Wonderful Indonesia
Manusia-Manusia yang Paradoks
Minggu, 04 Februari 2018 - 16:30 WIB > Dibaca 686 kali Print | Komentar
Manusia-Manusia yang Paradoks
Salah satu adegan Dilanggar Todak karya Marhalim Zaini bersama Suku Teater Riau ini akan disuguhkan ke hadapan publik pada 22-24 Februari 2018 di Anjung Seni Idrus Tintin. (Foto: suku Teather Riau for Riau Pos)
Berita Terkait





SEBAGAIMANA sebuah tafsir bebas, cara kerja penciptaan teks dan panggung Dilanggar Todak adalah proses keluar-masuk, dari sejarah ke mitos ke realitas kekinian. Proses tersebut, bisa jadi, berkelindan dalam keliaran yang jauh, tapi tetap kembali ke muara: oto-kritik atas diri orang Melayu, atas diri umat manusia.

Oto-kritik itu bisa jadi berbunyi, “Jangan membunuh masa depan hanya karena hendak kembali ke masa silam.” Atau boleh jadi juga berbunyi, “Jangan cari todak di luar dirimu, karena todak ada di dalam dirimu...”

Maka simbol-simbol bermain sangat dominan dalam artistik pertunjukan teater-puisi  berjudul Dilanggar Todak karya penulis teks sekaligus sutradara Marhalim Zaini SSn MA bersama komunitasnya Suku Teater Riau.

Kata-kata (teks verbal) kadang hanya lalu-lalang untuk sekedar menyambung narasi, memperkokoh peristiwa, atau bahkan ia menjadi simbol itu sendiri. Sebagaimana teks puisi yang kerap menampilkan citraan dan imaji, boleh jadi penonton akan menyaksikan puisi yang bergerak sunyi penuh citraan di panggung Dilanggar Todak.

Meskipun begitu, simbol utama tetap bersumber dan berkaitan dengan cerita Singapura Dilanggar Todak yang lebih dekat dunia laut, dunia maritim, dunia kepulauan. Jaring, ikan, kapal, dan sejenisnya tetap dipertahankan sebagai simbol kunci yang memperkuat relasi-relasi tematik. Tubuh-tubuh aktor adalah tubuh-tubuh yang terbelah, tubuh yang gamang memikul sejarah dan kutukan, tubuh yang tak mampu mengidentifikasi dirinya dalam satu entitas bernama manusia. Maka yang lahir kemudian adalah manusia-manusia yang paradoks.

Sebutan “teater-puisi” secara konsepsional dapat merujuk ke sana. Bahwa, selain pertunjukan ini juga bersumber dari puisi panjang Dilanggar Todak, Mitos-mitos Kota Pendurhaka karya Marhalim Zaini (dimuat di Kompas).

Boleh jadi , “teater-puisi” adalah juga sebuah ruang pencarian bentuk-bentuk estetika baru dalam wilayah yang lebih luas, yang mencoba mempadu-padankan antara puisi dan teater. Sekaligus, di lain sisi, melepaskan ikatan-ikatan definitif kedua genre tersebut, untuk kemudian meleburkannya dalam satu ikatan baru. Boleh jadi juga, “teater-puisi” adalah sebuah istilah untuk kemudian saling meniadakan, dan melebur menjadi satu entitas baru, yang mungkin belum bernama.

Dilanggar Todak adalah sebuah pertunjukan untuk menandai lahirnya sebuah kelompok teater baru di Riau, yang diber nama Suku Teater Riau, sekaligus penanda bagi berdirinya sebuah kantong budaya di Pekanbaru bernama Rumah Kreatif Sukuseni Riau. Kelompok ini didirikan Marhalim Zaini SSn MA yang juga sekaligus menjadi penulis naskah dan sutradara dalam pertunjukan perdana ini, akan digelar di Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru pada 22-24 Februari 2018 mendatang.

Dikatakan Marhalim, dalam pertunjukan teater Dilanggar Todak, kisah tidak secara utuh diceritakan kembali di atas panggung. Todak adalah sumber konflik, sumber bencana, sumber masalah, yang ada di mana-mana. Todak, dalam Dilanggar Todak telah menjelma sesuatu yang misterius, kadang ia tak kasat mata, dilihat tiada, tapi dirasa terus merajalela. Namanya terus disebut orang-orang. Orang-orang merasa dikejar-kejar oleh todak, dihantui oleh todak, tapi pada waktu yang sama orang-orang justru tak bisa lepas dari ketergantungannya terhadap todak. Maka todak menjadi semacam “marwah” yang mesti dijunjung tinggi, sekaligus juga todak menjadi “musuh” yang mesti dilawan.

“Dunia pradoks dihuni oleh manusia-manusia paradoks, yang bermuka dua, bermuka seribu. Lalu siapakah atau apakah “Todak” itu sesungguhnya? Entahlah...” ungkapnya.(fed)

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
MUI PERTANYAKAN KE POLISI
Apa Iya Penyerang para Ulama adalah Orang Gila?
Kamis, 22 Februari 2018 - 01:16 wib
POLISI PATROLI DI DUNIA MAYA
Hati-hati Bermedia Sosial, Belasan Tersangka sudah Ditangkap
Kamis, 22 Februari 2018 - 00:25 wib

Gitaris Slank Proses Cerai, Mediasi Gagal
Kamis, 22 Februari 2018 - 00:02 wib
MASIH BERADA DI SAUDI
Terkuak! Ini Alasan Habib Rizieq Batal Pulang Hari Ini
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:55 wib
SEDANG DIINCAR POLISI
Maudy Koesnaedi Bantah Dirinya Artis Inisial MK Terkait Kasus Narkoba
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:45 wib
GELAR BAKTI SOSIAL DONOR DARAH
HUT Ke-61, Astra Tetap Tumbuh dan Gesit
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:36 wib
DUGAAN MERINTANGI PENYIDIKAN
Kata KPK, Dokter yang Tangani Novanto di RS Permata Hijau Segera Disidang
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:30 wib
DITERIMA MA
Ahok Ajukan PK Kasus Dugaan Penistaan Agama, Habib Rizieq Sedih
Kamis, 21 Februari 2018 - 20:15 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Lelaki Tua dan Boneka

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:15 WIB

Metonimia

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:08 WIB

Sekitar Botol Kosong  di Begawai Sastra

Minggu, 18 Februari 2018 - 10:39 WIB

Tafsir Bebas dari Mitos ke Teater

Minggu, 18 Februari 2018 - 10:34 WIB

Bokal, Menepis Kekosongan

Minggu, 18 Februari 2018 - 10:20 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us