Wonderful Indonesia
RANGGI
Kelegaan Semesta
Minggu, 04 Februari 2018 - 12:40 WIB > Dibaca 802 kali Print | Komentar
Kelegaan Semesta
Ilustrasi.
Berita Terkait



KEUNIKAN dan kekayaan budaya satu puak atau kaum, bisa membuat puak di luar kebudayaan itu merasa takjub. Begitu pula sebaliknya. Ketakjuban itu lahir, dikarenakan satu dan lainnya saling berjarak. Dalam kajian kekinian, terutama sastra, hal ini disebut jarak estetik (aesthetic distance).

Istilah jarak estetik ini dikemukakan seniman asal Kota Bandung (Jawa Barat) Herry Dim dalam diskusi kreatif yang berlangsung beberapa hari lalu di Anjungan Kampar, Komplek Bandar Serai, Kota Pekanbaru. Ketertarikan para seniman terlihat dari cara mereka mengemukan pandangannya atas fenomena dunia penciptaan (Pengkaryaan, red) musik di Riau selama ini. Sebagian besar berpandangan, negeri berjuluk Lancang Kuning ini terbentuk atas dua kultur, darat dan pesisir. Keduanya, saling mengisi dan menyumbangkan kekuatan masing-masing sehingga Riau menjadi kaya akan tradisi.

Kekayaan dan keunikan tradisi di masing-masing daerah, kampung, teratak, diceruk-ceruk tanah Melayu ini dianggap Herry Dim sebagai modal besar untuk diangkat menjadi karya yang unggul. “Saat saya melihat kawan-kawan memainkan calempong, terus terang saya takjub dan gembira. Namun bagi kawan-kawan (orang Riau), hal itu biasa-biasa saja karena kerap kali menonton, bahkan memainkannya. Tapi bagi saya, yang jelas-jelas berjarak dari tradisi Melayu, calempong adalah sesuatu yang baru dan bernilai seni agung,” ulasnya panjang lebar.
 
Ia pun mengurai, banyak orang Indonesia, kadang tidak menyadari bahwa tradisi yang dimilikinya hanyalah sesuatu yang kuno. Mereka tidak tertarik dan menganggap tradisi nenek moyang tidak memberi apa-apa karena sudah tidak ada jarak sama sekali. Maka sensitifitas pudar dan tak ada lagi rasa kagum pada tradisi sendiri. Sehingga mereka (orang awam) lebih tertarik pada tradisi baru yang dibawa bangsa lain ke negeri ini.

Nah, inilah tugas para intelektual, salah satunya seniman untuk membangkitkan kembali tradisi-tradisi yang ditinggalkan itu melalui karya musik, teater, film, tari, sastra, seni rupa, dan lainnya.  

“Analoginya kira-kira begini, ambillah salah satu dari banyak kekayaan tradisi kita dan masukkan dalam sebuah frame (bingkai) seperti lukisan, foto, dan seterusnya. Saat kita mampu mengambil jarak dari tradisi itu, barulah kita dapat melihat dan merasakan, betapa hebat dan agungnya karya nenek moyang kita tersebut. Inilah yang disebut aesthetic distance (jarak estetik),” ulas Herry Dim panjang lebar.

Pandangan senada diutarakan Rusli Keleeng juga asal Kota Bandung (Jabar). Saat ini, orang Indonesia seperti kehilangan jati diri. Nyaris tanpa identitas. Sebab memahami bangsa ini lewat wacana serta literatur yang diserahkan orang lain pada kita. Misal, kita punya alat gesek dan alat seperti rebab dan alat pukul tapi kita justru berpijak pada pola dan cara orang luar. Hilang kemampuan kita mengolah kekayaan instrument sendiri.
Kenapa? Chip kita ada di luar.

Ada banyak titik bercahaya di dunia ini, tapi orangnya tak mau melakukan. Ada yang mengenal tapi tak mau melakukan. Ada yang melakukan tapi malu. Takut dianggap kampungan dan sebagainya. Padahal banyak sekali sumber inspirasi di negeri ini.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
MUI PERTANYAKAN KE POLISI
Apa Iya Penyerang para Ulama adalah Orang Gila?
Kamis, 22 Februari 2018 - 01:16 wib
POLISI PATROLI DI DUNIA MAYA
Hati-hati Bermedia Sosial, Belasan Tersangka sudah Ditangkap
Kamis, 22 Februari 2018 - 00:25 wib

Gitaris Slank Proses Cerai, Mediasi Gagal
Kamis, 22 Februari 2018 - 00:02 wib
MASIH BERADA DI SAUDI
Terkuak! Ini Alasan Habib Rizieq Batal Pulang Hari Ini
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:55 wib
SEDANG DIINCAR POLISI
Maudy Koesnaedi Bantah Dirinya Artis Inisial MK Terkait Kasus Narkoba
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:45 wib
GELAR BAKTI SOSIAL DONOR DARAH
HUT Ke-61, Astra Tetap Tumbuh dan Gesit
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:36 wib
DUGAAN MERINTANGI PENYIDIKAN
Kata KPK, Dokter yang Tangani Novanto di RS Permata Hijau Segera Disidang
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:30 wib
DITERIMA MA
Ahok Ajukan PK Kasus Dugaan Penistaan Agama, Habib Rizieq Sedih
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:15 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Lelaki Tua dan Boneka

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:15 WIB

Metonimia

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:08 WIB

Sekitar Botol Kosong  di Begawai Sastra

Minggu, 18 Februari 2018 - 10:39 WIB

Tafsir Bebas dari Mitos ke Teater

Minggu, 18 Februari 2018 - 10:34 WIB

Bokal, Menepis Kekosongan

Minggu, 18 Februari 2018 - 10:20 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us