Wonderful Indonesia
Tangani Banjir dengan Neraca Air
Minggu, 04 Februari 2018 - 10:25 WIB > Dibaca 269 kali Print | Komentar
Tangani Banjir dengan Neraca Air
LEWATI GENANGAN: Warga berusaha melewati genangan air yang cukup tinggi akibat luapan anak Sungai Sail di Jalan Lembah Raya Pekanbaru, beberapa waktu lalu. (CF1/MIRSHAL/RIAU POS)
PEKANBARU (RIAUPOS.CO)-Bencana banjir menjadi perhatian beberapa daerah di Riau, khususnya di daerah rawan, seperti yang berada di sekitar pinggiran sungai. Untuk itu, langkah antisipasi dan pencarian solusi dinilai mendesak untuk mengeliminir dampak ekologis dari ancaman luapan air dalam jumlah besar tersebut.

Pemerhati lingkungan Riau Tengku Ariful menilai solusi untuk persoalan banjir tersebut sejatinya perlu dilakukan sejak dini. Salah satunya dengan mengkalkulasikan neraca air. Dengan inovasi ini diharapkan dapat menjadi langkah antisipasi dan kesiapsiagaan sebelum diterpa banjir.

‘’Memang inovasi mengeliminir banjir itu sudah banyak. Untuk efektifnya sudah tergantung takaran kebutuhan. Tapi yang paling harus dilakukan adalah dengan mengukur neraca air,’’ tuturnya saat berbincang dengan Riau Pos, baru-baru ini.

Menurutnya, neraca air secara akademis adalah menghitung jumlah air yang jatuh pada saat musim hujan yang paling tinggi. Kemudian kalkulasi air itu bisa dimanfaatkan secara optimal.

Dimana sasaran dari mengkalkulasikan neraca air ini adalah agar aspek ekologi seperti vegetasi dan hidrologi seimbang. Sehingga eraca akan fleksibel. Dimana pada musim kemarau, akan mendistribusikan ke kawasan. Sedangkan pada musim hujan air juga tidak melimpah ke kawasan umum atau pemukiman masyarakat.

‘’Yang jelas kalau banjir itu terjadi akibat masa simpan air di daerah aliran sungai tidak signifikan berfungsi. Karena kegiata fungsinya tidak lagi berbicara, maka alirannya dilepas dari daratan tinggi ke rendahm sehingga dataran rendah terancam terkena ancaman banjir,’’ terang Akademisi Univeritas Riau itu.

Apalagi dari informasi diprediksi cuaca di provinsi tetangga curah hujan masih tergolong tinggi. Bukan tidak mungkin, banjir besar akibat dibukany waduk Koto Panjang seperti beberapa waktu terulang kembali. Bahkan dengan intensitas yang lebih besar.

‘’Desakan alam tidak bisa dihindari. Kalau tidak ditangani secara komprehensif, dampak ekologi yang dirasakan akan sangat besar.Tidak ada kehidupan tanpa air. Yang dilakuan pada tiga dekade masa lalu menanam tanaman mono kukltur yang tidak menghitung masa air. Yang tidak mempertimbangkan vegetasi,’’ sambungnya.  

Direktur Rona Lingkungan itu menyontohkan kawasan gambut, per 10 cm tebal gambut yang luasnya 1 hektare bisa menyimpan 500 meter kebuik air. Sementara di Riau 60 persen adalah gambut dengan ketebalan bervariasi 20-30 meter. Yang 30 meter masih tersimpan di kawasan Siak.

‘’Ini merupakan catchment area, kalau hutan digunduli, kawasan gambutr akan mengering. Itu tidak akan bisa kembali lagi menjadi gambut. 10 cm tebal gambut perkirannya untuk mendapatkan kondisi itu memperlukan waktu sekitar 5000 tahun. Makanya sering saya sebutkan pengundulan hutan yang tidak memperhatikan neraca air akan mematikan kehidupan secara totalitas,’’ tambah Ariful.

Untuk contoh Pekanbaru menurut Ariful masih belum maksimal. Karena tidak membuat lokasi berdasarkan cathment area.  Dari analisanya di 12 kecamatan di Pekanbaru mulai mendapatkan ancaman serius dari sisi limpahan air pada hujan paling deras, ditambah lagi volume daya tampung drainase yang tidak  seimbangan dengan kondisi drainase.

Langkah strategis itu tambahnya akan memberikan warna yang lebih kondusif untuk kondisi ekologi. Sebab satu abad mendatang persoalan lingkungan menjadi hal yang disorot untuk dapat dilakukan upaya pendekatan yang ramah lingkungan untuk antisipasi banjir.

Yang mahal itu tambah Ariful adalah bagaimana mengedukasi seluruh stakeholder agar peduli terhadap persoalan ini. Sehingga banjir yang melanda saat hujan turun dapat diantisipasi sejak dini.

Potens  hujan yang mengguyur beberapa daerah di Riau terus menjadi perhatian, pasalnya hal ini dapat berimbas pada terjadinya banjir di beberapa daerah rawan. Untuk itu langkah antisipasi sejak dini sangat diperlukan guna mengeliminir dampak ekologis yang dapat terjadi.

Untuk itu, Kepala Badan Penaggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau, Edward Sanger telah melakukan koordinasi dan menyampaikan informasi dan sosialisasi ke stakeholder terkait. kBegitu juga kepada tim BPBD di daerah serta menginformasikan kepada masyarakat dalam mengantisipasi bencana banjir.

“Langkah antisipasi memang perlu menjadi perhatian bersama. khususnya di daerah rawan dan pemukiman yang berada dan tinggal di bantaran sungai. Itu tentunya terus kita inventarisir,’’ urainya, kemarin.  

Beberapa daerah rawan yang dimaksud meliputi, Kabupaten Kampar, karena Kampar dan juga Rokan Hulu. Begitu juga beberapa daerah lainnya di kawasan pesisir hingga ke Indragiri Hilir dan Rokan Hilir. Diharapkan, dengan langkah antisipasi, kerawanan banjir dapat dieliminir.***
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
AKAN DILAPORKAN KE KPK
Komentari "Nyanyian" Nazar soal Korupsi, Fahri: Bohong, Tak Ada Buktinya!
Selasa, 20 Februari 2018 - 18:40 wib
JIKA GUNAKAN CARA PAKSA
Keras! FPI Minta Polisi Tidak Ganggu Kepulangan Habib Rizieq
Selasa, 20 Februari 2018 - 18:30 wib
KASUS MATCH FIXING
Kirim Perwakilan ke Singapura, BAM Pantau Sidang Dua Atletnya
Selasa, 20 Februari 2018 - 18:20 wib
MINTA APARAT MENGUSUT TUNTAS
MUI Curiga Ada Rekayasa Jahat Terkait Maraknya Kekerasan terhadap Ulama
Selasa, 20 Februari 2018 - 18:10 wib
TERKAIT KASUS NARKOBA
Belum Jenguk Dhawiya, Elvy Sukaesih Ternyata Sedang di Luar Kota
Selasa, 20 Februari 2018 - 18:00 wib
TERKAIT VONIS HAKIM
Terungkap! Ajukan PK Kasus Dugaan Penistaan Agama, Ini Alasan Ahok
Selasa, 20 Februari 2018 - 17:50 wib
HASIL PENELITIAN INDEF
Dibandingkan Jokowi-JK, SBY-Boediono Lebih Bagus soal Lapangan Kerja
Selasa, 20 Februari 2018 - 17:40 wib
LAPORAN PBHI
Lagi, Ketua MK Dilaporkan ke Dewan Etik, Ini Penyebabnya
Selasa, 20 Februari 2018 - 17:30 wib
MASIH DIANALISIS
Terkait Surat Asimilasi Nazaruddin, KPK Segera Sampaikan Sikap Resmi
Selasa, 20 Februari 2018 - 17:20 wib
VIRAL DI MEDIA SOSIAL
Medali Piala Presiden Bambang Pamungkas Raib, Siapa Pelakunya?
Selasa, 20 Februari 2018 - 17:10 wib
Cari Berita
Pekanbaru Terbaru
Oktober, Pasar Induk Difungsikan

Selasa, 20 Februari 2018 - 12:45 WIB

Organda Protes Pajak Pertalite

Selasa, 20 Februari 2018 - 12:37 WIB

Komunitas Lingkungan Suarakan Pemilahan Sampah

Selasa, 20 Februari 2018 - 12:16 WIB

4.172 Orang Ikut Seleksi PSB UPT-LK

Selasa, 20 Februari 2018 - 12:13 WIB

Pembangunan Puskesmas Terganjal Lahan

Selasa, 20 Februari 2018 - 12:08 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us