Wonderful Indonesia
KOLOM: TAUFIK IKRAM JAMIL
Integritas tak Sepintas
Minggu, 13 Agustus 2017 - 17:27 WIB > Dibaca 1563 kali Print | Komentar
Integritas tak Sepintas
Berita Terkait



TAK perlu mencari alasan, mengapa tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya, kawan saya Abdul Wahab yang tinggal di kawasan Selat Melaka sana, mengucapkan tahniah hari jadi Provinsi Riau melalui pesan pendek telepon genggam yang dikirimkannya kepada saya. Jika pun hal serupa dilakukannya kepada Anda, selagi Anda ada hubungannya dengan Riau, saya pikir bukanlah suatu persoalan. Satu hal yang pasti, pada akhir kalimatnya, Wahab tak lupa menuliskan doa yang sekarang ini tertera, “Semoga berintegritas.”

Tentu, akhir kalimat dari pesan pendeknya tersebut berkaitan dengan tema hari jadi Riau ke-60 yang jatuh pada hari Rabu lalu, 9 Agustus 2017, sebagaimana ditetapkan oleh teraju daerah ini. Suatu tema yang lengkapnya tak begitu mudah dipahami, “Menghulu budaya Melayu, Menghilir Riau Berintegritas.” Pada logo, rangkaian angka 60 yang memersonafikasikan gambus dan dua tangan saling genggam, tertuliskan satu kata “Berintegritas”. Ya, Riau berintegritas.

Barangkali, tema tersebut menyiratkan bagaimana suatu kekayaan dalam berbagai dimensi diupayakan, kemudian dikumpulkan, memuat segala tindakan pemartaban manusia, yang dinamakan kebudayaan Melayu. Keberadaannya itu memerlukan pengkajian dan penafsiran untuk bersama-sama unsur lainnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini memerlukan ruang dan waktu yang posisi dan wujudnya disadari bersama-sama oleh pendukung alias penduduk Riau.

 “Demikianlah adanya dan berintegritas menjadi suatu keinginan sekaligus taruhan untuk Riau hari ini mapun masa mendatang,” tulis Wahab. Ia menambahkan bahwa integitas itu sendiri merupakan suatu rancangan secara berkesinambungan dalam nilai-nilai, prinsip-perinsip, metode, takaran, tindakan-tindakan , kemampuan-kemampuan, dan hal-hal yang dihasilkan. Berintegritas memperlihatkan kejujuran dan kepemilikan karakter yang kuat.

Dalam pengertian kamus, integritas diarahkan pada pengertian mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. “Berbagai elemen berpadu yang tidak bisa dilakukan berdasarkan ingatan semata , bahkan kadang-kadang, malah menyeluruh. Istikomah dalam tindakan-tindakan untuk menuju sesuatu yang lebih baik,” tulis Wahab lagi.

Saya tak ikut campur kalau kemudian ia menulis bahwa penekanan kata integritas pada hari jadi Riau ke-60 itu, memang sudah tepat untuk tidak mengatakannya terlambat. Apalagi dipandang dari segi konsistensi atau kesinambungan yang disyaratkan oleh wujudnya integritas itu sendiri. Begitu juga penyatuan berbagai elemen untuk mewujudkan Riau sebagaimana diamanahkan oleh peraturan daerah No.36 tahun 2001 atau populer disebut visi Riau 2020.

Apakah berintegritas namanya, jika disebut bahwa sampai saat ini, Riau masih belum penerapkan kurikulum muatan lokal yang mendukung visi Riau 2020 di lembaga pendidikan formalnya? Anehnya, kurikulum itu sudah dibuat tahun 2010, tetapi sampai sekarang belum banyak disentuh. Sedangkan kurikulum nasional dah bergonta-ganti yang dalam kurikulum 2013, dapat mengenyampingkan muatan lokal.

Pada tahun-tahun akhir tenggat pencapaian visi Riau 2020, soal pendidikan itu dapat digesa. Tapi usah bertanya soal capaiannya dalam suatu tataran karakter, mempersiapkan guru dan perangkat lainnya memerlukan waktu, sehingga mustahil dapat diterapkan tahun depan secara memadai. Belum lagi mengungkit-ungkit yang lain, termasuk kelembagaan yang tunas untuk mengurus kebudayaan yang baru dimunculkan tahun ini setelah 16 tahun visi Riau 2020 diketengahkan.

Begitu pula berkaitan dengan elemen pendukung visi Riau 2020 itu. Sepatutnya, semua instansi mengarahkan  aktivitasnya dengan latar belakang visi yakni Melayu. “Namun jangankan untuk itu, untuk menyatakan diri Riau sendiri, sebagai cogan kehidupannya, daerah ini seperti tak mampu, harus menggunakan bahasa asing,  the homeland of Melayu,” tulis Wahab.

Tidak pula berburuk sangka jika Wahab kemudian menulis, jangan-jangan Riau berintegritas hanya muncul sekarang untuk kemudian segera dilupakan. Tahun depan, mungkin lain lagi temanya, sementera tema integritas ini masih memerlukan pengujian. Ya, karena juga menyangkut konsistensi, kesinambungan, istikomah, integritas memang bukan sesuatu yang sepintas. Integritas tak sepintas.***



Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
Via Vallen
Lagu Sayang Mirip Lagu Jepang
Selasa, 17 Oktober 2017 - 11:05 wib
Ruben Onsu
Kembali Tuai Pujian
Selasa, 17 Oktober 2017 - 11:03 wib

Samsat Tambah Jam Operasional
Selasa, 17 Oktober 2017 - 11:03 wib

Pemko Gerah Pasar Kaget Marak
Selasa, 17 Oktober 2017 - 11:00 wib

Berjuang Jadi Janda
Selasa, 17 Oktober 2017 - 10:55 wib

Menjaga Jalur Hijau
Selasa, 17 Oktober 2017 - 10:48 wib

Ubah Sampah Jadi Gas
Selasa, 17 Oktober 2017 - 10:45 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Korban Banjir Terbantu dengan Perhatian Pemkab
Selasa, 17 Oktober 2017 - 10:44 wib

SKTM Digunakan untuk Memperoleh Bantuan
Selasa, 17 Oktober 2017 - 10:40 wib

IRT Dihipnotis Dua Pria
Selasa, 17 Oktober 2017 - 10:37 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Gubri Dijadwalkan Hadiri Haul 100 Tahun Ma’rifat Mardjani
Istri Pangkostrad Kagumi  Oleh-oleh Khas Riau

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:26 WIB

Ratusan Seniman Gelar Aksi untuk Rohingya

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:01 WIB

Kerajinan Khas Daerah Terus Dipopulerkan

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:50 WIB

Tanjak Semakin Digemari Masyarakat

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:35 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us