Wonderful Indonesia
PERISA YUSMAR YUSUF
Kueh dan Krisis
Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:07 WIB > Dibaca 1459 kali Print | Komentar

“Teman saya hanyalah tukang buah dan toko buku”. Itu kata S. Takdir Alisjahbana, empat dekade silam. Takdir selain dikenal sebagai tokoh pemikir progresif, filsuf modern Indonesia, sastrawan, namun punya kebiasaan berkebun dan menanam buah. Tak hanya buah-buahan yang ditanam, akan tetapi juga tumbuhan seperti bambu. Dia punya seorang kenalan berkebangsaan Jepang. Dan si Jepang ini membawa kaidah cara menanam bambu (buluh); “tanamilah buluh dengan cara menghunjam dalam-dalam batang bambu itu ke dalam tanah, agar menghasilkan rebung yang terbaik”.

Selanjutnya, ada satu kesan mendalam ketika “berdialog” dengan pemikiran Takdir; jika dikaitkan dengan toko buku, bahwa buku bagi sosok ini,  bukanlah sebuah kaidah yang perlu dibincang dan dipertengkarkan lagi. Sebab, seorang intelektual besar sekelas Takdir, buku atau teks adalah sarapan dan mainannya hingga memucuk malam. Namun, ketika disangkutkan dengan buah-buahan dan tanaman, maka Takdir menjadi ‘sensual’ untuk dibicarakan. Sebab, dia bukanlah seorang petani sebagaimana diperkatakan secara awam.

Teman sejati seorang Takdir adalah tukang buah. Kenapa? Karena buah-buah yang dipetik dari pohon, sejatinya adalah “kueh Tuhan”, ujar Takdir. Sementara, kueh buatan manusia tidak akan pernah selezat “kueh buatan Allah: bernama buah-buahan. Maka, menanam dan berkebunlah. Dengan berkebun, orang akan lebih dekat dengan “katahati” (atau conciousness). Jika seseorang sudah menyatu dengan katahati sendiri, maka dia adalah sosok makhluk yang akan bertolak (untuk sebuah perantauan panjang) dari kaidah-kaidah etis terdasar. Nilai etis itu adalah ‘katahati’ pertama. Misalnya; ketika seseorang yang menghampiri rumah kita, dan di sela-sela liang pintu kita dapat mengintip, bahwa yang datang adalah seorang miskin yang memerlukan bantuan; maka berdetak hati kita menyebut (“ku bantu 50 ribu rupiah lah”). Seketika akan mengambil uang di kamar, niat pertama ini beralih, “ah... tak perlu 50 ribu. Cukup 25 ribu saja”. Terjadi tarik menarik (dalam “katahati”). Maka, niat pertama itulah yang benar-benar keluar dari sumber mata air kata hati (50 ribu). Sedangkan hasil renungan sampai terkuras menjadi 25 ribu, itu bukan lagi murni katahati. Dia sudah melalui sejumlah pertimbangan demi pertimbangan. Jika terjadi demikian, maka ikhlaskan saja anda bersedah dengan nominal 50 ribu rupiah itu. Sebab, angka itulah yang terucap (dalam hati) pertama kali ketika anda membaca mimik wajah sang fakir yang menghampiri rumah.

Lalu? Dengan berkebun dan bertanamlah, bagi para salik di jalan tasawuf,  dijadikan sebagai instrumen mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Para filsuf, para sufi amat dekat dengan peristiwa menanam dan berdialog dengan hal-ihwal vegetasi (tanaman dan tumbuhan). Sebab, bagi mereka krisis kemanusiaan itu berawal dari krisis nilai yang ada di dalam diri (autonom); demikian pula krisis nilai yang dibentuk oleh faktor-faktor luar lingkungan (heteronom). Ajaran-ajaran nilai dan etik tinggi, sejak Socrates, Ramakrishna, Buddha berbincang tentang penindasan yang ditanggapi dengan damai. Termasuk tuntunan perilaku yang diperlihatkan Nelson Mandela di era modern ini: “Lebih elok menderita atas kekejaman dan ketidak-adilan, dari pada melakukan kekejaman dan ketidak-adilan sendiri ke atas makhluk lain”.

Bahwa sepanjang perjalan sejarah peradaban, krisis yang benar-benar dianggap sebagai sumbu krisis menurut Karl Jaspers adalah krisis yang beruntun terjadi pada sekitar adab kelima Sebelum Masehi. Runtutan krisis ini oleh Jaspers disebut sebagai Achsenzeit (sumbu sejarah manusia). Maka, ketika krisis demi krisis terjadi berulang-ulang, maka sebuah kebudayaan bagi Sorokin, tiada jalan lain; periksalah kreativitas kebudayaan itu secara seksama. Sebab, untuk dapat mempertahankan kreativitas kebudayaan, haruslah dengan cara mengubah dasarnya (nilai-nilai); ketika dasar-dasar lama telah habis kemungkinan-kemungkinannya. Nah, dalam zaman modern ini, kebudayaan sensate (inderawi) yang mengalami synergitas dengan kebudayaan ideasional (idealistik), adalah sebuah paham progresif, namun harus dilakukan lewat pembaharuan demi pembaharuan. Termasuk pula, agama yang  menjadi sumber krisis masa kini, maka dia (agama) bisa dibantu oleh ilmu untuk merumuskannya kembali. Agama yang baik dan bermanfaat untuk umat manusia adalah agama yang dipeluk dan digendong oleh orang-orang berilmu.

Bagi Arnold Toynbee, krisis dewasa ini adalah krisis nilai, terutama nilai etik. Dan bersamaan dengan itu “kita sering mendengar semboyan-semboyan supaya kembali kepada agama, karena memang agamalah yang sampai sekarang merupakan sumber etik yang terbesar” (menurut catatan Tadir pula). “Tetapi soal yang kita hadapi berhubung dengan agama adalah sedemikian, sehingga tanpa berlebih-lebihan dapat dikatakan bahwa krisis agaman itu sendiri yang menjadi inti krisis masa kini”, ujar Takdir lagi. Maka, setiap krisis akan melahirkan konflik demi konflik. Baik vertikal, apatah lagi horizontal. Namun, semua konflik itu sendiri bersumber dari diri sendiri; yang dalam kaidah Immanuel Kant disebut sebagai konflik “katahati”. Kant yang dikenal sebagai filsuf yang saleh dengan sauh iman yang kukuh dalam agamanya, mampu melukiskan secara elok tentang konflik yang menghasilkan krisis kemanusiaan yang bersumber dari “katahati” itu. Konflik   dijelaskannya dalam upaya dia ingin menjelaskan fungsi dari “katahati” itu sendiri: “Katahati adalah kesadaran individu akan adanya suatu mahkamah dalam dirinya, yang di dalamnya fikirannya tuduh-menuduh. Dalam konflik katahati individu itu serempak sebagai penuntut, pesakit, dan hakim sekaligus”.

Kembali ke kisah “kueh Tuhan” sebagai jalur langit tentang kebijakan menjalani kaidah-kaidah bumi. Namun, manusia diberi ruang untuk melakukan perbaikan dan pemeriksanaan (secara bengkel kebudayaan dan workshop peradaban) tentang nilai etik yang mungkin tak sejalan dengan kaidah dan langgam kekinian. Cahaya pemikiran yang mengikut alur zaman dengan kaidah-kaidah progresif merupakan suatu narasi yang berjalin-jalin, salin mengkit dan menjahit sejalan dengan konteks dan teks, seajalan dengan semangat “ke-kini-an” (tempo present) dan “ke-di-sini-an” (bahan-bahan lokal, termasuk nilai dan segala perkakas ideasional kebudayaan yang berpembawan serba lokalitas). Melalui kecerdasan temporal dan spatial pula, manusia mampu menjawab segala krisis yang berlangsung secara berulang-ulang dalam langgam dan ragamnya. Bergegaslah, memuliakan “kueh Tuhan” dan berseggas pula membentang pemikran-pemikiran progresif yang membumi.***


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DUKUNGAN UNTUK EKOSISTEM DIGITAL YANG POSITIF
Family Protect, Layanan Internet Aman dari Telkomsel
Selasa, 16 Oktober 2017 - 17:45 wib

Menghadirkan Busana Muslimah Berfashion
Selasa, 16 Oktober 2017 - 15:48 wib
PEKANBARU CLEAN
Desain Indah, Agar Warga Cintai Lingkungan
Selasa, 16 Oktober 2017 - 15:32 wib

Mesin Sensor Internet Rp194 M
Selasa, 16 Oktober 2017 - 13:30 wib

Dinilai Tidak Akan Efektif
Selasa, 16 Oktober 2017 - 13:07 wib

Urban View + Yoga = Positive Vibes
Selasa, 16 Oktober 2017 - 12:30 wib
Kabupaten Rokan Hilir
Bupati Apresiasi Peran Mahasiswa
Selasa, 16 Oktober 2017 - 12:21 wib

Benturan Keras, Kiper Persela Meninggal
Selasa, 16 Oktober 2017 - 12:12 wib
Pekanbaru, riau
MAN 2 Pekanbaru Juara Olimpiade Science
Selasa, 16 Oktober 2017 - 12:10 wib
Pekanbaru, riau
BEI Riau Ajak Menabung Saham
Selasa, 16 Oktober 2017 - 12:08 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Gubri Dijadwalkan Hadiri Haul 100 Tahun Ma’rifat Mardjani
Istri Pangkostrad Kagumi  Oleh-oleh Khas Riau

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:26 WIB

Ratusan Seniman Gelar Aksi untuk Rohingya

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:01 WIB

Kerajinan Khas Daerah Terus Dipopulerkan

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:50 WIB

Tanjak Semakin Digemari Masyarakat

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:35 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini