Wonderful Indonesia
PERISA
Lagi, Kampung Langit
Minggu, 04 Februari 2018 - 17:44 WIB > Dibaca 567 kali Print | Komentar
Lagi, Kampung Langit
Oleh: Yusmar Yusuf

Pada sudut sebuah subuh, ada tarhim, ada munajat. Lantun itu berulang-ulang, keluar dari bejana pengeras suara sebuah masjid berkelambu hujan, bertirai embun. Subuh yang gigil, di sebuah rumah tinggi tepi sungai. Sebuah laman berkebun air yang bergerak, menuju hilir dan bersua dengan segala ihwal yang asing dan lain. Dari hulu, sebuah malam ada gerak dan lantun manusia tepi batang sungai yang tak pernah tidur. Dahan, ranting dan segala umbut yang lunak, meragi bunyi dan mengulinya menjadi sesuatu yang bernyawa khayali.

Di tengah malam buta, ada kampung yang berderap dan gemeretap. Cuap manusia yang berpuisi, menjahit ingatan tentang sesuatu yang terbit kian dan masuk ke dunia akan. Ya, anak-anak kampung yang mengalami persemaian besar untuk masuk dalam deras arus yang bergolak dan berbuncah. Langit yang gelap, tebal dan menghentak menjadi tiang hujan, sebuah cara memandikan kampung ini dalam versi yang tak terduga. Bulan menghilang dan diganti dengan sejumlah bulan dan bintang yang terbit di hati para penyair, di batin para syekh dan khalifah. Di kampung ini, orang-orangnya tak lepas wudu.

Kanak-kanak menjinjit bulan. Di ujung jari mereka ada benderang dan suluh menuju pada satu titik tempat orang berhimpun pepat, demi mengisi malam. Tak sekedar mengisi, namun juga mengolah sehingga malam yang datar dan beku, menjadi gembur lalu layak ditanam dengan berbagai jenis tanaman ideal, ideasi, gagasan, khayali yang menebuk tembok batas ke masa depan. Tembok itu memang tak roboh, tapi lentur, dan menyediakan dirinya sebagai busur untuk memberi laluan anak panah melesat dengan kecepatan diagonal sekaligus mayor.

Para tetua yang semalam-malam membungkus mata kaki hingga tengkuk dengan kain tebal, hari itu datang dalam sejumlah solekan dan langkah pasti berbaju kurung sodong. Mereka menemui malam yang geriang, lincah dan jernih untuk membangun cerita kala pagi ‘menagihnya’.  Pagi yang menagih ialah pagi yang mengurai. Sebuah pagi yang mengurai ialah pagi yang diisi derai tawa dan renyah senyum. Orang sini, berlalu lalang dalam jarak-jarak pendek. Dari hulu ke hilir kampung. Yang disua selama perjalanan pendek itu tetap yang itu-itu juga. Tiada yang lain.

Namun pada malam ini, garis dan jarak pendek itu menghadirkan serumpun rasa lain dan asing yang mengolah cerdas dan mengungkai segala yang diam dalam lalu sejarah yang bisu. Garis dan jarak pendek itu merekah menyembulkan bunga wangi. Setiap orang berkeinginan menjadi pencerita dan terlibat dalam penceritaan panjang tentang rekahan wangi malam jelang subuh. Setiap orang seakan diberi hak bersulih suara tentang dia, tentang mereka dan segala ihwal yang tersadai di lorong ingatan dalam zaman berjenak.

Di kampung langit, orang bertelanjang kaki. Datang pergi mengisi dan menjemput kedatangan ‘yang lain’ dalam langkah kaki-kecil, lamat-lamat dan pendek-pendek. Di sini ujung kaki menjadi saksi, betapa kampung langit, hanya memberi sediaan cahaya kepada mata kaki yang bercahaya pula. Di sini teknologi alas kaki, cukup disimpan di balik daun pintu yang kaku. Lalu orang-orang di kampung langit ini, menanjak menuju ketinggian diam. Dan hidup itu adalah diam dan berbuat... Di antara itulah kampung langit memberi takwil tentang sesuatu yang layak disangkutkan di masa depan.

Kampung-kampung yang berderet sepanjang sungai, adalah jua kampung “diam” yang mewangi dan menanti. Kampung dan hujan adalah sebati musim yang tak boleh dielak dalam kejelitaan; di sini mualim mencari arah, di sini pula penyair mengukir kata. Di sini penjaja bersulih bunyi dan rendang nan renyah. Bahwa di kampung-kampung, orang menemukan diri yang “hilang” oleh kesesatan waktu dan kerimbunan zaman. Di kampung-kampung orang-orang menuai rindu untung satu tujuan; menggenapkan keindahan cahaya rembulan walau gerhana sekalipun. Tentang bulan dan gerhana, orang-orang dan kita selalu terpaut pada sebuah momen. Dan momen pula yang menggenapkan tangga-tangga prestasi dan serangkaian kecoh muslihat yang bergerak zig-zag.

Di kampung, orang bisa dan biasa hidup sendiri. Tentang sendiri dan kesendirian, ada kilah dari seorang tokoh eksistensialisme: “Untuk hidup sendirian orang harus menjadi binatang atau dewa – ujar Aristoteles. Ada yang ketiga: orang harus menjadi kedua-duanya—yaitu seorang filsuf”, kata Nietzsche. Di kampung, ternyata orang boleh menjadi seorang filsuf sebagaimana Martin Heidegger. Lalu, bimbangkah dengan kampung? Dari kampung-kampung pula terlahir para sufi nan agung sebagaimana Uwaisy al Qurny dahulu kala, yang membuat ruang spiritual sang mursalin (Muhammad suci) bergetar dan berdecak.***   

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
MUI PERTANYAKAN KE POLISI
Apa Iya Penyerang para Ulama adalah Orang Gila?
Kamis, 22 Februari 2018 - 01:16 wib
POLISI PATROLI DI DUNIA MAYA
Hati-hati Bermedia Sosial, Belasan Tersangka sudah Ditangkap
Kamis, 22 Februari 2018 - 00:25 wib

Gitaris Slank Proses Cerai, Mediasi Gagal
Kamis, 22 Februari 2018 - 00:02 wib
MASIH BERADA DI SAUDI
Terkuak! Ini Alasan Habib Rizieq Batal Pulang Hari Ini
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:55 wib
SEDANG DIINCAR POLISI
Maudy Koesnaedi Bantah Dirinya Artis Inisial MK Terkait Kasus Narkoba
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:45 wib
GELAR BAKTI SOSIAL DONOR DARAH
HUT Ke-61, Astra Tetap Tumbuh dan Gesit
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:36 wib
DUGAAN MERINTANGI PENYIDIKAN
Kata KPK, Dokter yang Tangani Novanto di RS Permata Hijau Segera Disidang
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:30 wib
DITERIMA MA
Ahok Ajukan PK Kasus Dugaan Penistaan Agama, Habib Rizieq Sedih
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:15 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Lelaki Tua dan Boneka

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:15 WIB

Metonimia

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:08 WIB

Sekitar Botol Kosong  di Begawai Sastra

Minggu, 18 Februari 2018 - 10:39 WIB

Tafsir Bebas dari Mitos ke Teater

Minggu, 18 Februari 2018 - 10:34 WIB

Bokal, Menepis Kekosongan

Minggu, 18 Februari 2018 - 10:20 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us