Wonderful Indonesia
Kisah Anak-anak dan Masyarakat Pungkat, Indragiri Hilir
Bagai Bernaung di Pohon Mati
Senin, 28 Agustus 2017 - 10:01 WIB > Dibaca 3267 kali Print | Komentar
Bagai Bernaung di Pohon Mati
MEMBUAT KAPAL: Membuat kapal menjadi mata pencarian utama masyarakat Desa Pungkat, Kecamatan Gaung, Indragiri Hilir. Namun saat ini kondisi hutan semakin kritis membuat pembuatan kapal mereka juga terancam.
Berita Terkait





Puluhan anak-anak di Desa Pungkat, Kecamatan Gaung, Indragiri Hilir (Inhil) terpaksa mengisi hari-harinya dengan berbagai aktivitas bekerja. Belajar di kelas yang seharusnya menjadi kewajiban mereka  harus dilupakan.  Tidak hanya anak-anak jenjang pendidikan SD yang putus sekolah, anak-anak jenjang pendidikan SMP sederajat dan SMA sederajat juga mengalami hal yang sama. Banyak faktor, sehingga orangtua  tidak sanggup membiayai sekolah anak-anaknya. Sekarang, kehidupan anak-anak dan masyarakat di desa itu bagai bernaung di pohon yang sudah mati.

PUNGKAT (RIAUPOS.CO) - Hari itu tanggal 17 Agustus 2017. Dalam catatan, hari itu sudah 72 tahun bangsa ini merdeka dan seharusnya pula, pada hari itu banyak orang, khsususnya anak-anak bersuka cita menyambutnya, sebab tak jarang peringatan hari kemerdekaan itu disambut dengan sangat meriah dengan menggelar beragam perlombaan yang mengasyikkan. Walaupun hadiah yang disediakan tidaklah begitu besar, namun bagi  anak-anak, hadiah itu  sangat-sangat istimewa.

Namun, kebahagian itu tidak berlaku bagi  Gebi Kumala Sari (14) dan beberapa orang anak-anak lainnya yang berada di Desa Pungkat, Kecamatan Gaung, Inhil.  Ketika sebagian anak-anak mengikuti upacara bendera detik-detik proklamasi dan diikuti dengan beragam perlombaan,  Gebi justru hanya mengenakan kaos lusuh dan hanya duduk-duduk  di depan rumah.

Pagi itu, Gebi memang tidak berangkat kesekolah, karena sejak lulus SD beberapa bulan lalu,  anak ketiga dari lima bersaudara itu tidak lagi melanjutkan pendidikan ketingkat SMP karena keterbatasan biaya. “Tahun ini tak ikut upacara 17 Agustus lagi, mau lihat upacara dan perlombaan pun malu karena tak sekolah lagi.Sebenarnya masih mau sekolah, tapi biayanya tak mencukupi,” ujar Gebi lirih.

Tidak ingin larut dalam kesedihan karena tidak mengikuti upacara 17 Agustus, yang juga bertepatan dengan  hari ulang tahunnya ke 14, gadis kelahiran Desa Pungkat,  17 Agustus 2003 tersebut, pagi itu memilih untuk bekerja menjadi buruh pengupas pinang.

Jika panen pinang warga sedang melimpah, dalam sehari Gebi bisa mengupas pinang hingga 15 Kg per hari. Dimana upah mengupas satu kilo pinang dihargai Rp2000. Namun pekerjaan tersebut tidak setiap hari dikerjakan, tergantug hasil panen warga.

“Kadang sekali mengupas pinang dapat Rp30 ribu, kalau lagi sedikit cuma dapat Rp10 ribu.Uangnya untuk bantu ibu beli keperluan dapur, kasihan ibu kadang cuma bisa beli beras saja tidak bisa beli bumbu karena uangnya cuma sedikit, sedangkan ayah tak ada lagi,” katanya.

Meskipun tidak bisa lagi menempuh pendidikan secara formal, namun semangat belajar Gebi tak pernah luntur. Buku-buku milik abangnya yang lebih beruntung karena bisa menamatkan SMP menjadi buku bacaannya ketika sedang tidak ada pekerjaan.

“Kalau tidak tahu tanya abang apa pelajarannya itu, yang penting bisa tetap belajar meskipun tidak sekolah lagi,” ceritanya.

Orangtua Gebi, Nurhayati kepada Riau Pos menuturkan, dahulu suaminya bekerja mencari kayu untuk bahan pembuatan kapal di hutan sekitar Desa Pungkat, namun setelah hutan desa tidak ada lagi sejak dikelola oleh pihak perusahaan, suaminya terpaksa mencari pekerjaan lain ke luar desa untuk tetap bisa menghidupi keluarga.

“Tapi sudah beberapa tahun ini, suami saya tidak ada kabar lagi. Saya tidak tahu dimana keberadaanya. Sekarang saya sendiri yang bekerja menafkahi keluarga, untuk makan sehari-hari saja sudah susah bagaimana mau menyekolahkan anak,” ujarnya.

Bernasib sama namun lebih beruntung dari Gebi, karena bisa menamatkan sekolah hingga tingkat SMA. Ria Amelia (19) yang baru saja tamat SMA beberapa bulan lalu harus kembali kekampung halaman setelah menyelesaikan pendidikan dipusat Kecamatan Gaung tepatnya didesa Kuala Pahang.

Masalah biaya juga menjadi kendala Ria tidak lagi bisa melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi. Ayahnya yang seorang pembuat kapal dan pencari kayu di hutan  tak lagi mempunyai uang lebih untuk membiayai Ria kuliah. Apalagi sejak bahan baku kayu semakin sulit didapat.

”Sejak ayah jarang kerja kapal karena kayu tak ada lagi dan sering sakit, uang kiriman orangtua mulai tersendat. Kadang sampai telat-telat bayar uang sekolah, jadi sering harus berhemat untuk keperluan biaya sehari-hari dan membayar uang sekolah,” ujar gadis yang bercita-cita menjadi arsitek tersebut.

Meskipun dengan kondisi keterbatasan ekonomi, Ria mengaku terus menyemangati diri untuk  bisa menyelesaikan sekolah. Apalagi jarak antara rumah dengan sekolah yang cukup jauh, membuat Ria harus menetap di daerah lain karena tidak ada sekolah setingkat SMA di Pungkat. Untuk menuju Kuala Pahang, harus ditempuh dengan menaiki kapal dengan waktu tempuh lebih kurang 45 menit.
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
TERKAIT TUDINGAN SUDAH MENIKAH
Ayu Ting Ting Kaget Periasnya Disomasi Via Vallen
Senin, 11 Desember 2017 - 20:00 wib
SETNOV REKOMENDASIKAN AZIZ
Soal Pergantian Ketua DPR, Presiden Tak Mau Ikut Campur
Senin, 11 Desember 2017 - 19:50 wib
PUNCAK PERINGATAN HAKI
Kasus Korupsi Jerat 313 Kepala Daerah dalam 13 Tahun Terakhir
Senin, 11 Desember 2017 - 19:40 wib
TERKAIT TARGET PEMERINTAH
Meski Sering Dikritik, Menko Darmin Sebut Ekonomi Indonesia Baik, Alasannya
Senin, 11 Desember 2017 - 19:30 wib
LAKUKAN PREVENTIVE STRIKE
Jelang Natal dan Tahun Baru, Polri Belum Dengar Informasi Adanya Teror
Senin, 11 Desember 2017 - 19:20 wib
TERKAIT ADANYA PRODUK KEDALUWARSA
YLKI Imbau Konsumen Waspadai Diskon dan Cuci Gudang Akhir Tahun
Senin, 11 Desember 2017 - 19:10 wib
TERKAIT PERGANTIAN KETUA DPR
Bamus Skorsing Rapat, Nasib Aziz Syamsuddin Masih Belum Jelas
Senin, 11 Desember 2017 - 19:00 wib
SUDAH KETAHUI OKNUM YANG BERMAIN
Suka Mainkan Harga Jelang Tahun Baru, Ini Ancaman Polri untuk Mafia Pangan
Senin, 11 Desember 2017 - 18:50 wib
TUNJUK AZIZ JADI KETUA DPR
Strategi saat Terjerat "Papa Minta Saham" Kembali Dilakukan Setnov
Senin, 11 Desember 2017 - 18:40 wib
TERANCAM GUGUR
Ahli Hukum Sebut Hak Setnov di Sidang Praperadilan Terganggu karena KPK
Senin, 11 Desember 2017 - 18:30 wib
Cari Berita
Liputan Khusus Terbaru
Harus Dimulai dari Sekarang

Minggu, 01 Oktober 2017 - 13:54 WIB

Organik Masa Depan Dunia Pertanian

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:49 WIB

Baja Sahabat Alam

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:40 WIB

Terganjal karena Kepentingan?

Minggu, 24 September 2017 - 11:22 WIB

 Tidak Ada Intimidasi

Minggu, 24 September 2017 - 11:18 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us