Wonderful Indonesia
PERISA - YUSMAR YUSUF
Nodong atau Dialog?
Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:23 WIB > Dibaca 2480 kali Print | Komentar
Nodong atau Dialog?
Yusmar Yusuf
JUDUL ini adalah frasa orang marah, orang yang sedang sesak dan naik pitam? Datanglah dengan lembut, datanglah dengan senyum. Sebuah doktrin tak bisa saja dijinjit dengan hentakan tongkat menggetar, dengan efek goncang menggelegar. Kata-kata, pilihan kata (diksi), tampil dalam wujud frasa (yang mengandung emosi yang juga menandung), sekaligus mempertontonkan kedewasaan dan kematangan orang yang berujar. Ujar-ujaran pendek, terkesan membentak, memperlihatkan bahwa sisi anti dialog menjadi amalan sehari-hari sebuah bangsa, terutama para elite bangsa itu.

Ada satu frasa yang mengganggu kematangan bangsa ini; NKRI Harga Mati! Frasa ini digunakan ketika berdepan dengan kekuatan luar yang menginjak-injak harga diri dan martabat bangsa, sebagaimana berlaku pada era penjajahan (kolonialisme) dulu kala. Maka, tiada pilihan, kita harus merdeka dengan tekanan superlatif; Merdeka, Harga Mati! Namun, setelah kemerdekaan dicapai, kita pun bertugas mengisi impian Indonesia itu dalam bahasa lokal, idaman kolektif masing-masing dalam cara dan kiat yang beragam (sejalan dengan asas kebhinekaan bangsa ini). Kita sudah melekat dan merekat menjadi sebuah bangsa yang disebabkan oleh sebuah “nasib”. Nasib sama-sama dijajah oleh sebuah bangsa bernama Belanda. Nasib dalam waktu yang berabad-abad, nasib dalam lengkungan dan kumpulan kepulauan Melayu yang memiliki akar bahasa yang sama (Melayu-Melanesia). Sehingga kita mudah dipersatukan dalam kanal penghubung bernama bahasa Melayu.

Hari ini, kita telah berusia amat dewasa (72 tahun), namun frasa yang digunakan dalam modus atau rumus yang dinisbatkan sebagai pilar (tiang kebangsaan) itu amat kurang dewasa. Kita yang sudah melekat dan merekat dalam kadar kohesi tinggi sebagai sebuah bangsa itu tak perlu diragukan lagi, dan tak perlu menggunakan frasa serba “menodong”,  dan bahkan terkesan meringkus kedewasaan akal sehat. NKRI itu semestinya bukan harga mati, tapi dia lebih dari upaya pemupukan dialog yang membesar dan meranum. Bahwa NKRI itu adalah sebuah proses dialog panjang, kreatif, produktif dan kompositif. Dia adalah sebuah “jalan panjang” dialog yang tak menjemukan, sebuah jalan dialog yang mencerah dan mencerdaskan. Bahwa elemen keragaman bangsa ini direkat oleh jalan dialog yang membahagia dan menggali potensi keragaman yang terhidang di sepanjang “lebuh raya” kebangsaan itu.

Kenapa harus dialog? Sebuah bangsa yang dewasa, akan menghindari bahasa atau ujaran kekanak-kanakan. Ujaran atau frasa yang meringkus, mengancam dan diksi menodong-nodong. Walhasil, kita hanya bersatu ketika diancam, ditodong dan diringkus oleh kalimat-kalimat pendek. Menjadi sebuah bangsa itu adalah sebuah rangkaian cerita yang panjang, sebuah jalan novel yang mencerah dan mencerdaskan, sebuah lebuh raya dialog yang menggetarkan, sehingga dia akan diuji atau teruji dalam skala ujian setiap periode yang senantiasa terulang dan berulang-ulang. Hanya dengan dialoglah bangsa ini akan jaya, dan dihormati dunia. Ketika frasa “Harga Mati” dijadikan semacam jargon yang menuju pada semangat “doktrinal”, apakah frasa atau diksi “Dialog” tak mungkin dijadikan semacam “Doktrin” kebangsaan pula?  Menurut hemat saya, dialog tetap bisa dimasukkan dalam “rezim” doktrinal, apatah lagi dijadikan sebagai “pilar kebangsaan”. Sebab, diksi ini lebih mengedepan posisi sama tinggi dan rendahnya anasir kebangsaan itu di depan negara. Dialog adalah wujud representasional ketiadaan hubungan antara tuan dan hamba, pupusnya relasi tuanku-patik, menghilangkan kejumudan hubungan paduka-jelata. Bahwa elit bangsa yang menjadi pemimpin hari ini, adalah hasil stilasi dialog dalam medan bernama rakyat. Dia menjelma melalui seleksi rakyat yang memilih. Pemilihan itu terjadi karena sebuah dialog yang dibangun oleh calon elit dengan rakyat jelata. Kemudian menghasilkan kesepakatan untuk didulukan selangkah dan ditinggikan seranting.

Lewat jalan ini, kita merindukan bahwa NKRI adalah hasil dialog demi dialog yang memukau dan mempesona. Bahwa orang timur di negeri tropis ini senang diajak berembuk, berdialog dan musyawarah. Tersebab bawaan kebudayaannya yang senang berkumpul, berkelompok dan berbincang dalam kelompok-kelompok kecil, kenyataan ini secara sosiologis merupakan kekayaan sosial (social capital) yang merindukan dialog dalam beragam versi dan derivasi. Memulainya? Amatlah mudah. Dengan membuka diri dan fikiran.

Cara menghidang  dan membungkus frasa adalah bagian dari kedewasaan sebuah bangsa itu sendiri. Setiap bangsa yang besar yang menjalani sejarah yang berorientasi ke masa depan, selalu lebih mengutamakan dialog. Apatah lagi, hari ini kita telah mengakui kehadiran generasi milenial (anak manusia yang dilahirkan sejak tahun 1980-an hingga 2000-an) yang tak “mengerti” dan merasa asing dengan sejumlah relasi tuanku-patik, tuan-hamba. Mereka lebih mengedepankan relasi pertemanan (brotherhood); lebih mengutamakan prestasi berdasarkan meritokrasi (nujum kurve normal) dalam capaian kerja, lebih mengutamakan kerja keras, di sebuah ruang publik yang terbuka. Kalau pun harus masuk dalam ruang, namun ruang-ruang itu pun harus tanpa penyekat ruang (non-partisi), mereka tak memiliki meja tetap. Mereka menjemput mood (resa dan gesa) dengan cara berpindah-pindah meja kerja. Sebab, piranti kerja menurut mereka hari ini berada di ujung jemari (laptop) yang serba portable-mobile.

Generasi model begini, tak bisa dilayani dengan frasa doktrinal yang berlaku sepihak. Bagi mereka, diksi ini seakan terjun dari langit; datang dan terjun bebas, langsung menghunjam masuk ke sebuah ruang hampa, yang tanpa penghuni, tanpa impian, tanpa cita-cita. Sebah Indonesia yang kita ciptakan bertahun-tahun itu telah diisi oleh sejumlah impian, idaman koletif dan cita-cita menurut generasi dan zamannya masing-masing. Semangat ke-Indonesia-an hari ini, tak bisa diukur berdasarkan parameter patriotisme lewat jejeran foto-toto pahlawan di dinding-dinding sekolah. Mereka sudah memiliki ke-Indonesia-an dalam semangat global, dalam semangat hidup bersisian dengan bangsa-bangsa lain yang sejatinya hari ini tiada dibatasi oleh jarak. Sehingga, bahasa atau frasa yang dimaksudkan untuk merekatkan “nilai” kebangsaan itu, tidak lagi lemak dan molek jika masih menjinjit dalam bentuk frasa dan kalimat-kalimat mengancam, menodong dan meringkus. Mereka secara biologis memang lahir dari kita, akan tetapi secara meta-biologis mereka dilahirkan oleh kepungan alat-alat, perkakas-perkakas universum yang lebih mengajak pada ingsutan serba dialogis. Maka, berdialoglah! Lewat dialoglah bangsa ini akan kaya dan menjadi raksasa muka bumi.  



Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
POLITIK
Kewajiban Konstitusional DPD RI Belum Optimal
Sabtu, 18 November 2017 - 13:28 wib

TNI-Polri Bebaskan 344 Warga Terisolasi
Sabtu, 18 November 2017 - 12:57 wib
Babak 8 Besar Liga 2 2017
Masih Bingung Hitung Kerugian
Sabtu, 18 November 2017 - 11:55 wib
Egy Maulana Vikri
Klub Malaysia Getol Buru Tanda Tangan Egy
Sabtu, 18 November 2017 - 11:53 wib
China Open Super Series Premier (SSP) 2017
Dua Ganda Putra Melesat ke 8 Besar
Sabtu, 18 November 2017 - 11:45 wib

Usai Dipindah, KPK Tahan Setnov
Sabtu, 18 November 2017 - 11:45 wib
Menjemput Beruang Madu di Pelosok Kampar
Dari Sehat, Tiba-tiba Sakit, Lalu Mati
Sabtu, 18 November 2017 - 11:39 wib

Hukuman RZ Dipangkas 4 Tahun
Sabtu, 18 November 2017 - 11:38 wib

Lanjutkan Sukses SEA Games di Prancis Open
Sabtu, 18 November 2017 - 11:33 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Kenalkan Tradisi Menggelek Tobu

Jumat, 17 November 2017 - 09:13 WIB

Mandi Safar, Rupat Dipadati Pengunjung

Rabu, 15 November 2017 - 08:59 WIB

Mengenang Sang Burung Waktu

Minggu, 12 November 2017 - 11:14 WIB

Tragis Rupa

Minggu, 12 November 2017 - 10:48 WIB

STAIN Bengkalis Gelar Aksi Peduli Desa

Rabu, 08 November 2017 - 08:58 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us