Wonderful Indonesia
Menembus Desa-desa Pelosok Kampar Kiri Hulu-Limapuluh Kota (3-Habis)
Di Riau Hanya ’’Numpang’’ Tidur
Rabu, 06 Desember 2017 - 10:55 WIB > Dibaca 1282 kali Print | Komentar
Di Riau Hanya ’’Numpang’’ Tidur
NAIKI RAKIT: Warga yang bekerja melangsir karet menaiki rakit untuk menyeberangi Sungai Bungo di lintas Lipat Kain-Limapuluh Kota, Selasa (28/11/2017).
Desa-desa paling ujung Riau jauh tertinggal dibandingkan desa lainnya. Tepatnya di lintas Lipat Kain-Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar). Lebih dekat ke Sumbar, keperluan sandang, pangan, pendidikan dan kesehatan juga banyak dipenuhi di provinsi tetangga tersebut.

KAMPAR KIRI HULU (RIAUPOS.CO) - SETELAH melewati belasan desa yang berada di sepanjang jalan dari Lipat Kain hingga Desa Kebun Tinggi, Selasa (28/11) siang, Riau Pos sampai diDesa Tanjung Permai. Ini desa terakhir milik Riau sebelum tembus ke Limapuluh Kota. Bersama Desa Lubuk Bigau, Kebun Tinggi dan Desa Pangkalan Kapas yang berada sebelum Tanjung Peramai,  keempatnya merupakan desa terjauh dan terpisah dari desa sebelumnya, Batu Sasak. Keempatnya juga masuk dalam satu kenegerian. Yakni Kenegerian Pangkalan Kapas.

Dari Batu Sasak ke empat desa tersebut cukup jauh. Sampai Lubuk Bigau saja sekitar 10 km jaraknya. Sekitar dua jam menggunakan sepeda motor trail dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Lamanya waktu perjalanan dikarenakan kondisi jalan tanah yang berlumpur. Licin. Ditambah mendaki dan menuruni puluhan bukit.

Di desa terakhir Tanjung Permai cukup ramai warganya. Rumahnya pun banyak. Dari dusun ke dusun, ada jalan semen selebar 1 meter yang menghubungkan satu dengan lainnya. Melewati kebun karet warga. Tapi, hanya bisa untuk pejalan kaki dan sepeda motor. Meski belum kenal, warga tidak sungkan-sungkan melempar senyum, bertanya atau sekadar menganggukkan kepala. Kalau ditanya, cepat-cepat mendekat dan menjawab. Sangat terasa jiwa ingin membantu sesama.

Bahasa yang digunakan warga tidak seperti bahasa orang Kampar pada umumnya atau bahasa Ocu. Justru mirip dengan Sumbar. Untuk sapaan laki-laki yang lebih tua dipanggil uwan. Ada juga yang memanggil uda. Untuk perempuan yang lebih tua, warga biasa memanggil dengan uni. Mereka menyebut baa untuk kata bagaimana dan bara untuk berapa. Di warung-warung tepi jalan, lagu Minang terdengar sayu-sayup.

Kedekatan empat desa ini dengan Limapuluh Kota, menjadikan tradisi dan kebudayaan mereka sama dengan salah satu kabupaten di Sumbar itu. Untuk keperluan sandang dan pangan mereka juga menyelesaikannya ke Pasar Ibuh atau Pasar Taram, Payakumbuh, meski hanya dua kali dalam sepekan.

Banyak warga Payakumbuh yang berdagang ke desa mereka membawa keperluan pokok menggunakan sepeda motor. Barang-barang dagangan itu dibawa dengan keranjang yang dipasang di bagian belakang sepeda motor. Inilah yang disebut garendong; pedagang dengan sepeda motor.

“Kalau mereka (garendong, red) berdagang, sering bermalam di sini. Kalau datang hari ini, paginya baru pulang ke Payakumbuh,” ujar Era, warga Desa Tanjung Permai.

Berbelanja ke Payakumbuh, kata Era, menjadi pilihan utama warga. Lebih dekat. Sedang Lipat Kain lebih jauh. Akses jalan lebih sulit.  Bisa memakan waktu berhari-hari. Untuk belanja beras, bisa menginap beberapa malam. Tak mungkin.

“Hampir tak pernah kami belanja ke Lipat Kain. Memang, kalau pasar di Riau yang paling dekat adalah Lipat Kain,” kata Era.

Hasil pertanian seperti karet juga dijual ke Limapuluh Kota. Jalan yang sulit, membuat harga karet di sini lebih murah. Kadang-kadang bisa Rp4.000 saja per kg. Dalam keadaan murah seperti itu, ada pula warga yang kerja khusus melangsir. Seperti garendong juga. Berat. Berjam-jam. Kerja keras yang jelas. Padahal, keuntungan yang diperoleh hanya Rp1.000 per kg.
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
TERKAIT KASUS E-KTP
Kondisi Kesehatan Setya Novanto Dicek Ulang, Sidang Diskors
Rabu, 13 Desember 2017 - 18:15 wib
DIADANG SEJUMLAH ORMAS LOKAL
Ustaz Somad Dipersekusi di Bali, Begini Reaksi Ketua MPR
Rabu, 13 Desember 2017 - 18:00 wib
ADA KEKELIRUAN SUBSTANSI
Penerbit Buku Sebut Yerusalem Ibukota Israel Dipanggil KPAI
Rabu, 13 Desember 2017 - 17:50 wib
MENGAKU DIARE
Begini Sindiran KPK soal Bungkamnya Setnov di Sidang e-KTP
Rabu, 13 Desember 2017 - 17:40 wib
KASUS E-KTP
Mampu Berjalan, Setya Novanto kok Bungkam di Persidangan?
Rabu, 13 Desember 2017 - 17:30 wib
BANTU KINERJA KEPOLISIAN
Banyak Berjasa, Panglima TNI Langsung Dapat Penghargaan dari Kapolri
Rabu, 13 Desember 2017 - 17:10 wib
PIALA DUNIA ANTARKLUB 2017
Madrid Sangat Inginkan Gelar
Rabu, 13 Desember 2017 - 17:02 wib
HASIL PENILAIAN PUSPURBUK 2008
Kemendikbud Puji Masyarakat soal Temuan Buku Sebut tentang Israel
Rabu, 13 Desember 2017 - 17:00 wib
SIDANG LANJUTAN KASUS E-KTP
Sempat Bungkam, Setnov Ngeluh Tidak Diberi Obat Diare oleh Dokter KPK
Rabu, 13 Desember 2017 - 16:50 wib
TERKAIT KASUS E-KTP
Hanya Diam Sepanjang Sidang, Kesehatan Setnov Dipertanyakan
Rabu, 13 Desember 2017 - 16:45 wib
Cari Berita
Begini Ceritanya Terbaru
Terpana Paras Jelita

Rabu, 13 Desember 2017 - 09:07 WIB

Dikira Mau Bunuh Diri

Selasa, 12 Desember 2017 - 09:57 WIB

 Semua Pengalaman yang Dilalui Adalah Keseruan

Senin, 11 Desember 2017 - 10:50 WIB

Sudah 20 Tahun Buaya Ini Jadi Bagian dari Keluarga

Senin, 11 Desember 2017 - 10:39 WIB

Rebutan Tabung Gas

Senin, 11 Desember 2017 - 09:52 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us