), sehingga terjadi tarik menarik antara kaki masa kini dan kaki masa lalu (yang serba lokal).

Jimat atau azimat itu bisa berbentuk yang serba ragam; bisa menyerupai makhluk khayali, makhluk animasi, bisa pula bentuk-bentuk non-manekin, wujud makhluk imajinasi, bahkan bisa saja tanpa bentuk. Namun, ketika jimat ini dianggap tak mampu melindungi dan tak mampu memenuhi kehendak manusia, tak sedikit pula manusia itu menumpahkan sumpah seranah dengan kata-kata zalim dan amarah. Dan bahkan seseorang bisa melakukan pemukulan secara keras terhadap jimat itu, dengan maksud agar dia melayani kehendak manusia yang menciptakannya lebih baik dan lebih purna di hari-hari mendatang (kelak). Dan, ...kita telah meninggalkan fase-fase ini. Perjalanan peradaban, tidaklah berjalan secara revolutif, namun selalu berjalan secara berayun-ayun dan membuai-buai. Dan manusia hanya seolah-olah sedang mendaku-daku, seakan-akan Yang Maha Kuasa adalah milik dia pribadi. Kebudayaan melesat dan diperkaya oleh sekian banyak penghayatan...***

KOMENTAR
BERITA POPULER

Follow Us