Bukan Pemenang

Minggu, 26 Feb 2017 - 13:25 WIB > Dibaca 2634 kali | Komentar

SAYA setuju dengan Abdul Wahab, ketika dalam pesan pendek telepon genggamnya (SMS) semalam, ia menyebutkan bahwa beberapa hari terakhir ini, sejumlah peristiwa di Riau mengingatkan siapa saja untuk kembali memaknai suatu situasi yakni kemenangan. Pemilihan kepala daerah (Pilkada) baik di Pekanbaru maupun di Kampar, kemudian vonis bebas bupati nonaktif Rokan Hulu, Suparman, langsung atau tidak langsung, berkaitan erat dengan pemaknaan terhadap kalah dengan menang.

Disebut Firdaus-Ayat Cahyadi memenangi Pilkada Pekanbaru, sedangkan predikat serupa digenggam oleh Azis Zainal – Catur Sugeng untuk Pilkada di Kampar. Suparman pula, disebut memenangi persidangan yang mendakwanya sebagai tersangka suap Anggaran Belanda dan Pendapatan Daerah (APBD) beberapa tahun lalu.

“Secara umum, begitulah disebut orang. Menang dan menang untuk berbagai peristiwa Pilkada dan sidang di pengadilian,” tulis kawasan saya Abdul Wahab melalui SMS-nya. Cepat ia menambahkan, pernyataan Suparman bahwa posisinya bukan sebagai pemenang sebagaimana dilansir Riau Pos (Kamis, 23/2/17), mengingatkannya bahwa tafsir tentang kemenangan, setiap saat memang memerlukan perenungan.

Cuma, ia hendak mengurut tafsir mengenai kemenangan yang disandingkan dengan peristiwa-peristiwa di atas. Misalnya, jelas Suparman tidak bisa menyatakan menang, sebab jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menyatakan menggunakan hak kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Berbagai kemungkinan masih bisa terjadi, antara ditolak atau diterimanya kasasi KPK.  Ini suatu proses yang mendebarkan, terlepas dari apa pun keputusan MA kelak.

Bagaimana pula mungkin Firdaus-Ayat menyatakan menang setelah penghitungan suara dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pekanbaru, menempatkan pasangan petahana ini memperoleh suara terbanyak yakni 33 persen lebih. Dengan demikian, ada sekitar 67 persen yang tidak memilihnya, tersebar pada empat pasangan lain, dua di antaranya independen dan dua lagi dari gabungan sejumlah partai.

Perolehan suara yang diraih pasangan urut nomor tiga itu, cukup besar, lebih dari 10 persen yakni 94.784 suara. Bandingkan dengan nomor urut lima yang memperoleh 62.502 suara atas nama Destrayani Bibra dan Said Usman Abdullah, sekaligus menempatkan dirinya pada posisi kedua. Peraih suara terbanyak berikutnya adalah urut 4 M Ramli-Irvan Herman dengan 59.694 suara.  Pasangan nomor urut 2 Herman Nazar-Defi Warman 46.606 suara, dan pasangan nomor urut 1 Syahril-Said Zohrin 22.202 suara.

Begitu juga di Kampar. Berbeda dengan Pekanbaru, perolahan suara terbanyak Azis – Sugeng yakni 106.085 suara, sangat sedikit jaraknya dengan pasangan Nomor Urut 5 Rahmad Jevari Juniardo - Khairuddin Siregar yang memperoleh 99.084 suara. Di bawahnya lagi adalah Paslon Nomor Urut 2 Drs Zulher MS dan Dasril Affandi SH MH memperoleh 90.977 suara. Ini diusul suara yang diperoleh Paslon Nomor Urut 1 M Amin SAg MH dan Drs H M Saleh memperoleh 19.505 suara. Terakhir adalah Paslon Nomor Urut 4 Drs Jawaher dan Bardansyah Harahap memperoleh 11.597 suara.

Dari perolehan suara itu, tulis Wahab, kita dapat juga membaca bahwa yang tidak mendukung Firdaus – Ayat dan Azis – Sugeng, jauh lebih besar dibandingkan pendukungnya. Belum lagi dilihat dari angka patisipasi dengan bandingan daftar pemilih, dukungan tersebut akan terlihat semakin kecil. Apalagi, sebagaimana kasus Suparman yang dibawa ke lembaga hukum lebih tinggi, berbagai pasangan masih mau mencari jalan lain yakni menggugat suara di atasnya ke pengadilan.

Seandainya lembaga lebih tinggi itu sepaham dengan apa yang telah dihasilkan, masing-masing pihak memang tidak bisa membusung dada. Sebab, dalam hasil Pilkada Kampar dan Pekanbaru,  mereka harus kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa sebagian besar  tidak mendukung. Ini memang dapat diabaikan, tetapi tentu sangat disayangkan.

Pasalnya, bukankah bagian yang tidak mendukung itu dapat dijadikan cermin dan mesin penghitung untuk menuju sesuatu yang lebih baik. Selain Yang Maha Kuasa, langkah-langkah mereka disaksikan begitu banyak oleh orang seberang, mengawsasi dan senantiasa mengawasi. Malahan, keberadaan mereka harus “dipupuk” untuk menciptakan berbagai hal, diantaranya citra kebersamaan. Jadi, positif juga hasilnya dan tetap bukan pemenang. Sekali lagi, bukan pemenang. ***


KOMENTAR
BERITA POPULER
Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

21 Feb 2018 - 00:02 WIB | 186 Klik
Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

21 Feb 2018 - 00:31 WIB | 181 Klik
KFC Tutup Ratusan Restorannya

KFC Tutup Ratusan Restorannya

21 Feb 2018 - 01:16 WIB | 154 Klik
Sky Energy Melantai, Harga Sahamnya Rp375-Rp450 Per Lembar

Sky Energy Melantai, Harga Sahamnya Rp375-Rp450 Per Lembar

21 Feb 2018 - 00:44 WIB | 152 Klik
BUMN Proyek Infrastruktur Dapat Ancaman

BUMN Proyek Infrastruktur Dapat Ancaman

21 Feb 2018 - 00:58 WIB | 141 Klik

Follow Us