Buat Apa Pekan Olahraga?

Rabu, 14 Sep 2016 - 11:41 WIB > Dibaca 1095 kali | Komentar

Mungkin ada beberapa yang belum tahu bahwa sebentar lagi Pekan Olahraga Nasional (PON) kesekian diselenggarakan di Jawa Barat. Menurut saya seperti ini…


***


Tahun ini benar-benar tahun overload olahraga. Bahkan mungkin overexposed. Ada Piala Eropa, ada Olimpiade. Berbagai liga dalam berbagai cabang olahraga di berbagai penjuru dunia terus berlangsung seperti biasa. Beberapa berlangsung lebih mendebarkan, lebih melelahkan, dari tahun-tahun sebelumnya (misalnya, Final NBA).


Lalu, ada Pekan Olahraga Nasional alias PON.


Seperti beberapa kali saya lakukan dalam menulis kolom Happy Wednesday ini, saya meminta pembaca untuk membuka mata lebih lebar, membuka mata hati selebar-lebarnya, mencoba mengaplikasikan common sense alias akal sehat seoptimal mungkin.
Tulisan ini tidak bertujuan untuk mengkritik pihak-pihak tertentu. Tidak untuk menyindir pihak-pihak tertentu.


Tulisan ini justru bertujuan untuk mengkritik kita semua, menyindir kita semua, mengajak kita semua untuk merenung. Termasuk menyindir dan mengkritik saya sendiri. Terus terang, saya tidak pernah memahami PON. Saya berusaha semaksimal mungkin. Saya tidak ingin dianggap tidak nasionalis, tidak ingin dianggap tidak mencintai kegiatan negara sendiri.


Silakan tanya orang-orang yang dekat dan kenal cara saya bekerja, saya justru sangat ingin negara kita berbuat lebih, berkegiatan lebih. Saya rasa Pak Menteri Pemuda dan Olahraga pun tahu betapa besarnya keinginan saya, dan seberapa besar upaya saya, dalam mencoba membuat dunia olahraga di Indonesia lebih hidup.


Kalau Anda masih tidak percaya, silakan google saja nama saya. Foto-foto yang keluar hampir semua berkaitan dengan dunia olahraga.


Media-media di bawah grup Jawa Pos pun selama ini mungkin termasuk yang paling getol mempromosikan, memberitakan dunia olahraga. Bahkan ikut getol menyelenggarakan berbagai kegiatan olahraga.


Saking banyaknya media di bawah grup ini (jumlah lebih dari 200 penerbitan dan stasiun televisi), Jawa Pos sampai harus merancang dan menyiapkan media center sendiri di Jawa Barat untuk peliputan lengkap PON 2016 ini.


Padahal, secara pribadi (pribadi lho ya, bukan institusi), saya termasuk yang berkecamuk menyikapi PON. Saya tinggal di Jawa Timur, dan di atas kertas seharusnya mendukung Jawa Timur. Saya lahir di Kalimantan Timur (Kaltim), jadi seharusnya ada kecondongan juga untuk Kaltim.
Tapi, apakah itu berarti saat PON saya harus mati-matian mendukung dua daerah itu, lalu tidak mendukung –apalagi tidak menyukai– daerah lain?


Karena saya berkiprah di tingkat nasional, tentu tidak mungkin demikian. Apalagi, saya punya begitu banyak teman, baik di tingkat pengurus olahraga maupun atlet, yang di PON tahun ini akan berkiprah membela berbagai cabang olahraga untuk berbagai provinsi.


Lebih ironisnya lagi, saya punya banyak teman dari yang di PON nanti justru membela provinsi yang seharusnya bukan tempat mereka berasal, juga bukan tempat mereka menetap.


Jadi, terlalu banyak kebingungan dalam diri saya. Di cabang tertentu, sepertinya mendukung provinsi tertentu. Tapi, di cabang lain mendukung atlet/individu dari berbagai provinsi lain.


Saya menyadari betul, betapa pentingnya PON ini bagi para atlet. Saya kenal begitu banyak atlet yang sudah mendedikasikan hidupnya untuk olahraga sehingga sampai tidak bersekolah, rela pindah-pindah provinsi. Karena hidup mereka bergantung pada PON ini.


Karena PON hanya empat tahun sekali, untuk atlet cabang-cabang tertentu, hanya empat tahun sekali mereka benar-benar bisa panen.


Saya sangat kasihan kepada teman-teman itu. Tapi, situasinya memang harus seperti itu. Mau bekerja di bidang lain, atau mau mencari karier, bagi mereka sangat sulit karena banyak yang tidak bersekolah.


Kadang, saya berpikir, seharusnya mereka bisa panen setiap tahun. Tidak harus empat tahun sekali. Kadang, saya berpikir, hapus saja PON. Lalu, fokus dan arahkan dana yang begitu besar itu ke pengurus cabang olahraga langsung. Selenggarakan kejuaraan nasional berseri setiap tahun, untuk semua cabang olahraga yang jelas arahnya (SEA Games, Asian Games, Olimpiade, atau cabang populer global lain).


Rasanya kok tidak banyak ya negara lain yang punya PON. Yang jelas, negara-negara maju kebanyakan tidak punya. Amerika tidak punya, dan mereka meraih medali emas terbanyak Olimpiade. Australia rasanya juga tidak punya, dan mereka punya banyak medali emas walau populasi negaranya hanya setara Jabotabek.


Kalau dana fokus ke pengurus cabang olahraga langsung (PB-PB), pressure bisa langsung diberikan kepada PB-PB itu. Lalu, beri mereka beban langsung yang bisa ditetapkan secara konkret parameternya: Peningkatan jumlah partisipasi, peningkatan jumlah atlet di tingkat elite, dan lain sebagainya.


Jadi, PB-PB tidak bisa lagi menyalahkan organisasi lain yang juga mengurusi olahraga. Dan organisasi lain itu tidak bisa lebih menyalahkan PB-PB. Satu pintu, fokus, cukup sampai di situ.


Dan karena kompetisi dibuat setiap tahun dan rutin serta berseri, tidak perlu pusing mencari atlet untuk turun di tingkat internasional. Tidak perlu ada TC jangka panjang yang kembali menghabiskan dana.


Kadang konyol, ada TC jangka panjang karena harus ada persiapan fisik. Lha yang namanya atlet kelas elite kok harus dipersiapkan fisiknya? Andai kompetisi berlangsung rutin setiap tahun dan berseri, kondisi fisik mereka akan selalu siap. Tinggal mengatur timing supaya mereka peak saat diperlukan di tingkat internasional.


Lebih efisien, lebih fokus, buntutnya lebih banyak atlet daripada pengurusnya (yang banyak mungkin sebenarnya tidak paham dan tidak pernah ikut sibuk mengurusi olahraga).


Mungkin, saya masih salah persepsi soal fungsi PON. Ya, saya tahu ini juga merupakan cara untuk membangun infrastruktur olahraga di berbagai wilayah. Tapi, membangun kan tidak harus menunggu PON?


Konyol rasanya kalau ditanya mengapa gedung olahraga ini dibangun, dan jawabannya adalah ’’Untuk PON’’. Bukankah seharusnya jawabannya: ’’Untuk memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat?’’ Dan itu tidak harus menunggu PON! Pertanyaan satu lagi di benak saya: Sudah berapa kali, dalam berapa puluh tahun, PON ini diselenggarakan? Dan apakah itu membuat prestasi kita terus membaik di tingkat Asian Games atau Olimpiade?


Kalau iya membaik, kok rasanya pelan sekali ya. Kalau dipandang tidak membaik, bukankah itu berarti kita harus mengevaluasi lagi cara negara kita menyelenggarakan kegiatan olahraganya?
Anyway, sekali lagi mohon maaf kalau tulisan ini menyinggung perasaan. Saya paham betul, ada begitu banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari PON.


Percayalah, saya tetap akan memperhatikan PON jauh lebih dari kebanyakan orang. Sebab, bagaimanapun, saya ini telanjur tercemplung di dunia olahraga nasional. Dan grup media saya harus bisa berperan besar untuk terus mempromosikan dan mengembangkan dunia olahraga nasional.


Tapi, tidak ada salahnya serius memikirkan cara alternatif bukan? Karena tujuan akhirnya kan tetap bukan ’’Ayo Sukseskan PON’’. Melainkan ’’Ayo kibarkan Merah Putih di kancah olahraga internasional.’’***

KOMENTAR
BERITA TERBARU

Promo Spesial untuk Pelanggan Setia

21 Februari 2018 - 10:13 WIB

Perbaikan Jalan Ditimbun Kerikil

21 Februari 2018 - 10:10 WIB

Retail Sales Daihatsu Tembus 15.896 Unit

21 Februari 2018 - 10:08 WIB
Baru Enam OPD Sampaikan Laporan Keuangan Ditenggat Akhir Februari

Baru Enam OPD Sampaikan Laporan Keuangan Ditenggat Akhir Februari

21 Februari 2018 - 10:05 WIB

Outdoor Class, SD Cendana Duri Belajar ke Riau Pos

21 Februari 2018 - 10:00 WIB
Buat Surat Pengganti KTP-El

Buat Surat Pengganti KTP-El

21 Februari 2018 - 09:55 WIB

Biaya Operasional Tak Tertutupi

21 Februari 2018 - 09:50 WIB
Bupati Apresiasi Program YBM BRI Peduli Pendidikan  dan Pedagang Kurang Mampu

Bupati Apresiasi Program YBM BRI Peduli Pendidikan dan Pedagang Kurang Mampu

21 Februari 2018 - 09:47 WIB
BERITA POPULER
Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

21 Feb 2018 - 02:17 WIB | 483 Klik
KFC Tutup Ratusan Restorannya

KFC Tutup Ratusan Restorannya

21 Feb 2018 - 01:16 WIB | 387 Klik
Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

21 Feb 2018 - 00:31 WIB | 378 Klik
Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

21 Feb 2018 - 00:02 WIB | 320 Klik
Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

21 Feb 2018 - 01:56 WIB | 250 Klik

Follow Us