Wonderful Indonesia
PERISA YUSMAR YUSUF
Drama Herois?
Minggu, 10 September 2017 - 00:45 WIB > Dibaca 3033 kali Print | Komentar
Drama Herois?

Menjadi dekat, bisa diawali dari sebuah kisah ‘mencincang’, mencencang, memutus, atau menyergah. Bila ihwal ini terjadi? Dia selalu disangkutkan dengan peristiwa herois yang berkadar spiritualitas.  Ya, sebuah drama heoris yang berdimensi spiritual. Begitulah awal kisah kurban atau qurban yang dimaksudkan untuk menakar kedekatan sang hamba dengan Sang Pencipta.

Kedekatan ini, diikat dengan sebuah perjanjian tahunan, melalui kesediaan menyerahkan kurban, agar menjadi lebih dekat, amat karib dan begitu akrab, yang berasal dari kata qurban, qurb, atau kurban itu sendiri. Drama herois pertama yang berdimensi spiritual itu tentulah kisah permulaan zaman memasuki generasi pertama bani Adam (suguhan kurban yang disediakan oleh Habil dan Qabil). Keikhlasan Habil sang adik, ditandai oleh sejumlah capaian panen tetumbuhan dan tanaman yang segar, lalu dipersembahkan kepada Tuhan. Di sini, peristiwa qurban ditandai oleh mahkota akhlak yang bernama keujujuran atau keikhlasan. Memberi sesuatu yang terbaik, bukan yang telah usang, busuk dan tak terpakai. Dimensi spiritualitas itu mendorong seseorang untuk berlaku jujur dan ikhlas dalam berlaku-tindak. Sebab, tanpa jujur dan ikhlas, maka pemberian itu akan menyisakan jiwa yang busuk, hati nan berkapang. Memberi yang ikhlas itu ditandai oleh satu kemampuan untuk menyerahkan sesuatu yang tersayang atau sesuatu yang amat bernilai secara khazanah, sepanjang hari dan sepanjang waktu (sweet heart).

Ketidakikhlasan dalam peristiwa memberi, akan bermuara pada kesumat, jiwa nan membusuk. Dan Qabil tengah diserang oleh penyakit hati nan membusuk itu, sebusuk “persembahan” yang diserahkan kepada Tuhan, karena ingin menunai sebuah tugas “perjanjian” (yang sebenarnya adalah sebuah “perintah”) itu. Persembahan yang ditolak oleh Tuhan, membangun sebuah kesadaran tentang pertahanan diri dan identitas; “bahwa aku lebih senior, lebih tua, lebih dulu menghirup udara dunia, lebih dulu memandang luasnya dunia, berbanding si adik Habil”. Ego ini bersemai di atas media tanah “hati” nan membusuk, yang rapuh dan tak muai. Ego ini sejatinya mengurus dan kering, kerontang, namun memaksa hidup dalam lonjakan menungkai tak bergizi. Maka, menjadilah dia tegakan kayu kering tak meneduhkan bagi kehidupan sekitar, menjadilah dia bak tegakan pohon yang angkuh, tak berinteraksi dengan tetumbuhan nan merimbun di sebelahnya.

Dia berawal dari media tanah “hati” nan busuk, sehingga yang tumbuh dan membesar adalah dendam, kesumat dan pembalasan yang hanya menunggu waktu dan kesempatan yang dianggap tepat dan pas. Begitulah Qabil menjalani hari-hari kelam dalam nada falsetto; siang malam, saban detik, yang terngiang-ngiang dalam ingatan dan detak hatinya bagaimana menakluk dan menghapus kehadiran sang adik yang jujur itu dari muka bumi. Inilah sejarah semburat darah anak manusia untuk pertama kali dan memenuhi unsur “sejarah tragedi{ dan “tragedi sejarah”  dalam sentakan menyesak di awal-awal kisah kejadian manusia. Pembuhunan ini berkaitan dengan “isu kedekatan” dengan Tuhan. Sebuah kaidah spiritual yang tertempel dalam satu peristiwa takluk-menakluk dan demi  menghilangkan “kehadiran” (fisikal) sang adik yang ikhlas dalam berkurban.
 Ihwal pengurbanan yang didesain oleh Tuhan pada etape kedua, ditandai oleh serangkaian doa nan panjang. Sepanjang 86 tahun, doa itu dipanjatkan. Doa itu menjadi pembingkai sebuah perkawinan seorang lelaki agung dengan seorang perempuan hitam yang diperisterikan berdasarkan syarat-sayarat yang diajukan dan ditetapkan oleh isteri pertama (gahara) bernama Sarah@Sarai. Perempuan hitam itu bernama Hajar.

Sejalan dengan namanya ini; kata Hajar itu sendiri, memang seakar kata dengan katav Hijr (hitam); dan sesiapa yang melaksanakan ibadah “hajj” (haji), sejatinya dia tengah melaksanakan tindak-tanduk dan meneladani perilaku Hajar. Dan dari kata Hajar ini pula dibentuk derivasi sebuah tindakan berpindah (perpindahan) heroik yang menjadi penanda zaman bernama “hijrah” dengan sangkutan historisnya tahun “hijriyah @ Hageriya”. Panjatan doa itu berlangsung selama 86 tahun, lalu dikabulkan dengan kelahiran Ismail yang sekaligus memanggul “Hak Kesulungan” (walau lahir dari isteri kedua), bukan lahir dari Sarah. Beberapa tahun kemudian, Ishaq sang adik lahir dari rahim Sarah. “Hak Kesulungan” bani pun dipegang oleh Ismail.

Ismail adalah sosok yang dipanjat dalam gayutan doa sepanjang 86 tahun. Kala menua, lelaki agung bernama Ibrahim itu memperoleh sesuatu khazanah yang teramat superlatif nilainya. Dia bukanlah khazanah tersembunyi. Melainkan sebuah khazanah yang maujud secara fisik, demi meneruskan ajaran tauhid (monoteisme) sekaligus memberi efek vibrant (getar) kepada bani yang baru dan berkecambah terlalu muai dan membesar hingga saat ini, bahkan lebih dari 100 kali lipat dari bani Ishaq, yang kecil jumlahnya. Ismail lah yang menjadi tajuk utama bani Arab yang hari ini telah mencapai jumlah 200 juta lebih, berbanding Yahudi (Ishaq) yang hanya se-per sekian dari jumlah itu.  Di punggung Ismail lah ditabur permata aqidah tentang monoteisme itu terjamin berlangsung ke zaman yang jauh hingga ditampung di dada sang Murshalin (Muhammad Suci). Dan Ismail pun dididik  sang bunda, dalam versi seorang ibu yang lembut, namun bisa mematahkan sesuatu yang keras dan membeku.  Kadar seorang lelaki muda yang tumbuh dan mekar di padang pasir nan keras. Dia harus menakluk kuda, lalu menjadikan kuda sebagai hewan piaraan dan jinak, agar bisa ditunggang. Lelaki yang menanjak remaja inilah yang menjadi sasaran kisah “memberi” agar tali kedekatan (qurb) itu kian kencang antara Ibrahim dengan Tuhan.

Tak saja Ibrahim yang ikhlas. Ismail muda lebih ikhlas dengan “perjanjian” atau yang  sesungguhnya itu adalah sebuah“perintah”. Kedua sosok ayah dan anak ini mengulangi keikhlasan dan kesabaran yang dinukil oleh Habil di awal-awal sejarah bani Adam. Untuk memperoleh hubungan yang dekat dengan Sang Kekasih, tiada jalan lain yang harus ditempuh, selain jalan ikhlas dan jujur, sabar dan tawakkal. Inilah prinsip dasar etik monoteisme tanpa basa basi.  Ajaran monoteisme yang dijinjit oleh Muhammad suci, tak terputus dengan pangkal mata air perdana spiritualitas dan keikhlasan yang ditabur benihnya oleh Ibrahim sang bapak monoteisme itu. Kita dengan bangga menerima warisan ibadah Ibrahim itu; menunai haji, ber-qurban dalam bulan yang sama. Berlari dan bergerak dalam ruang medan yang telah dirintis dan ditetapkan oleh Ibrahim sebagai tanah haram. Dan kita pun menjadi dekat dan akrab dengan Sang Khalik...***

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
POLITIK
Kewajiban Konstitusional DPD RI Belum Optimal
Sabtu, 18 November 2017 - 13:28 wib

TNI-Polri Bebaskan 344 Warga Terisolasi
Sabtu, 18 November 2017 - 12:57 wib
Babak 8 Besar Liga 2 2017
Masih Bingung Hitung Kerugian
Sabtu, 18 November 2017 - 11:55 wib
Egy Maulana Vikri
Klub Malaysia Getol Buru Tanda Tangan Egy
Sabtu, 18 November 2017 - 11:53 wib
China Open Super Series Premier (SSP) 2017
Dua Ganda Putra Melesat ke 8 Besar
Sabtu, 18 November 2017 - 11:45 wib

Usai Dipindah, KPK Tahan Setnov
Sabtu, 18 November 2017 - 11:45 wib
Menjemput Beruang Madu di Pelosok Kampar
Dari Sehat, Tiba-tiba Sakit, Lalu Mati
Sabtu, 18 November 2017 - 11:39 wib

Hukuman RZ Dipangkas 4 Tahun
Sabtu, 18 November 2017 - 11:38 wib

Lanjutkan Sukses SEA Games di Prancis Open
Sabtu, 18 November 2017 - 11:33 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Kenalkan Tradisi Menggelek Tobu

Jumat, 17 November 2017 - 09:13 WIB

Mandi Safar, Rupat Dipadati Pengunjung

Rabu, 15 November 2017 - 08:59 WIB

Mengenang Sang Burung Waktu

Minggu, 12 November 2017 - 11:14 WIB

Tragis Rupa

Minggu, 12 November 2017 - 10:48 WIB

STAIN Bengkalis Gelar Aksi Peduli Desa

Rabu, 08 November 2017 - 08:58 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us