Wonderful Indonesia
Cerpen Marzuli Ridwan Al-bantany
Selepas Hujan
Minggu, 07 Januari 2018 - 16:50 WIB > Dibaca 935 kali Print | Komentar
Selepas Hujan
JANTUNGKU berdetak kencang. Hujan ribut disertai gemuruh halilintar di sepertiga malam yang akhir, dengan beringas menyentak tidurku. Ya, tidurku baru saja pulas, baru saja aku memba­ringkan tubuh, merangkai potongan-potongan mimpi yang bergelantungan di langit-langit kamar.

Apa yang kurisaukan hanyalah soal rumah yang kami tempati sekeluarga, juga rumah-rumah sejumlah warga yang berjejer di kiri kanan sepanjang bantaran sungai kecil di dusun ini. Kontan saja jika kekhawatiranku melambung ke angkasa, menembus sekat-sekat malam, karena hujan yang jatuh dari langit bagai kerikil-kerikil tajam siap menusuk. Juga hembusan angin yang bersiung seakan hendak merobek-robek atap rumahku yang terbuat dari daun rumbia itu.

Sekujur ragaku pun tak kuasa menahan debar, lebih-lebih pada halaman rumah kami yang telah sekian lama disulap menjadi kebun-kebun mini, satu-satunya lahan bagi kami seisi rumah untuk menyambung hidup sehari-hari.

***
Pada malam ketiga, aku tak bisa memejamkan mata. dalam remang cahaya kupandangi saja langit-langit kamar. Seingatku, malam itu hujan yang mengguyur cukup lebat dan terasa beda dari malam-malam sebelumnya. Tak ayal lagi, tetes demi tetes butir hujan kembali tumpah membasahi lantai kamar dan beberapa ruangan di dalam rumah. Sementara isteri dan kedua anakku yang mungil tak peduli. Mereka tersenyum memeluk malam, lelap dalam buai mimpi yang disenandungkan nyanyian hujan.

Di tengah kepekatan malam yang diaduk gemuruh hujan dan halilintar, sungai di belakang rumahku terdengar riuh berkocak. Sesekali terdengar pula suara hentakan keras menyelinginya. Mungkin perahu-perahu milik nelayan yang tertambat rapi di pangkal pelantar (dermaga kecil) dan tiang-tiang yang dipancang di pinggir sungai ikut menari. Wajar saja kalau perahu-perahu itu saling berbenturan, sebab dialun angin serta gelombang sungai yang menyenak dahsyat.

***

Kematian Pak Mahat beserta isteri dan seorang anaknya empat puluh hari yang lalu, menjadi catatan kelabu bagi kami, warga yang sudah berpuluh-puluh tahun mendiami garis hitam di sepanjang aliran sungai itu. Musibah ini justru mengingatkan kembali pada peristiwa serupa yang pernah terjadi 21 tahun yang lalu. Bahkan ketika itu korbannya jauh lebih besar, karena rumah-rumah panggung yang dibangun warga sudah sangat tua dan rapuh. Selain itu, kebanyakan dari kami hanya sekedar membangun tanpa memperhatikan aspek keselamatan dan kelayakannya.

Kini peristiwa memilukan itu terulang kembali. Aku dan seluruh warga ikut perihatin atas musibah yang menimpa keluarga Pak Mahat. Mereka adalah keluarga yang ramah dan baik hati. Walau serba kekurangan, namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk selalu hidup berdampingan dan saling berbagi.

Di mataku, Pak Mahat adalah seorang nelayan yang ulet, tangguh dan tak mengenal kata menyerah. Ia selalu tampil sebagai pembela nasib bagi seluruh anggota keluarganya. Ia pahlawan yang tak mungkin dilupakan oleh sanak dan saudaranya. Tapi sejak kejadian malam itu, segalanya telah berubah, meninggalkan sisa-sisa luka yang cukup dalam pada diri keluarga dan kami para tetangganya. Kini segala kebaikan Pak Mahat, tak akan pernah kami jumpai lagi.

Jujur kuakui, bahwa musim penghujan bagi kami adalah hal yang sangat mengerikan. Terlebih lagi bagi kami yang mendiami rumah-rumah di sepanjang bibir sungai. Hujan lebat dalam jangka waktu yang panjang bagai musuh yang dapat mengusik ketenangan dan menjadi ancaman bagi seluruh warga. Karena bisa saja istana yang kami bangun dengan susah payah itu, tepat pada waktu dan gilirannya akan tersimbah arus deras sungai yang meluap dan menghanyutkannya ke laut. Berkali-kali juga kebimbangan dan kerisauan ini kusuarakan kepada tetua-tetua kami, pemuka-pemuka masyarakat yang ada di dusunku. Tapi tetap saja belum ada tanggapan serius. Mungkin dengan keterbatasan yang ada, mengakibatkan dusun kecil ini terabaikan dan kurang mendapat perhatian.

Keinginan untuk menempati pemukiman yang layak bagi sebagian besar warga adalah sebuah keniscayaan. Tapi kondisi ekonomilah yang menyebabkan aku dan warga lainnya terpaksa mengurungkan niat untuk pindah ke tempat yang sedikit refresentatif. Jangankan hendak membeli kebun, untuk menanggung kehidupan sehari-hari saja masih terasa amat sulit.

Sebelum ini memang ada beberapa warga yang mencoba memberanikan diri untuk pindah dan membuka lahan sebagai petani. Tetapi jumlah mereka masih sangat kecil dan bisa dihitung dengan jari. Bahkan hatiku turut terenyuh apabila menyaksikan ada warga yang harus pindah, namun terpaksa ngutang sana-sini untuk mencari pinjaman.

***

Perdebatan hangat sedang berlangsung jelang tengah hari. Balai pertemuan di kelurahan itu pun mendadak berubah menjadi sebuah pentas guna mempertahankan ide dan gagasan. Aku dan puluhan warga sebagai perwakilan mencoba menjelaskan duduk persoalan. Tidak ada kata lain, nyawa kami harus diselamatkan secepat yang mungkin. Bila tidak, maka luka dan airmata akan selalu basah, membanjiri pemukiman kumuh kami.

Pak Maimun, salah seorang tetua kami dengan lantang mengemukakan kegelisahannya di hadapan pejabat kelurahan dan sejumlah tokoh penting dari kota yang turut hadir. Matanya seketika berubah, mendadak menjadi merah menahan geram. Aku memaklumi, sebab di banyak kesempatan dan pertemuan, kondisi ini selalu disampaikan Pak Maimun agar persoalan yang sering muncul dicarikan solusi dan jalan penyelesaiannya.

Entah mengapa, hari itu Pak Maimun begitu bertenaga. Urat lehernya keluar. Mungkin semua itu disebabkan api kemarahan yang menyala-nyala dalam diri kami ketika menghadiri pertemuan tersebut. Aku dan beberapa warga yang lain terdiam, tapi sepakat dengan Pak Maimun.

“Benar…, benar itu, Pak…!,” seruku dan beberapa warga sembari berdiri meminta komitmen dan ketegasan dari sejumlah pejabat dan tokoh yang memiliki otoritas guna menyelesaikan permasalahan ini.

“Tenang!!!. Tenang!!!,” sahut Pak Lurah mencoba menetralisir suasana.

Pak Maimun terus berbicara. Tangannya mengacung-ngacung. Intinya meminta agar semua warga yang sudah turun-temurun mendiami bantaran sungai direlokasi ke pemukiman yang baru. Untuk itu pihak yang berkompeten di kota harus peka dan segera menyikapinya.

Apa yang disampaikan Pak Maimun itu kunilai sangat beralasan. Bahkan beberapa tahun lalu persoalan ini juga pernah disampaikannya. Ketika itu warga juga pernah diiming-iming dan dijanjikan untuk dipindahkan ke pemukiman baru. Sementara kawasan di sepanjang pinggir sungai akan disulap dan diubah menjadi kawasan hijau dan taman rekreasi. Tapi entah apa sebabnya, program tersebut akhirnya terhenti begitu saja sebelum ada langkah konkrit untuk memulai.

Di tengah penyampaian sikap dan aspirasi ini, tanpa diduga salah seorang tokoh penting yang datang dari kota tiba-tiba bersuara. Kata seorang teman yang duduk di sebelahku, beliau adalah wakil rakyat yang dipilih dari daerah pemilihanku di sini. Tapi aku heran, bagaimana mungkin aku tidak mengenalinya sebelum ini.

“Bapak-bapak mohon bersabar. Saya berjanji, semua aspirasi seluruh warga akan diakomodir. Beri saya waktu untuk mencari jalan keluarnya,” ujar pria itu dengan penuh percaya diri.

***

Musim pemilihan umum mulai berlangsung. Satu persatu calon wakil rakyat berkunjung dan bersilaturrahmi dengan kami. Mereka menawarkan kerjasama, berbagai program bagi mengangkat harkat dan martabat hidup warga masyarakat, termasuk upaya yang hendak dilakukan bagi membantu menyelesaikan permasalahan yang ada, diantaranya merelokasi pemukiman kami. Kami menyambut positif atas rencana serta program kerja yang ditawarkannya andai takdir menghendakinya nanti.

Di musim-musim pemilihan sebegini, Pak Maimun adalah orang yang super sibuk. Hampir sebagian besar waktunya mendadak digunakan untuk mengurusi kami. Anehnya lagi, akhir-akhir ini ia sudah sangat jarang terlihat pergi melaut. Alasan yang disampaikannya cukup sederhana, karena ikan dan udang pada musim-musim seperti ini terasa sulit ditangkap. Tapi aku dan warga lain tak peduli. Kami tetap melaut, karena laut sedikit banyak memberi penghasilan buat kami.

Melalui tangan Pak Maimun, warga bagai mendapat angin segar. Senyum kami pun kian sumringah, karena dalam waktu yang tidak terlalu lama kami bakal dipindahkan ke pemukiman yang layak.  Tapi semua itu akan dapat terwujud jika kami kompak. Kata Pak Maimun, warga harus bersikap pada waktu pemungutan suara nanti.

“Jangan lupa!. Jangan lupa!” pesan Pak Maimun di berbagai pertemuan.

Sebagai orang yang dituakan, kami manut saja dengan anjuran Pak Maimun. Tapi terkadang muncul juga rasa khawatir. Kekhawatiran itu diantaranya bagaimana jika wakil rakyat yang katanya hendak memperjuangkan nasib kami ternyata tidak terpilih. Atau bagaimana nanti kalau benar-benar terpilih, namun akhirnya ingkar janji. Wah, bayang-bayang kebimbangan itu senantiasa menyergap dan menghantuiku dan segenap warga lainnya.

Aku sempat berpikir tentang berbagai kemungkinan yang bakal terjadi. Antara harapan di tengah perebutan suara yang semakin sulit untuk difahami. Namun kerisauanku satu-satunya adalah tentang kehidupan kami yang telah sekian lama menderita. Betapa tidak, setiap datang masa pemilihan, apapun bentuk dan modelnya, maka dapat dipastikan pula jika nasib kami selalu tergadai. Kami akan diperhatikan ketika agenda-agenda pemilihan dijalankan. Tapi selama itu pula kekecewaan dan harapan silih berganti tanpa ada kesudahan.    

***

Pagi masih basah. Di ujung pelantar ini aku duduk menjuntaikan kedua kaki dan sesekali mengayunkannya. Perlahan kupandangi samar-samar wajahku di air yang menyatu di arus sungai. Riak airnya mengalir lembut. Warnanya yang keruh agak kecoklatan itu pun seolah-olah telah mengubur segala kepiluan dan kesedihanku, juga warga dusunku. Aku gembira, karena setelah hujan ini kuyakini tak akan ada lagi kebimbangan yang merayap di dada dan setiap celah sunyi hati kami.

Semoga saja keinginan warga di sini, puluhan kepala keluarga yang mendiami bantaran sungai ini segera menempati pemukiman baru. Pemukiman yang jauh dari ancaman musibah dan kematian yang mengerikan. Sebab di kota telah kudengar jika Pak Maimun dan orang-orang bergembira, menyampaikan ucapan selamat kepada figur-figur yang mereka usung karena berhasil mengantongi lumbung-lumbung suara.***

 2017

Marzuli Ridwan Al-bantany, pegiat sastra bermastautin di Bengkalis, Riau. Buku kumpulan puisi tunggalnya berjudul “Menakar Cahaya”. Sekarang kembali merampungkan sejumlah buku sastra, berupa buku kumpulan puisi dan cerpen.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
MESIN MATI SAAT DI UDARA
Pesawat yang Dipiloti Gubernur Aceh Mendarat Darurat
Minggu, 18 Februari 2018 - 07:17 wib
PILPRES 2019
Siap-siap! Sosok Cawapres Jokowi Akan Diumumkan dalam Agenda PDIP Ini
Minggu, 17 Februari 2018 - 21:00 wib

Bhabinkamtibmas Bentuk Komunitas Anti Narkoba
Minggu, 17 Februari 2018 - 20:50 wib
TERKAIT PENGHINAAN TERHADAP DPR
Pengusul Pasal "Kontroversial" di UU MD3 Masih Misteri, Kata PPP...
Minggu, 17 Februari 2018 - 20:30 wib
HASIL VERIFIKASI RESMI DIRILIS
Tegas! PBB Akan Gunakan Cara Ini Lawan KPU demi Lolos Pemilu 2019
Minggu, 17 Februari 2018 - 20:00 wib
SEPAKBOLA INDONESIA
Hajar PSMS Medan, Sriwijaya FC Raih Tempat Ketiga di Piala Presiden
Minggu, 17 Februari 2018 - 19:35 wib
VERIFIKASI PEMILU 2019
Ajukan Gugatan ke Bawaslu, PKPI: Kesimpulan KPU Tidak Tepat
Minggu, 17 Februari 2018 - 19:30 wib
TERKAIT KASUS NARKOBA
Ternyata, Elvi Sukaesih Saksikan Penggerebekan terhadap Anak-anaknya
Minggu, 17 Februari 2018 - 19:00 wib
KASUS NARKOBA
Dhawiya Ditangkap, Rumah Elvi Sukaesih Ternyata Sudah Tiga Kali Digerebek
Minggu, 17 Februari 2018 - 18:45 wib
SUDAH DITETAPKAN TERSANGKA
Kelabui Orang, Inilah Tempat Anak Elvi Sukaesih Simpan Sabu
Minggu, 17 Februari 2018 - 18:30 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Maksura; Nyanyian Cincin?

Minggu, 11 Februari 2018 - 14:42 WIB

Begawai Sastra Luncurkan Buku Puisi

Minggu, 11 Februari 2018 - 13:09 WIB

Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji

Minggu, 11 Februari 2018 - 12:55 WIB

Penyair Riau Baca Puisi Sempena HPN di Sumbar

Minggu, 11 Februari 2018 - 12:54 WIB

Lagi, Kampung Langit

Minggu, 04 Februari 2018 - 17:44 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us