Temperamen

Minggu, 18 Sep 2016 - 11:50 WIB > Dibaca 6502 kali | Komentar

TIAP hari, puisi yang baru terus lahir. Penyair lama, penyair baru, seolah saling berkejaran, membawa temperamennya masing-masing. Temperamen yang dimiliki oleh setiap individu penyair (seniman), kata Emila Zola, muncul ketika ia menyadari bahwa ia tidak sedang hidup dalam realitas benda-benda fisik, dan sekaligus pada saat yang sama ia menyadari bahwa ia tidak juga sepenuhnya terserap dalam suasana individual.

Maka “temperamen” adalah keistimewaan (sekaligus tantangan) yang dimiliki penyair. Bagi yang menemukan “temperamen-nya” sendiri, ia akan pula menemukan suara bathinnya. Suara bathin, yang hari ini kian redup oleh hingar suara luar, suara yang datang dari kesibukan manusia modern mencari “eksistensi” dan kesenangan dirinya. Dan puisi pun tampak lebih banyak turut sibuk “menyenang-nyenangkan” dirinya.  

Maka “temperamen” sesungguhnya juga mengingatkan kita pada konsepsi Roland Barthes, yang membagi unsur sastra itu tidak hanya pada bahasa (language) dan gaya (style), tapi juga apa yang ia sebut sebagai tulisan (writing). Bagi Barthes, “tulisan” adalah suara pribadi penulisnya, adalah juga “sifat batin”-nya. Keunikan dan orisinalitas sebuah teks sastra, dapat dilihat dari bagaimana sang penulis menunjukkan individualisme-nya itu.

Sifat-sifat sebuah karya sastra, seturut Barthes, justru lahir dari kebebasan individu yang tertuang dalam writing itu. Dan konon, apa yang disebut sebagai the art of writing itu, bertempat tinggal di sana, di dalam sifat-sifat batin senimannya. Dan inilah dia, yang tiap waktu, tiap hari bangkit, dalam wajahnya yang “baru.”

Maka tiap zaman, lahir penyair baru dengan temperamen yang berbeda-beda. Dan betapapun zaman dapat memengaruhi temperamen penyair, karakteristik penyair dalam puisi tak serta merta berubah total. Inilah yang oleh Rousseau (ahli estetika) disebut sebagai “seni karakteristik.” Seni itu, bagi Rousseau, bukanlah deskripsi atau reproduksi dunia empiris, melainkan luapan emosi perasaan.

Tentu, kita kemudian jadi ingat, para filsuf di zaman lampau itu memang tengah memperdebatkan ihwal mana “seni mimetik” dan mana “seni karakteristik.” Seperti yang pernah disebut oleh para neo-klasikis (orang-orang Italia abad keenambelas) sebagai la belle nature (alam yang molek)—sebuah prinsip, yang mereka imani, dan jadi landasan dalam memahami seni, terutama dalam teori imitasi (mimesis).

Tapi, kita tahu kemudian, ini bukanlah perdebatan yang usai. Teori imitasi yang melahirkan banyak istilah seperti seni objektif, seni formatif, seni reproduktif, seolah terus berhadap-hadapan dengan apa yang kemudian disebut seni subyektif, seni ekpresif, seni karakteristik—dan berbagai istilah lain lagi.

Meskipun, pada perkembangannya, perdebatan sengit itu justru melahirkan teori tersendiri dengan apa yang disebut oleh Kant sebagai “seni universal” atau “universalitas estetis.” Yang obyektif dan yang subyektif, di situ, tak terpisahkan. Yang mimesis, yang karakteristik, bahkan saling menubuh dalam universalitas. Persetubuhan itu, dihubungkan oleh sebuah ruang plastis, semacam ruang untuk mempertemukan benda-benda dengan sosok “sejatinya.”


Maka matahari boleh sama, tapi cahayanya setiap hari boleh jadi baru. Misalnya dua orang penyair menulis dengan objek yang sama—tentang laut misalnya—apakah akan lahir puisi yang sama? Tentu tidak. Sebab, seturut Cassirer, para seniman tidaklah sekedar memotret dan menyalin objek empiris tertentu, tapi yang ia tuangkan akan fisiognomi sesaat dan individual dari “laut” tersebut. Dan, di situlah bangkit temperamen si penyair.***


KOMENTAR
BERITA POPULER
Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

21 Feb 2018 - 00:02 WIB | 187 Klik
Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

21 Feb 2018 - 00:31 WIB | 181 Klik
KFC Tutup Ratusan Restorannya

KFC Tutup Ratusan Restorannya

21 Feb 2018 - 01:16 WIB | 156 Klik
Sky Energy Melantai, Harga Sahamnya Rp375-Rp450 Per Lembar

Sky Energy Melantai, Harga Sahamnya Rp375-Rp450 Per Lembar

21 Feb 2018 - 00:44 WIB | 153 Klik
BUMN Proyek Infrastruktur Dapat Ancaman

BUMN Proyek Infrastruktur Dapat Ancaman

21 Feb 2018 - 00:58 WIB | 141 Klik

Follow Us