Korupsikah Saya di PT PWU Jatim?

Selasa, 01 Nov 2016 - 11:43 WIB > Dibaca 1186 kali | Komentar

Dalam pemeriksaan tahap pertama selama tiga hari (17, 18, 19 Oktober 2016) di Kejaksaan Tinggi Jatim, saya ditanya lebih dari 100 pertanyaan.

***
Soal melepas aset perusda PT PWU Jatim tanpa persetujuan DPRD. Penjelasan saya: Sebenarnya saya sudah berkirim surat ke DPRD Jatim (tahun 2002, 14 tahun yang lalu) untuk minta penegasan apakah PT PWU harus tunduk pada Pidana Khusus Kejati Jatim mendatangi Rutan Medaeng sembari membawa surat pengalihan penahanan sekitar pukul 22.00. Menjelang pukul 22.50, mereka keluar rutan bersama Dahlan.

Pengalihan itu dilakukan se­­telah keluarga Dahlan dan pimpinan Pesantren Sabilil Muttaqien, Takeran, Magetan, mengajukan permohonan agar Dahlan dikeluarkan dari tahanan. Miratul Mukminin selaku wakil keluarga menyatakan, Dahlan merupakan pengasuh di pondok pesantren tersebut. Karena itulah, pimpinan pesantren ikut meminta agar Dahlan dikeluarkan dari tahanan.

Dia mengungkapkan, permohonan tersebut diajukan karena Dahlan memiliki riwayat medis sebagai pasien transplantasi hati.
’’Perlu perawatan khusus dan rutin secara spesifik,’’ katanya.

Selain itu, makanan yang dikonsumsi Dahlan tidak boleh sembarangan karena kesehatannya rawan terganggu.

Miratul menjamin bahwa Dahlan akan kooperatif mengikuti proses hukum. Selain itu, bapak dua anak itu menegaskan tidak akan mempersulit proses penyidikan yang berlangsung di Kejati Jatim. Termasuk, menjalani wajib lapor sesuai ketentuan. Miratul memastikan, dalam pengajuan permohonan penangguhan penahanan itu, tidak ada intervensi dari siapa pun.
’’Ini murni permohonan dari keluarga karena memperhatikan faktor kondisi kesehatan,’’ tegasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Jatim Romy Arizyanto menjelaskan, penyidik memutuskan untuk mengalihkan status penahanan tersebut karena memperhatikan kondisi kesehatan Dahlan. Menurut dia, Dahlan diharuskan menjalani pemeriksaan rutin oleh dokter secara berkala.

Dia menambahkan, Dahlan kemarin sebenarnya menjalani pemeriksaan di Kejati Jatim. Pada saat pemeriksaan berlangsung, tensi darahnya naik. Meski sudah beristirahat, kondisinya tidak bertambah membaik. Karena itulah, pemeriksaan dihentikan pukul 13.30.

Pihaknya kemudian menerima surat permohonan agar Dahlan dikeluarkan dari tahanan. Setelah mempertimbangkan kondisi kesehatan, tim penyidik mengabulkan permohonan tersebut.
SPS Riau Teken Petisi

Dukungan dan simpati terhadap Dahlan Iskan terus berdatangan. Di Riau, seluruh pengurus Serikat Perusahaan Pers (SPS) Riau langsung menandatangani petisi penolakan atas diskriminalisasi yang terjadi terhadap Dahlan yang juga Ketua SPS Pusat tersebut. Petisi itu ditandang tangani di kantor SPS Riau, Jalan Sumatera Pekanbaru.

“Kami sepakat menandatangani petisi bebaskan Dahlan Iskan. Seluruh pimpinan media di Riau dan perwakilan serta pengurus SPS menandatangani petisi sebagai bentuk keprihatinan,” kata Koordinator Lapangan Aksi Oberlin Marbun didampingi Ketua SPS Riau H Zulmansyah Sekedang.

Oberlin yang merupakan pengurus SPS Riau paling senior ini mengatakan, petisi tersebut lebih kepada dukungan dan dorongan kepada Presiden Joko Widodo agar segera memerintahkan Kejagung untuk membebaskan Dahlan Iskan dari tahanan. Sebab berdasarkan kondisi persoalan yang dihadapi, lebih kepada permasalahan yang tidak ada kaitannya dengan merugikan pihak manapun atau memperkaya diri. “Ini akan terus berlanjut, bukan sekali saja. Keprihatinan atas status Pak Dahlan akan terus bergulir di Riau. Kami minta dibebaskan segera,” tegasnya.

Memang selain penandatangan petisi kemarin, SPS Riau tetap akan membuka petisi. Di mana bagi seluruh insan baik dari pers maupun masyarakat di ibukota Provinsi Riau maupun kabupaten/kota lainnya, yang ingin mendukung petisi bebaskan Dahlan Iskan, tetap akan diterima. “Besok (hari ini, red) kami masih membuka petisi. Silahkan datang ke kantor (Jalan Sumatera, red) untuk memberikan dukungan,” ajaknya.

1.800 Santri Blokagung Doakan Dahlan
Sebanyak 1.800 santri putra Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi petang kemarin membaca selawat fatih usai menjalankan Salat Magrib berjamaah. Pembacaan tersebut dikhususkan untuk memberi dukungan moril kepada Dahlan Iskan yang kini tinggal di tahanan Medaeng . Selawat fatih dibaca untuk mendoakan seseorang untuk menghilangkan pikiran susah dan resah. Selain itu bisa dilepaskan dari segala kesulitan dan urusan bisa berjalan mudah.

Seperti disampikan Ahmad Supriyadi (27), Santri yang memimpin pembacaan salawat tersebut. Dia mengungkapkan, amalan tersebut merupakan amanah pengasuh pesantren Darussalam, KH Hisyam Syafaat, menurut keterangan yang dia terima. Setiap santri harus membaca selawat ini setiap usai salat wajib.
“Selawat ini dibaca setiap habis salat maktubah,” jelasnya.

Pembacaan selawat ini dimulai kemarin malam dan dilanjutkan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. “Setelah malam ini santri baca sendiri sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, KH Ahmad Kholiq Syafaat  mengaku kaget dengan penahanan Dahlan ini. Selama ini, jauh sebelum menjadi pejabat pemerintahan dan berkecimpung dalam politik. Sosok Dahlan sudah dikenal sebagai figur pengusaha yang baik.
“Orang mengenal Pak Dahlan sebagai pebisnis yang jujur, entrepreneur dan  bersih,” jelasnya.

Mengenai kenyataan yang saat in mendera Dahlan, Kholiq mengaku apa yang terjadi saat Dahlan menjabat itu hanya perihal kebijakan administrasi tanpa ada maksud memperkaya diri. Dia yakin jika pun langkah itu dianggap merugikan negara, maka keuntungan yang muncul bukan untuk Dahlan dan golongannya.

“Kenyataannya tidak memperkaya diri, meskipun dia menandatangani surat yang disiapkan anak buah,” ucapnya. Akademisi yang pernah menjadi kontributor Jawa Pos (JPG) di Baghdad ini mengungkapkan, pihaknya  mencermati peristiwa ini secara adil. Baik dari sudut pandang hukum maupun pengamatan masyarakat.

“Kalau secara perspektif penegak hukum mungkin Dahlan memang melanggar. Tapi masyarakat melihatnya tidak,” ungkapnya.

Mengenai wajah koran Jawa Pos yang terkesan bersemangat menampilkan penahanan Dahlan, dia mengatakan hal ini wajar. Bagaimana pun juga Dahlan adalah sosok yang membesarkan Jawa Pos dan juga BUMN. Namun, dia memberi catatan agar sikap ini berjalan dengan imbang dan cover both side.

“Secara institusi Jawa Pos, pembelaan itu harus dan wajar. Cuma jangan sampai mengabaikan keinginan pembaca Jawa Pos itu sendiri. Bahwa Jawa Pos koran yang informatif tidak memihak siapa-siapa,” tegasnya.

Dia juga menyinggung bahwa yang musibah yang dialami orang yang membesarkan PLN ini merupakan korban dari permainan elite. Pernyataan ini dia dasarkan pada sikap Dahlan selama menjabat sebagai Dirut PLN hingga menteri BUMN. Yakni sikapnya yang tidak ingin persoalan pengangkatan direksi di jajaran BUMN mendapat campur tangan parpol.(eko/agi/irw/jpg/egp)

KOMENTAR
BERITA POPULER
Benjor, Pistol, dan Sebutir Peluru

Benjor, Pistol, dan Sebutir Peluru

23 Apr 2017 - 01:36 WIB | 628 Klik

Setelah Ahok

23 Apr 2017 - 00:53 WIB | 573 Klik

Sajak-sajak Umi Kulsum

23 Apr 2017 - 01:44 WIB | 517 Klik
Oghuong Calempong Kampar Berpadu dengan Tor Tor

Oghuong Calempong Kampar Berpadu dengan Tor Tor

23 Apr 2017 - 01:13 WIB | 476 Klik
SiKari SkeToon-kan Mesjid Jamik Air Tiris

SiKari SkeToon-kan Mesjid Jamik Air Tiris

23 Apr 2017 - 01:05 WIB | 456 Klik

Follow Us