Wonderful Indonesia
Memperingati 13 Tahun Tsunami Aceh
Warga Aceh Larut dalam Zikir
Rabu, 27 Desember 2017 - 13:48 WIB > Dibaca 1363 kali Print | Komentar
Warga Aceh Larut dalam Zikir
TAUSIAH: Puluhan ribu warga Aceh antusias mengikuti tausiah Ustaz Abdul Somad dalam Zikir Internasional memperingati 13 tahun Tsunami Aceh di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Selasa malam (26/12/2017). SULAIMAN/RPG
ACEH BESAR (RIAUPOS.CO) - Memperingati 13 tahun tsunami Aceh, ribuan warga Aceh memadati halaman Masjid Al Ikhlas Gampong Meunasah Masjid, Kecamatan Leupung, Selasa (26/12). Kegiatan itu juga dihadiri tamu undangan dari Korea, Jepang, Malaysia, Thailand, Yaman dan Myanmar. Dalam kesempatan itu, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan, melalui peringatan ini, diharapkan jadi momentum Aceh bangkit kembali pascagempa dan tsunami 13 tahun lalu yang memporak-porandakan Aceh.

“Ini momentum bagi masyarakat Aceh umumnya untuk membangun budaya siaga bencana di masa akan datang. Mari kita memperkuat kewaspadaan,” kata Irwandi.

Bagi masyarakat, lanjut Irwandi, harus memiliki sikap kewaspadaan sejak dini. Tanpa itu, bencana yang tiba akan memakan korban bisa lebih banyak lagi karena tanpa ada kesadaran untuk mengantisipasi bencana.

“Orang tak akan punya kapasitas untuk memprediksi kapan bencana itu datang, tapi sikap waswas yang dimiliki harus selalu siaga. Jangan pernah berhenti berjuang. Inilah semangat yang bisa kita petik dari bencana yang pernah melanda kita,” ujarnya.

Sementara malam tadi Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh dipadati puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah di Aceh. Kehadiran mereka mengikuti Zikir Internasional memperingati 13 tahun gempa dan tsunami Aceh. Kadis Syariat Islam Dr  Munawar MA didamping Ketua Panitia Tengku Muhammad Balia menerangkan, zikir akbar ini dimulai dengan salat berjamaah di tempat acara. Adapun tema diangkat adalah adalah “Selaras Menuju Sirathal Mustaqim”.

“Para ulama yang hadir merupakan ulama yang terkenal di negaranya masing-masing,” ujar Munawar.

Dari Indonesia, ulama yang hadir adalah Ustaz Abdul Somad dari Riau dan Habid Novel Alaydrus dari Solo. Sementara dari Brunei Darussalam, Mohamad Adi Aishamuddin bin Mat Bakar, Mohammad Fahmi bin Haji Matnor, Muhammad Najib bin Haji Muhammad Ali, Nurdeng Deuraseh, dan Muhammad bin Mat Piah. Kemudian dari Singapura yakni Muhammad Afeef bin Manshor, dari Malaysia, Mohd Nizam bin Kamaruzzaman, Husni bin Muhammad Harun, Uwais Azzuhaili bin Husni, dan Mansur bin Usman serta Mohammed Ahmed Mohammed Abdo dari Yaman. Selanjutnya dari Thailand, Chemuso Romilo, Adsaman Sideh, Ismail Benjasminth, dan Asae Boongorsayu.  Sedangkan ulama dari Indonesia adalah Ustadz Abdul Somad dari Riau dan Habid Novel Alaydrus dari Solo. Ulama-ulama dari Aceh yang akan hadir di antaranya,  Abu Muhammad Amin (Tu Min) Blang Bladeh, Abu Mustafa Paloh Gadeng, Waled Nuruzzahri Samalanga dan sejumlah ulama karismatik.

Duka Masih Tersisa

Ratusan masyarakat Aceh padati sejumlah kuburan massal korban tsunami yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Suasana haru masih menyelimuti keluarga korban yang datang untuk berdoa. Di kuburan massal Ule Lheu, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh tempat bersemayamnya 14.264 jiwa korban, warga mulai berdatangan sejak pagi.

Walau bencana telah berlalu 13 tahun, duka kehilangan anggota keluarga serta sanak saudara masih tersisa. Warga memilih kuburan massal untuk berdoa, berdasarkan keyakinan masing-masing.

“Pada momen seperti ini, teringat terus sama orang tua, sewaktu itu (saat peristiwa tsunami) lagi sama suami di asrama PHB. Orang tua di sini, Blang Oi, di rumah,” ungkap Rohani, warga Banda Aceh.

Setiap peringatan tsunami, ia selalu terasa terus dengan kedua orang tuanya. “Di sini saya yakin mereka karena kontak batin, ada juga pergi ke kuburan lain. Di sini rutin pergi, orang bilang di sini, ya kami ke sini. Kontak batin,” ungkapnya lagi.

Hal serupa juga dikatakan Nasyidah, warga Gampong Blang Oi. Pada saat bencana tsunami ia kehilangan satu keluarga dari abangnya. “Walaupun jasad sang abang hingga sampai saat ini tidak diketahui dimana dimakamkan. Namun berdasarkan cerita dan mimpi yang ketemu abang ipar di belakang sini. Makanya saya kemari,” katanya

Cukup Percaya Diri  tanpa Tsunami Buoy

Sejak tsunami Aceh tahun 2004 silam, Indonesia terus mengembangkan teknologi peringatan dini terhadap tsunami. Saat ini, Indonesia punya 165 sensor gempa, 52 sirine tsunami, dan ribuan skenario tsunami yang tergabung dalam Indonesia Tsunami Early Warning System (INA-TEWs).


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Bupati Rita Mengaku Suka Tas KW
Sabtu, 20 Januari 2018 - 13:15 wib
POLITIK
KPU Pekanbaru dan Rohul Disidangkan Pekan Depan
Sabtu, 20 Januari 2018 - 12:12 wib

Februari, Jokowi Replanting Sawit ke Riau
Sabtu, 20 Januari 2018 - 11:24 wib
Agnez Mo
Tak Ada Masalah dengan Anggun
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:50 wib

’’Dari Awal Sudah Begitu’’
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:23 wib

Bupati Hibahkan Tanah Pembangunan Rutan
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:08 wib

Datsun Cross Tampil dengan Gaya Baru
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:06 wib
KAB ROKAN HULU
Pemprov Diminta Surati Kemendagri
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:04 wib

Tersangka Pembakar Istana Siak Jalani Tes Kejiwaan
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:03 wib

Pemprov Diminta Surati Kemendagri
Sabtu, 20 Januari 2018 - 09:58 wib
Cari Berita
Nasional Terbaru
Bupati Rita Mengaku Suka Tas KW

Sabtu, 20 Januari 2018 - 13:15 WIB

Februari, Jokowi Replanting Sawit ke Riau

Sabtu, 20 Januari 2018 - 11:24 WIB

Matangkan Kerja Sama Tol Pekanbaru-Padang

Sabtu, 20 Januari 2018 - 09:17 WIB

Siap-siap! Habib Rizieq Akan Pulang ke Indonesia

Jumat, 19 Januari 2018 - 18:05 WIB

Diperiksa soal  Ujaran Kebencian, Ustaz Zulkifli Bingung
sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us