Apa Kabar Puisi Koran?

Sabtu, 15 Okt 2016 - 22:10 WIB > Dibaca 2264 kali | Komentar

Ketika kita mencoba memperbincangkan kembali perkembangan “sastra koran” kita hari ini, maka sesungguhnya tak selalu dengan gampang dapat diperhadap-hadapkan dengan “sastra digital,” Tak pula mudah, mendikotomi keduanya dalam ranah kualitatif. Jika ada pengakuan bahwa “sastra koran” (atau karya sastra yang dimuat di media massa cetak), masih “dianggap” memiliki “legimitasi” dibanding “sastra digital,” justru di situlah letak kerumitannya. Sebab, tak juga mudah mencari pembenarannya.

Sebagai orang yang sejak awal berpuisi, menempuh jalan publikasi lewat media massa cetak (koran dan majalah), maka saya meyakini sampai hari ini, kita (para penyair) masih percaya pada kekuatan media cetak sebagai ruang “paling representatif” untuk mempublikasikan puisi. Terlepas dari mana cara melihat kekuatan itu (boleh jadi juga kekuatan itu datang dari honorariumnya), yang pasti, kita sampai kini masih mengirimkan puisi-puisi ke media massa cetak. Sampai kini, masih ada media massa cetak yang menyediakan ruang untuk puisi.

Namun, media massa cetak yang keterjangkauan pembacanya tidak seluas media massa digital misalnya, adalah satu kelemahan. Maka pilihannya pun, media massa cetak juga hadir dalam versi/bentuk digital. Keduanya, selain dapat menjangkau kecenderungan pembacanya masing-masing, juga sekaligus dapat difungsikan sebagai back-up data.

Tentu memang, cara melihat seperti ini, menempatkan koran (media massa cetak) dan dunia digital sebagai medium (alat) publikasi bagi puisi (karya sastra) semata, tanpa menyoal ihwal ideologisnya. Padahal, kita tahu, semua media dibuat untuk membawa/menyuarakan “pesan-pesan” ideologis mereka, para pemilik modal. Nah, di sinilah kemudian, orang kerap memandang “sastra koran” atau juga “sastra digital” akan sulit melepaskan diri dari ideologi media massa yang “ditumpanginya.”

Mari, kita baca, kecenderungan puisi-puisi yang dimuat di koran misalnya. Apakah kita temukan saling keterkaitannya secara kualitatif, antara puisi (yang otonom sebagai karya seni) dengan koran (berita harian)? Satu hal umum yang selama ini diperdebatkan adalah soal “koran” sebagai media harian, yang menyajikan aktualitas berita-fakta harian yang terjadi di wilayah terbit-edarnya. Maka puisi-puisi yang bisa dimuat (di koran) pun, seolah, dikehendaki “harus” juga menjaga aktulitasnya.

Padahal, hemat saya, setidaknya selama (lebih kurang 4 tahun ini) saya menjadi redaktur tamu di Riau Pos, pertimbangan “aktualitas peristiwa” di dalam realitas keseharian, berbeda dengan “aktualitas peristiwa" di dalam puisi. Sebab puisi bukan berita, meskipun puisi bisa bersifat informatif.

Artinya, saya hendak mengatakan bahwa, ketika orang membaca puisi (yang dimuat) di koran—biasanya setiap hari Minggu—bagi saya bukanlah orang yang hendak mencari informasi tentang berita hari ini, karena ia bisa mendapatkannya di rubrik yang lain. Akan tetapi, ia tengah mencari “sisi lain” dari berita tersebut. Sisi yang membuat ia menemukan momentum untuk dapat sejenak refreshing, dengan cara-cara yang “cerdas.”

Maka, demikianlah kiranya, puisi “penting” bagi koran. Terbaca atau tak terbaca, puisi seperti halaman putih dari hiruk realitas keseharian kita. Kalaupun sepintas orang membaca sebuah judul puisi, lalu ia meninggalkannya, puisi tak akan menyesal menjadi puisi. Puisi tak akan memaksa orang untuk mencintainya, karena puisi itu adalah cinta itu sendiri.

Bahkan, kalaupun suatu saat halaman puisi harus tergeser, hilang dari sebuah koran sekalipun, ia tetap tidak padam. Puisi tanpa koran, ia tetap baik-baik saja.***

KOMENTAR
BERITA POPULER
Satu Lagi Putra Riau Jadi Jenderal

Satu Lagi Putra Riau Jadi Jenderal

24 Mar 2017 - 00:28 WIB | 431 Klik
Diperiksa KPK, Andi Narogong Bakal Ditahan

Diperiksa KPK, Andi Narogong Bakal Ditahan

24 Mar 2017 - 00:42 WIB | 70 Klik

Follow Us