Wonderful Indonesia
Perjuangan Partito Berdakwah di Pedalaman Mentawai
Terjungkal ke Laut, Diminta Tausiyah di Gereja
Jumat, 22 September 2017 - 11:46 WIB > Dibaca 3194 kali Print | Komentar
Terjungkal ke Laut, Diminta Tausiyah di Gereja
TAUSIAH: Partito menyampaikan tausiah di salah satu masjid di Pedalaman Mentawai, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu.
Berita Terkait
Menjadi pendakwah di daerah pedalaman bukanlah perkara yang mudah. Apalagi di tengah masyarakat yang mayoritas non-muslim. Banyak rintangan yang harus dihadapi. Selain budaya masyarakat, akses yang tak mudah menjadi hambatan dalam menyiarkan agama Islam. Namun hal tersebut bukan halangan bagi Partito.

PADANG (RIAUPOS.CO) - MENGGELUTI dunia dakwah dan membawa misi menyebarkan Islam di daerah pedalaman  Mentawai sudah dilakoni Portito sejak 9 tahun lalu. Pria asli Solok itu, memilih berdakwah di daerah pedalaman dengan alasan panggilan jiwa. Salah satu tempat yang dipilihnya adalah Kepulauan Mentawai, tepatnya di Sagulubbek, Kecamatan Siberut Barat Daya. Ini merupakan daerah terluar Indonesia dan langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia.

Portito menuturkan, pada tahun 2009, ia diutus ke Mentawai untuk menegakkan ajaran Islam. Sekitar enam tahun, ia habiskan di daerah pedalaman yang masyarakatnya baru mengenal pakaian dan masih memakai kabit atau koteka (pakaian khas daerah Mentawai).

Memutuskan berdakwah di Bumi Sikerei bukanlah hal yang mudah. Karena Pulau Mentawai merupakan pusat gempa yang sewaktu-waktu dapat terjadi tsunami. Namun, akhir 2008, ia putuskan untuk menetap di pulau tersebut dan mulai mengenal kebudayaan dan masyarakatnya.  

Tak terbilang kendala yang dialaminya ketika berdakwah di daerah itu. Mulai dari terapung di tengah laut, terjun di tengah laut dari speed boat yang ditumpanginya karena dihantam ombak, terjungkal ke laut hingga penolakan secara tidak langsung dari masyarakat yang tidak menginginkan kehadirannya.

‘’Pernah suatu ketika, ada orang murtad yang ketika mendengar azan selalu mengeraskan volume radionya. Sehingga suara keras radio itu  menandingi suara azan. Tapi tiba-tiba saja, radionya masuk pasir dan tidak bisa lagi menandingi suara azan. Mungkin itu lah cara Allah menunjukkan kekuasaannya,’’ ujar Partito via WhatsApp kepada Padang Ekspres (Riau Pos Group, red), Rabu (20/9).  

Menurutnya, berdakwah di Mentawai tidak semudah membalikan telapak tangan. Ia harus berpandai-pandai, karena masyarakat di pulau itu sangat sensitif. Partito harus mempelajari karakteristik masyarakat. Bapak satu anak ini tidak pernah menyentuh adat istiadat, sebelum mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
JADI TUAN RUMAH DJARUM SIRNAS LI-NING RIAU OPEN 2018
PBSI Riau Bahas Teknis Persiapan sebagai Panitia Lokal
Kamis, 22 Februari 2018 - 17:06 wib
BEKERJA SAMA DENGAN DISPORA RIAU, PLN DAN PT ARARA ABADI
Sabtu, PWI Riau Tanam Pohon di Stadion Utama
Kamis, 22 Februari 2018 - 16:56 wib

Syamsuar Akan Angkat Ekonomi Riau yang sedang Terpuruk
Kamis, 22 Februari 2018 - 16:14 wib
DAMPAK LETUSAN GUNUNG SINABUNG
Pasokan Sayur ke Medan Terancam
Kamis, 22 Februari 2018 - 15:43 wib
NIKITA MIRZANI
Ingin Cepat-cepat Nikah
Kamis, 22 Februari 2018 - 15:17 wib

PSMS Medan Dapat Hadiah Rp550 Juta dari Piala Presiden
Kamis, 22 Februari 2018 - 13:57 wib

Proyek Zona I Lelang Ulang
Kamis, 22 Februari 2018 - 13:26 wib
Cari Berita
Sumatera Terbaru
Sedihnya... Seorang Bayi Dua Tahun Meninggal karena Kepala Terbenam di Ember
Di Tanjungpinang Pengurusan SIM sudah Bisa Dilayani Online
Pasokan Sayur ke Medan Terancam

Kamis, 22 Februari 2018 - 15:43 WIB

Letusan Sinabung Tak Berdampak ke Riau

Rabu, 21 Februari 2018 - 11:57 WIB

Sijunjung Dilanda Badai

Rabu, 21 Februari 2018 - 11:24 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us