Pulau Padang Aduh Mak Sayang

Minggu, 25 Des 2011 - 08:28 WIB > Dibaca 3434 kali | Komentar

INILAH pesan pendek (SMS) kawan saya Abdul Wahab yang panjang berjela-jela, dikirim dalam kelam pada malam yang begitu hitam dan diam:

Pulau Padang, bagaimana aku bisa mendengar suaramu lagi, ketika mulut anak-anakmu terjahit rapat, menyembunyikan kata-kata dalam lipatan hasrat. Sementara emak dan ebah telah lama tiada, membawa kisah, syair maupun seloka dalam ingatan: Pun Dedap atau Kantan, pun Putri Pepuyu, pun Koyan, pun… Juga orang-orang Setia Pati yang menolak menghatur sembah ke Siak, malah memohon suaka politik ke Riau-Lingga.  Hasan dan Zubaidah mengakhiri kisah kasih tak sudah hanya dalam lakon.

Engkau pasti tahu, anak-anakmu  menjahit mulut di MPR/DPD/DPR-RI dan Istana Negara sebagaimana dilansir media massa sejak pekan lalu. Sampai pertengahan pekan ini, jumlah penjahit mulut itu menjadi 28 orang dan diperkirakan terus bertambah. Di bawah bendera Forum Komunikasi Masyarakat Penyelamatan Pulau Padang (FKMPPP), di antara mereka ada yang tak bisa berkata-kata karena jahitan itu, tetapi adakah yang tidak teringat tentang apa yang sudah mereka ucapkan?
 
“Jangan ambil lahan kami, jangan rusakkan hutan kami. Pulau ini berupa pulau endapan dengan gambut berkedalaman lebih dari tiga meter,” begitu kira-kira kata mereka. Adakah yang tidak ingat terhadap kata-kata itu, padahal mereka telah mengucapkan hal serupa sejak Riau Andalas Pulp and Paper (RAPP) menancapkan azam membuat Hutan Tanaman Industri (HTI) tahun 2000-an?  Ini diucapkan berkali-kali, termasuk di daerah sendiri yakni di lembaga formal Kecamatan Merbau, Kabupaten Meranti dan Provinsi Riau. Dua eskavator perusahaan juga sempat dibakar massa Mei lalu.

Ya, mereka meminta Menteri Kehutanan mencabut surat keputusan No. 327/Menhut-II/2009 tentang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri. Pasalnya, dalam surat ini disebutkan bahwa seluas 41.205 hektar kawasan Pulau Padang digarap untuk tujuan HTI atas nama RAPP (Riau Pos, 21-23/12). Padahal, luas pulau ini hanya sekitar 110.000 hektare dan karena kondisi geografisnya terutama bergambut tebal, seharusnya tidak bisa dijadikan HTI. Di lapangan, apa yang disebut hutan itu sebagian adalah kebun sagu dan karet, sampai mencecah dapur rumah penduduk.

Kepada wartawan di Jakarta, juru bicara RAPP, Trisia Megawati mengatakan, kegiatan operasional perusahaan senantiasa mengikuti ketentuan pemerintah dan perundang-undangan. Dan beginilah kata pemerintah seperti tergambar dari keterangan Kepala Pusat Humas Kemenhut, Masyhud, persoalan ini harus dibicarakan lagi. Lalu, apakah jahit mulut harus terus dilaksanakan? Tak ada jaminan terpenuhinya tuntutan masyarakat penjahit mulut karena sebuah perusahaan besar semacam RAPP misalnya, pasti juga senantisa berupaya di atas angin.

Begitulah, upaya mengumpul dana di tengah masyarakat untuk mendukung aksi di Jakarta itu masih berlangsung di Pulau Padang seperti terlihat di Desa Lukit dan Melibur. Sementara kondisi penjahit mulut makin lemah, bahkan enam di antaranya pingsan dan dilarikan ke rumah sakit saat beraksi di Istana Negara hari Kamis (22/12). Di sisi lain  RAPP terus beroperasi, bahkan dengan kawalan petugas keamanan, telah ribuan kubik kayu mereka keluarkan dari Pulau Padang sejak bulan lalu dalam apa yang dinamakan program HT itu.

Kronis
Inilah SMS Wahab yang hitam dan diam: Pulau Padang, aku tahu Dedap menolak pengakuan kedua orang tuanya, tetapi mengapa masing-masing pihak menjelma sebagai pulau, sementara di pihak  lain menjadi pohon mempelam berasa manis dan masam di Tanjung Padang? Apakah telah terkirim pesan tunjuk ajar semacam ini ketika negara umpama orangtua, sedangkan penghunimu adalah anak kandungnya? Tapi kalian bukan Koyan di tengah Pulau Padang, melawan Hindia Belanda ketika tanah dan harga diri dicabik-cabik akhir abad ke-19 kan? Ali dan Hasan musti bertikam  karena kekuasaan yang tak terpadan dan tak tertimbang dengan rakyat dalam foklormu bertajuk Merbau Bersiram Darah.

Simaklah bagaimana Orde Baru “mewariskan” hampir 1.750 kasus sengketa lahan antara masyarakat dengan perusahaan di Indonesia, belum termasuk ratusan kasus serupa setiap tahun pada masa setelahnya. Kasus Mesuji, Lampung, yang setidak-tidaknya menewaskan sembilan orang dan terangkat ke permukaan dalam dua pekan ini, setali tiga uang dengan serangan ratusan karyawan sebuah perusahaan terhadap masyarakat Tambusai, Rokan Hulu, tahun 90-an. Di Riau menurut laporan Scale Up,  terdapat 42 titik kasus sengketa serupa di atas areal hampir 350 ribu hektar tahun 2010, yang otomatis menyimpan bibit pertikaian kronis.

Adalah Anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo menyatakan, dalam kasus sengketa lahan selalu ada unsur yang melibatkan oknum penegak hukum, eksekutif, dan legislatif. Ini serius, sebab, masyarakat selalu kalah oleh ulah investor yang didukung oknum penegak hukum. Semakin rumit ketika eksekutif bermain, anggota dewan dan partai politik terlibat. Di sisi lain pula, masalah sengketa lahan tidak bisa hanya dilihat dari aspek ekonomi semata, tetapi berkaitan dengan pengrusakan lingkungan (JPNN, 18/12). Hal senada juga dikatakan Ketua DPR Marzuki Alie (riaupos.co.id, 22/12).

Hak masing-masing pastilah ditegakkan, tetapi betapa berbedanya pancang yang ada, sebab acapkali ihwal surat misalnya, dipersoalkan meskipun rakyat telah menempati suatu kawasan jauh sebelum Indonesia merdeka. Pertikaian tak terelakkan termasuk dialami orang-orang Pulau Padang yang berpenduduk sekitar 35 ribu jiwa. Lalu, apa gunanya kata-kata lagi? Menjahit mulut adalah suatu protes yang ekstrim—malah sebagai perlawanan radikal, kata penulis ternama Adhie M Massardi di Jakarta—sebab dari alat indera itulah kata-kata keluar yang ternyata telah kehilangan makna.

Menjahit mulut bisa berakibat fatal bagi nyawa seseorang, sehingga tidak mengherankan bagaimana kondisi penjahit mulut Pulau Padang kini dalam pengawasan medis. Bukankah hal senafas juga dilakukan Sondang Hutagalung yang membakar diri di depan Istana Negara, sepekan sebelum aksi Pulau Padang dilaksanakan? Lebih jauh lagi, hal seperti itu dilakukan 10 orang di Timur Tengah dalam mengupayakan hak-hak sipil mereka. Alhasil, dapatlah dikatakan bahwa protes semacam ini menjadi “pilihan kolektif” warga bangsa dalam setahun terakhir.

Bakar diri tukang sayur, Muhammed Bouazizi (26) di Tunisia (17/10/2010), “berbuah” kejatuhan rezim Ben Ali. Sebaliknya, pemerintah (mungkin juga kita) tampak biasa-biasa saja dengan tindakan Sondang dan orang Pulau Padang. Pejabat tinggi di daerah ini, belum ada yang terlihat menjenguk mereka; ya, walau sekedar menjenguk. Malahan, saat menjahit mulut dengan perih dan tertekan dilakukan, di Selatpanjang ibu kota Kabupaten Meranti, dilaksanakan pesta sempena hari jadi kabupaten itu. Untuk mendatangkan band ST12 ke kota ini, lebih dari Rp200 juta uang melayang terbang.

Siapa pun Kalian
Inilah SMS Wahab yang hitam dan diam: Tak peduli aku siapa pun kalian, apakah penduduk tempatan, pendatang, dan entah apa lagi. Sebab Melayu bukan tentang etnis, tetapi pemartaban sejarah dan tanah tempat berpijak. Apatah lagi, telah kalian rekat sepotong cinta di antara bibir kalian yang kini terlubang-lubang dan bersepai darah karena tusukan jarum berbenang justeru dari tangan kalian sendiri agar Pulau Padang dapat diselamatkan sampai kapan pun. Mungkin kita tidak bertemu dalam cara, tetapi bukankah kita sama-sama mencintai Pulau Padang, sehingga tak mungkin berdebat hanya karena satu kalimat, “Bagaimana?”

Pulau Padang, hal semacam itu jugakah yang tersirat dari posisi tubuhmu sebagai pulau terluar: memisahkan Sumatera dengan Asia, di pinggir batas Indonesia-Malaysia, sehingga engkau pun menjadi tameng bagi gelombang, menjadi penetralisir tumpahan minyak berpuluh tahun menghitam? Pantaimu terus tergurus ratusan meter setelah angin utara mengirimkan amarahnya tiga bulan dalam setahun. Udang dan ketam lebih banyak berenang dalam kenang, meski tangismu terus mengambang. Di luar minyak bumi yang tak menyentuhmu, apakah engkau masih tergolong sebagai kecamatan termiskin?   

Aduhai Pulau Padang, suaramu yang dulu sayup-sayup tak akan terdengar lagi ketika anak-anakmu akan makin banyak menjahit mulut. Tapi bukankah kecintaan yang mereka peruntukkan bagimu tidak sejalur dengan fitrah? Bukankah mulut tidak untuk dijahit? Bukankah menjahitnya selain menentang fitrah, juga menyakitkan diri. Bukankah Allah SWT tidak suka pada tindakan-tindakan semacam ini betapa pun Allah juga membenarkan kita mengupayakan kehidupan?

Putri Pepuyu tetap bertahan di Tasik Tanjungpadang karena kecintaannya pada pulau ini, walaupun berbagai jurus dilancarkan Raja Terubuk dari Melaka untuk merampas hatinya sebagaimana dituturkan lewat Syair Ikan Terubuk yang terkenal dalam alam Melayu itu. Siti Zubaidah tewas di tangan Ali, menjadi tameng bagi orang yang dicintainya, Hasan, bukan karena bunuh diri akibat konflik tak sudah-sudah. Oh ya, benar kan, cerita rakyat Pulau Padang ini telah dijadikan naskah sandiwara oleh Rusli Not (1963) dan prosa oleh Hang Kafrawi (2005) di bawah tajuk serupa, Merbau Bersiram Darah?

Pulau Padang, pasti kau tahu maksudku dan karenanyalah SMS ini tak perlu diperpanjang lagi. Apalagi kita segera bersua di salah satu bagian tubuhmu sepanjang 60 x 29 km, yakni Telukbelitung, ibu kota Kecamatan Merbau. Mungkin juga di pemukiman sebelahnya, Lukit, Kurau, Dedap, dan Sungaihiu. Tak apa pula kalau sua kita di Mengkopot, Pedas, Pelantai atau Renakdungun, bahkan di Merantibunting. Semua tempat di tubuhmu, adalah hati di dadaku.  Insya Allah…***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 413 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 59 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 59 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 35 Klik

Follow Us