So Sweet Keke dan Nico

Rabu, 30 Nov 2016 - 11:10 WIB > Dibaca 1150 kali | Komentar

Saya tidak pernah menyangka, Keke Rosberg seorang ayah yang luar biasa. Itu terlihat pada satu momen monumental. Ketika anaknya, Nico Rosberg, jadi juara dunia Formula 1 2016.

***
Keke Rosberg dan Nico Rosberg. Ayah dan anak juara dunia Formula 1. Keke –nama aslinya Keijo Erik Rosberg—meraih gelar balap paling bergengsi itu pada 1982, sedangkan Nico merebutnya pada Ahad lalu (27/11) di Abu Dhabi.

Ini merupakan pasangan ayah-anak kedua yang menjadi juara dunia. Setelah Graham Hill dan Damon Hill. Persamaannya, ada selisih 34 tahun antara gelar Graham dan Keke dengan Damon dan Nico. Bedanya, Graham Hill sudah lama meninggal ketika Damon menjadi world champion pada 1996.

Keke, kini berusia 67 tahun, bercanda ketika disinggung soal ini. Dia bilang, Graham memang tidak bisa menyaksikan Damon juara. Tapi dia sendiri juga mungkin tidak bisa menunggu lebih lama lagi…
Wkwkwkwk???
***
Terus terang, walau penggemar berat F1 dan merupakan salah satu jurnalis Indonesia dengan akses paling besar ke ajang tersebut, saya tidak pernah menjadi penggemar berat Nico Rosberg. Pada 2006, saya beruntung pernah menjadi saksi debut pertama pembalap berambut pirang itu. Waktu itu meliput Grand Prix Bahrain bersama Dewo Pratomo dan Raka Denny.

Waktu itu Rosberg naik Williams-Cosworth, kombinasi sasis dan mesin yang sama dengan yang mengantarkan ayahnya jadi champion pada 1982. Hanya saja, Williams pada 2006 sedang dalam masa sulit, jadi harapan terbaik Nico Rosberg kala itu adalah di papan tengah.

Hanya saja, pertanda istimewa sudah muncul di Bahrain itu. Rosberg finis ketujuh di lomba perdananya, meraih poin di lomba pertamanya. Saking istimewanya, saya menulis khusus soal Rosberg setelah lomba tersebut. Tapi tetap saja, waktu itu saya tidak “tersentuh” untuk menjadi penggemar Rosberg. Saya sangat respek, dan berharap dia sukses, tapi bukan pembalap yang saya ikuti secara mendetail perkembangannya.

Keramahan dan ketenangan Rosberg selama di F1 juga membuat saya tidak pernah tidak menyukainya. Tapi sekali lagi, saya bukan penggemar dia. Saya kira kita semua sama dalam menyikapi para bintang olahraga. Kira-kira ada empat tingkat kesukaan itu:
Level A: Yang kita suka sepenuh hati.

Level B: Yang bagi kita biasa-biasa saja tapi respect.
Level C: Yang bagi kita benar-benar biasa saja.

Level D: Yang kita benci sepenuh hati sampai rela berantem di medsos (karena kalau berantem beneran mungkin ya tidak berani).
Sikap saya terhadap Rosberg ya di Level B itu lah.

***
Awal tahun 2016 ini, saya sempat menonton lomba pembuka di Australia. Rosberg menang meyakinkan. Dalam analisa lomba, saya menulis bahwa ini pertanda Rosberg bakal juara dunia. Bukan karena sok pintar atau karena dapat “ilham” spesial. Melainkan karena statistik memang pemenang lomba perdana kans untuk jadi champion-nya lebih besar.

Lomba demi lomba dia menangi. Namun momentum lantas berubah, giliran rekan setimnya –yang memang dianggap lebih berbakat-- yang menang terus. Memasuki lomba penutup di Abu Dhabi, posisi Rosberg agak terancam. Dia harus finis minimal di urutan tiga untuk jadi juara dunia. Lewis Hamilton, rekannya, wajib menang.

Wow, sepuluh putaran terakhir lomba benar-benar mendebarkan. Hamilton tampil agak “nakal”, sengaja melamban supaya Rosberg di belakangnya ikut tertahan. Harapan Hamilton, Rosberg bakal disalip oleh dua pembalap lain yang juga menempel di belakang.

Rosberg begitu tenang. Tidak panik. Tidak gegabah.

Di garis finis, Hamilton menang, Rosberg kedua. Rosberg world champion. Saat itu, saat mata agak mengantuk, saya langsung memiliki respect lebih tinggi kepada Nico Rosberg. Ini orang tidak aneh-aneh, tapi mampu menunjukkan “dingin”-nya seorang champion.

Apa yang terjadi setelah itu justru membuat saya lebih menyukainya lagi. Bahkan jadi ikut menyukai ayahnya, Keke. Padahal, meski saya bukan lagi anak muda, zaman Keke itu zaman yang lebih baheula lagi. Sebuah video yang diunggah Nico Rosberg via Twitter yang melumatkan hati saya. Dengan judul yang sangat simple tapi dahsyat: Danke Mama und Papa.

Silakan cari, gampang kok. Panjangnya lima menit, tapi setiap detiknya menyentuh… Di dalamnya, Nico Rosberg menunjukkan video saat dia masih kecil, belum sampai sepuluh tahun. Dia latihan go-kart, dipandu dan dimekaniki sendiri oleh Keke. Bahkan, Keke mengisikan bahan bakar, mencatat waktu pakai stopwatch, mengelap go-kart supaya bersih, membantu memasang dan melepas helm, membantu mengusap wajah Nico setelah latihan, dan lain sebagainya.

Nico benar-benar terlihat imut. Keke benar-benar terlihat seperti seorang ayah. Pas banget dengan lagu Thinking Out Loud-nya Ed Sheeran…So sweet…

***
Saat lomba di Abu Dhabi itu, Keke Rosberg tidak menonton langsung di sirkuit. Dia berada di kawasan itu, tapi sejak awal pekan menjaga jarak dari sang anak.

Alasannya, dia tidak ingin mengganggu sang anak. Dia tidak ingin menarik perhatian dari sang anak. Karena dia sadar betul, media akan terus memburu setiap gerakan, ekspresi, dan komentarnya. Dia memberi tahu Nico soal itu. Jadi Nico tahu sang ayah ada tidak jauh, tapi tidak mau mengganggu di lintasan.

Keke menonton lomba mendebarkan itu di rumah seorang teman. Dia baru melaju ke sirkuit setelah lomba, menemui dan memeluk sang anak sekitar satu jam setelah finis. Setelah itu baru dia mau bicara kepada media.

Dan semua baru sadar, bahwa itu sebenarnya kali pertama dia banyak bicara di media sejak 2010! Pada intinya, sejak anaknya mulai naik kelas di F1, dia mencoba menjauh. “Sudah waktunya bagi saya untuk melangkah mundur,” ucapnya.

Ke depannya, Keke mengaku tidak akan mengubah sikap ini. Dia sebisa mungkin akan mencoba untuk tidak mengganggu Nico Rosberg di sirkuit, atau di mata publik. “Saya sudah terbiasa dengan ini. Tugas saya adalah mendukungnya secara private,” ungkapnya.

Bayangkan, seorang mantan juara dunia, yang anaknya sekarang juga juara dunia, memilih untuk menghindari sorotan? Salut pada Keke Rosberg! Jangankan pembalap kelas dunia, di kehidupan sehari-hari saja mungkin jarang ada ayah yang seperti itu. Sebagai salah satu dari sekian banyak second generation, saya tahu betul ada banyak teman saya yang sampai sukses pun masih terus “diganggu” oleh orang tuanya…

Setelah membaca komentar itu, saya langsung mengecek koleksi miniatur F1 saya, yang jumlahnya ribuan. Memastikan kalau saya sudah punya replika mobil Keke Rosberg…

***
Respect terhadap Nico Rosberg ternyata masih bisa bertambah sehari kemudian. Pagi setelah lomba, muncul gambar Nico Rosberg berjalan bergandengan dengan istri dan anaknya. Bunyi komentar Rosberg: “Perlahan menyadari apa yang telah terjadi kemarin. Ternyata sekarang saya sudah berhasil meraih trofi ketiga…”

Gelar juara dunia itu adalah trofi ketiga setelah sang istri dan sang anak… So sweet…***

KOMENTAR
BERITA POPULER
Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

21 Feb 2018 - 02:17 WIB | 471 Klik
KFC Tutup Ratusan Restorannya

KFC Tutup Ratusan Restorannya

21 Feb 2018 - 01:16 WIB | 371 Klik
Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

21 Feb 2018 - 00:31 WIB | 369 Klik
Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

21 Feb 2018 - 00:02 WIB | 311 Klik
Sky Energy Melantai, Harga Sahamnya Rp375-Rp450 Per Lembar

Sky Energy Melantai, Harga Sahamnya Rp375-Rp450 Per Lembar

21 Feb 2018 - 00:44 WIB | 243 Klik

Follow Us