Menunggu Tamu Allah

Minggu, 18 Sep 2016 - 11:23 WIB > Dibaca 3388 kali | Komentar

ALHAMDULILLAH, pelaksanaan haji tahun ini berjalan dengan lancar. Tidak ada musibah yang sampai mengerenyitkan dahi, menusuk perasaan, atau apa pun jenisnya yang dapat menyebabkan hati setidak-tidaknya merasa kurang sedap.  Sedikit persoalan, ya sedikit persoalan dipandang dari kepengurusan dunia, adalah mereka yang berangkat menunaikan ibadah haji itu dari Filipina.

 “Sekarang, pikiran kita tidak terusik oleh musibah-musibah yang sempat terjadi meski tetap dapat menangkap hikmah darinya. Sekarang, rasanya kita hanya tinggal menunggu tamu Allah pulang ke kampung halamannya, insya Allah” tulis kawan saya Abdul Wahab melalui pesan pendek telepon genggam (SMS).

Saya mengiyakannya dalam hati. Arus balik yang dimaksudkan Wahab tersebut akan mulai terjadi dua atau tiga hari mendatang lagi. Saat ini, jemaah haji gelombang pertama, apalagi kloter pertama pula, sudah bersiap-siap untuk pulang ke Tanah Air. Sedangkan gelombang kedua, menuju Madinah al-Munawarah, melaksanakan berbagai kegiatan terutama ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW dan sahabat, selain melaksanakan sholat arbain.

Kalimat, “hanya tinggal menunggu tamu Allah pulang kampungnya” sebagaimana ditulis Wahab dalam SMS terdahulu, menyiratkan kenangan “mengesankan” dari pelaksanaan-pelaksanaan haji terdahulu. Ya, tahun 2015 saja misalnya, kepulangan jemaah haji ke Tanah Air, disertai dengan berita lebih dari 1.000 orang jemaah meninggal akibat terunjak-injak. Peristiwa ini persis terjadi 24 September, usai melempar jumrah akabah.

Cuma persoalannya bukan hanya takdir musibah tersebut yang berkumandang. Kejadian ini ditarik dalam ranah politik internasional, meskipun yang terlibat hanya antara negara-negara itu saja. Pihak-pihak yang sejak lama senantiasa mengaitkan politik dengan apa-apa yang terjadi di tanah suci.

Apa yang kemudian terlihat bahwa peristiwa tersebut, bukan menyangkut substansial ibadah, tetapi pada tindakan manusia; adanya pengutamaan duniawi yang disyukuri kemudian tidak berpanjang-panjangan, sehingga menjadi isu permanen. Allahuakbar!

Ingatan terhadap peristiwa tersebut tentu saja mengingatkan kejadian-kejadian non-ibadah selama musim haji.

Sebagaimana disebutkan sebuah sumber, beberapa kali peristiwa yang mencuat ke permukaan, tidak begitu mudah dilupakan. Terinjak-injak dekat jembatan jamrat di Mina sebagaimana halnya tahun 2015, telah berkali-kali terjadi antara lain tahun 1998, 2001, 2003, 2004, dan 2006.

Pernah juga terjadi bentrokan antara jemaah dengan petugas karena jemaah tersebut melakukan aktivitas politik tahun 1987. Malahan, tahun 1989, sebuah bom meledak dekat Masjidil Haram yang menyebabkan satu orang meninggal dunia. Belum lagi musibah terowongan Mina yang menyebabkan hampir 1.500 orang meninggal, di antaranya juga dari Riau. Tahun 1997, ada kebakaran dekat Mina, juga yang menewakan ratusan orang.    

 “Mengenang peristiwa-peristiwa tersebut tentu maksudnya baik yakni agar semakin besar syukur kita kepada Allah SWT bahwa tahun ini, kita terhindar dari hal-hal semacam itu,” tulis saya kepada Wahab. Saya sambung kalimat itu dengan mengatakan, pun peristiwa-peristiwa itu tentu memberi hikmah agar kita senantiasa mawas diri, sedangkan rahmat Allah SWT tidak terhingga.

Mengaku sependapat dengan saya, Abdul Wahab kemudian menulis, “Dengan demikian pula, insya Allah kita lebih fokus menerima kepulangan jemaah haji sekarang. Tidak saja mengantar keberangkatan, menanti kepulangan mereka juga merupakan sesuatu yang istimewa.”

Tentulah apa-apa yang ditulis Wahab tersebut sejalan dengan posisi haji itu sendiri. Apalagi pada saat sekarang, pergi haji makin terlihat sebagai sesuatu yang dipilih. Ada duit banyak pun, harus menunggu bertahun-tahun baik menggunakan apa yang disebut plus, apalagi reguler. Tidak seperti 1997 ke bawah, daftar tahun ini, tahun depan sudah bisa berangkat.

 “Tanyalah pada ustaz-ustaz, keutamaan menunggu orang pulang haji pun tidak sedikit. Semoga kita senantiasa menerima dan melaksanakan panggilannya dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana juga diharapkan setiap jemaah haji dengan apa yang disebut sebagai haji mabrur—tidak hanya saat melaksanakan ibdah haji. Amin,” tulis Wahab.

Tak saja dalam hati, saya langsung membalas SMS-nya itu, “Amin....” ***

KOMENTAR
BERITA POPULER
Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

21 Feb 2018 - 02:17 WIB | 598 Klik
Bulog Tetap Ngotot Lakukan Impor Beras

Bulog Tetap Ngotot Lakukan Impor Beras

21 Feb 2018 - 13:02 WIB | 566 Klik
Korupsi Bapenda, Kejati Terbitkan Sprindik Baru

Korupsi Bapenda, Kejati Terbitkan Sprindik Baru

21 Feb 2018 - 10:16 WIB | 558 Klik
Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

21 Feb 2018 - 00:31 WIB | 483 Klik
KFC Tutup Ratusan Restorannya

KFC Tutup Ratusan Restorannya

21 Feb 2018 - 01:16 WIB | 469 Klik

Follow Us