Yang Kuno, yang Kini

Senin, 10 Okt 2016 - 14:12 WIB > Dibaca 3345 kali | Komentar

“Tak adalah tempat lagi bagi pantun pepatah, bagi syair berukuran dan bertakaran yang penuh dengan kata, kiasan dan sajak yang pucat lesi tiada berdarah itu...”
(Sutan Takdir Alisjahbana).

AGAK berbeda rupanya dengan Sutan Takdir Alisjahbana (1934), sastrawan Pujangga Baru itu, yang sejak sebelum negeri ini merdeka sudah mengatakan bahwa sastra lisan kita sudah mati-semati-matinya, sementara hari ini kita justru seolah baru merasa ketakutan bahwa sastra lisan kita akan menuju kematiannya. Maka pertanyaan kita yang paling kerap muncul kemudian adalah, bagaimana mesti mencari ruang bernapas bagi pantun, gurindam, syair, mantera, petatah-petitih, dongeng, dan berbagai sastra lisan lainnya, dalam dunia yang hiper-realitas semacam ini?  

Tentu, baik STA maupun kita, sesungguhnya sedang dirundung kerisauan. STA risau, lalu mengkritik untuk kemudian hendak membangkitkan spirit optimisme untuk lepas dari belenggu “masa lalu”—meskipun Maman S Mahayana (2016) menyebut, pernyataan-pernyataan STA semacam inilah awal sebab reputasi syair dan pantun memudar dalam khazanah sastra Indonesia.

Ya, kita semua sepakat, memudar—dengan tidak sepenuhnya “menyalahkan” STA sebagai penyebabnya. Tapi, kita juga sepakat, ia belum (tentu) mati—apalagi “semati-matinya.” Karena (hanya) memudar itu, lalu berbagai upaya orang lakukan untuk “mengelap-ngelapnya”. Apalagi kemudian, begitu desentralisasi terjadi, ada semacam kesadaran kolektif yang bangkit di berbagai komunitas bangsa, untuk kembali meneguhkan identitas kulturalnya—yang selama ini seolah tunggal oleh kuasa-politik yang hegemonik.

Dan semua meyakini, yang paling ampuh alat peneguhan itu adalah seni, adalah sastra (bahasa), adalah tradisi. Sebab di sana terdapat nilai-nilai, kearifan-kearifan (local wisdom) yang tersimpan dengan rapi. Meskipun, hidup yang cenderung kian pragmatis hari ini, membuat banyak orang “memanfaatkan” kesadaran kolektif atas nilai itu, sebagai “kuda tunggangan” untuk kepetingan-kepentingan pragmatis pula. Maka kerja “mengelap-ngelap” tradisi itu terkesan sebagai kerja ala-kadarnya, euforia belaka, seremoni semata, dan miskin esensi.

Tanpa menafikan kerja-kerja fisik membangun simbol-simbol artefak kebudayaan, kerja kreatif yang paling nyata sebagai peneguhan identitas kultural itu adalah penciptaan karya sastra/seni. Tapi, tidak pula mudah bicara ihwal dunia penciptaan dalam sastra, terlebih ketika bicara tentang sastra lisan dan ranah kelisanan (orality). Sebab kerja subyektif penciptaan puisi modern (bebas), berbeda jauh dengan proses penciptaan puisi lisan.

Puisi modern lahir dari permenungan individu sang penyairnya dalam kamar sunyi, sementara puisi lisan lahir dari rahim (sistem nilai dan kepercayaan) masyarakatnya di gelanggang sosial yang ramai, tanpa ada yang “berhak” mengklaim menjadi pemiliknya, sebagai penciptanya. Para penutur puisi lisan, seperti nyanyipanjang, koba, syair, dan sejenisnya, tak pernah menganggap dirinya “sastrawan” atau “penyair.”

Namun, dikotomi antara lisan (orality) dan tulisan (literacy), tidaklah sepenuhnya dapat membuat posisinya saling berhadapan, vis-a-vis. Sebab dikotomi itu ada karena pandangan kita kerap membedakan dan membandingkannya secara ekstrem, seperti kita membedakan antara yang tradisional dan modern—seolah keduanya entitas yang terputus, dan tak saling mengkait. Boleh jadi juga, konsepsi Walter J. Ong (1977) yang  menyebut ada tiga era yang menunjukkan priodeisasi perkembangan sebuah peradaban masyarakat: lisan primer, kapitalisme cetak, dan kelisanan sekunder (secondary orality) itu, secara tidak langsung turut memperkuat pandangan dikotomis itu.

Efek buruknya, segala sesuatu yang lampau itu jadi kuno. Dan sayangnya, segala yang diberi label “kuno” itu, selalu identik buruk jika dibandingkan dengan yang “kini.” Segala yang kini, yang mutakhir, seolah menandakan yang paling hebat. Maka pantun tidaklah lebih hebat dari puisi bebas, syair lebih rendah “nilai estetika”-nya dibanding puisi naratif, dan seterusnya.***

KOMENTAR
BERITA POPULER
Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

21 Feb 2018 - 00:02 WIB | 188 Klik
Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

21 Feb 2018 - 00:31 WIB | 181 Klik
KFC Tutup Ratusan Restorannya

KFC Tutup Ratusan Restorannya

21 Feb 2018 - 01:16 WIB | 156 Klik
Sky Energy Melantai, Harga Sahamnya Rp375-Rp450 Per Lembar

Sky Energy Melantai, Harga Sahamnya Rp375-Rp450 Per Lembar

21 Feb 2018 - 00:44 WIB | 153 Klik
BUMN Proyek Infrastruktur Dapat Ancaman

BUMN Proyek Infrastruktur Dapat Ancaman

21 Feb 2018 - 00:58 WIB | 141 Klik

Follow Us