Wonderful Indonesia
Riau Pos berupaya menjembatani aspirasi pembaca atau masyarakat Riau pada umumnya. Jika itu berbentuk keluhan terhadap pemerintah daerah, Riau Pos akan menyiapkan liputannya dan diterbitkan di halaman ini. Termasuk instansi lain. Tentunya melalui kaedah atau etika yang sudah ditentukan. Dan Riau Pos berhak untuk memilih mana yang ditindaklanjuti dan yang mana tidak dengan berbagai pertimbangan. Kami juga akan mengedit seperlunya aspirasi pembaca yang dimuat, tanpa mengurangi/menghilangkan substansi isi. Untuk menyampaikan aspirasinya, silahkan kirim pesan teks atau foto, atau keduanya melalui:WA: 081334159333. Email/FB: riaupos.interaktif@gmail.com IG: @riaupos_interaktif, Twitter: @riaupos2017. Path: @riaupos2017.
Larangan Menyetrum Ikan
Nelayan Desak Pemkab Buat Perda
Jumat, 09 Februari 2018 - 10:06 WIB > Dibaca 342 kali Print | Komentar
PANGKALAN KERINCI (RIAUPOS.CO)   –   Kabupaten Pelalawan merupakan daerah yang memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah, salah satu bidang perikanan. Pasalnya, sebagaian besar wilayah tersebut berada di daerah perairan atau bantaran sungai yakni Sungai Kampar dan Sungai Nilo, sehingga banyak masyarakat setempat yang menggantungkan hidup menjadi nelayan.  

Hanya saja, saat ini kekayaan alam tersebut yakni habitat ikan di sepanjang aliran Sungai Kampar dan Sungai Nilo ini telah mulai hilang dan berkurang akibat kian maraknya aksi menangkap ikan dengan cara menyetrum. Alhasil, sejumlah warga khususnya para nelayan, mulai kesulitan dalam berburu ikan yang akan dijual untuk membiayai keperluan hidup ataupun  dijadikan sebagai lauk makan sehari-hari.

Para nelayan pun berharap agar pihak terkait dapat segera menertibkan pelaku penyetrum ikan yang telah melanggar aturan hukum tentang perikanan. Selain itu, para nelayan juga mendesak agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan, dapat segera membuat regulasi hukum yang jelas terkait larangan menangkap ikan dengan cara menyetrum ini membuat peraturan daerah (Perda).

‘’Ya, sejauh ini kami sebagai nelayan tradisonal yang menangkap ikan dengan cara menjala, bisa mendapatkan hasil sebanyak 5 hingga 10 kilogram dalam sekali menjala. Begitu juga dengan warga yang beraktivitas mencari ikan dengan cara memancing, bisa mendapatkan 5 kilogram ikan bahkan lebih. Tapi saat ini, kami harus bersusah payah mencari ikan dengan cara tradisional. Saat ini kami hanya mendapatkan ikan di aliran Sungai Kampar hanya 1 kilogram, bahkan kurang. Sehingga kondisi ini membuat kami kesulitan ekonomi akibat berkurangnya hasil tangkapan ikan yang kami dapat,’’ terang Amir.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh para nelayan lainnya yang berada di aliran Sungai Kampar dan Sungai Nilo seperti di Kecamatan Pelalawan, Langgam, Bunut serta Teluk Meranti dan Kuala Kampar,’’ terang Erik Suhendra (39) salah seorang nelayan di Dusun Kualo DesaTerusan Kecamatan Pangkalankerinci kepada Riau Pos, Kamis (8/2).

Diungkapkannya, bahwa mulai hilang serta berkurang habitat air yakni ikan di aliran Sungai Kampar tersebut, disebabkan kian maraknya oknum yang tidak bertanggungjawab melakukan penangkapan dan perburuan ikan dengan cara menyetrum, sehingga membuat ikan kecil ikut mati.

Bahkan, adanya proses penangkapan ikan menggunakan setrum listrik tersebut, tidak hanya berdampak terhadap  ekosistem perairan di sungai tersebut menjadi hilang, tapi juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya.

“ Jadi, selama ini di sepanjang aliran Sungai Kampar tersebut, banyak sebaran-sebaran anak sungai dan dihuni oleh banyak ragam jenis ikan seperti ikan baung, ikan tapa hingga udang galah. Tapi sekarang jenis –jenis ikan tersebut sudah mulai berkurang dan hilang habitatnya di aliran Sungai Kampar khususnya di Dusun Kualo. Ya, kalau aksi penangkapan ikan dengan cara menyetrum ini tidak segera dihentikan, maka tentunya lama kelamaan habitatnya akan menjadi habis dan lingkungan juga menjadi rusak. Untuk itu, maka kami mendesak  agar pihak terkait khususnya Pemkab Pelalawan melalui Dinas Perikanan, dapat segera menertibkan para pelaku penangkap ikan dengan cara menyetrum ini. Dan salah satu alternatifnya dengan membuat payung hukum yang jelas yakni Perda larangan menangkap ikan dengan menyetrum,” paparnya.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
KASUS MATCH FIXING
Kirim Perwakilan ke Singapura, BAM Pantau Sidang Dua Atletnya
Selasa, 20 Februari 2018 - 18:20 wib
MINTA APARAT MENGUSUT TUNTAS
MUI Curiga Ada Rekayasa Jahat Terkait Maraknya Kekerasan terhadap Ulama
Selasa, 20 Februari 2018 - 18:10 wib
TERKAIT KASUS NARKOBA
Belum Jenguk Dhawiya, Elvy Sukaesih Ternyata Sedang di Luar Kota
Selasa, 20 Februari 2018 - 18:00 wib
TERKAIT KASUS E-KTP
Bawa Tas Hitam, Novanto Tiba-tiba Sambangi KPK, Ada Apa?
Selasa, 20 Februari 2018 - 17:55 wib
TERKAIT VONIS HAKIM
Terungkap! Ajukan PK Kasus Dugaan Penistaan Agama, Ini Alasan Ahok
Selasa, 20 Februari 2018 - 17:50 wib
LAPORAN PBHI
Lagi, Ketua MK Dilaporkan ke Dewan Etik, Ini Penyebabnya
Selasa, 20 Februari 2018 - 17:30 wib
MASIH DIANALISIS
Terkait Surat Asimilasi Nazaruddin, KPK Segera Sampaikan Sikap Resmi
Selasa, 20 Februari 2018 - 17:20 wib
VIRAL DI MEDIA SOSIAL
Medali Piala Presiden Bambang Pamungkas Raib, Siapa Pelakunya?
Selasa, 20 Februari 2018 - 17:10 wib
TERKAIT KASUS E-KTP
Perantara Dugaan Suap Novanto Kembali Diperiksa KPK
Selasa, 20 Februari 2018 - 17:00 wib
PANDANGAN EGGI SUDJANA
Dalam Sistematika Hukum di Indonesia, Pengajuan PK Ahok Tidak Logis
Selasa, 20 Februari 2018 - 16:55 wib
Cari Berita
Interaktif Terbaru
55 Situs Budaya Diusulkan Jadi WBTB

Selasa, 20 Februari 2018 - 10:51 WIB

Memilih Sesuai Alamat KTP-el

Senin, 19 Februari 2018 - 11:37 WIB

Jalan Garuda Sakti Dibiarkan Rusak

Senin, 19 Februari 2018 - 08:35 WIB

Kampar Kiri Minta Jalan Lintas Prioritas

Sabtu, 17 Februari 2018 - 10:49 WIB

18 Tahun Menanti Jalan Tak Kunjung Diperbaiki

Sabtu, 17 Februari 2018 - 10:46 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us