Wonderful Indonesia
RAZIA DI 10 KOTA
Dijual Bebas, Ratusan Ribu Pil Penenang Diamankan BPOM
Jumat, 11 Agustus 2017 - 16:38 WIB > Dibaca 1128 kali Print | Komentar
Dijual Bebas, Ratusan Ribu Pil Penenang Diamankan BPOM
Polisi menunjukkan penjual obat terlarang bersama barang bukti puluhan ribu obat daftar G. (HASBULLAH/INDOPOS/JAWAPOS.COM)
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Operasi pemberantasan peredaran obat penenang dan obat keras yang dijual bebas di toko dilakukan BPOM. Padahal, penjualan obat itu sudah diatur ketat dan bahkan sudah tidak ada lagi izin edarnya.

Dari 10 kota yang dirazia, ditemukan 13 jenis obat yang tidak boleh asal dijual. Menurut Kepala BPOM Penny K. Lukito, kota yang menjadi sasaran razia itu, antara lain, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Mataram, Denpasar, Makassar, Serang, dan Palangka Raya.

Adapu sasarannya ialah obat-obat keras yang dijual di toko obat, toko kosmetik, dan toko kelontong. Hasilnya, ditemukan 13 jenis obat dengan total 925.919 pieces senilai Rp3,1 miliar yang diduga melanggar ketentuan. Obat ilegal yang sering disalahgunakan, antara lain, Hexymer, Dextromethorphan, Tramadol, Stronginal, Charnophen, Trihexyphenidyl, dan Somadril Compositum.

Diketahui, kini obat-obat itu semakin populer dan digemari karena berfungsi hampir sama dengan narkotika sebagai penenang saraf serta mudah didapat. Harganya pun relatif lebih murah.

"Di Kalimantan Selatan, misalnya, penyalahgunaan Charnophen atau yang dikenal dengan pil jin itu tertinggi. Sekitar 76 persen penggunaan narkoba lainnya seperti ganja atau ineks," tuturnya.

Ditambahkan Kepala Pusat Penyidikan Obat dan Makanan BPOM Hendri Siswadi, izin edar Charnophen sebenarnya sudah dicabut. Namun, obat penenang itu tetap beredar. Bahkan, harganya lebih tinggi. Dulu harganya hanya Rp6 ribu untuk 10 butir, sedangkan sekarang bisa Rp50 ribu di pasar gelap.

"Biasanya dicampurkan kopi," ucapnya.

Di samping itu, penggunaan obat keras yang dilarang juga beredar di Bima, Nusa Tenggara Barat. Bedanya, ditemukan banyak Tramadol. Dari hasil penyelidikan BPOM, cara membawa obat penenang tersebut tidak standar, yaitu dibawa dengan karung yang diletakkan di dalam mobil dan diseberangkan dengan kapal.

"Padahal, ada standar distribusi yang harus dipatuhi," tuntasnya. (jun/and/c19/oki)

Sumber: JPG
Editor: Boy Riza Utama
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
Lusa,  DLHK Kampanye Peduli Sampah di CFD

Lusa, DLHK Kampanye Peduli Sampah di CFD
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:48 wib
Belanja Lebih Hemat di Informa Wow Sale

Belanja Lebih Hemat di Informa Wow Sale
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:47 wib
Pengawasan Peredaran Barang Ilegal Terus Diperketat

Pengawasan Peredaran Barang Ilegal Terus Diperketat
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:46 wib
Pemkab Lelang Aset Kendaraan

Pemkab Lelang Aset Kendaraan
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:42 wib

P3E Sumatera Gelar Aksi Bersih DAS Siak
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:41 wib
Lampu Jalan Hilang Bukan Tanggung Jawab Dishub

Lampu Jalan Hilang Bukan Tanggung Jawab Dishub
Jumat, 23 Februari 2018 - 09:18 wib

Waspada! Jangan Tinggalkan Uang Dalam Mobil
Jumat, 23 Februari 2018 - 08:45 wib
DIGELAR DI ASIT
Suku Teater Mulai Pementasan Perdana "Dilanggar Todak"
Jumat, 23 Februari 2018 - 01:20 wib
DIBERIKAN ANDI NAROGONG
Mengejutkan! Kasus e-KTP, Novanto Ternyata Dapat Jatah USD 1,8 Juta
Jumat, 22 Februari 2018 - 21:00 wib
JADI POLEMIK
Soal Perppu MD3, Bamsoet Akui Sepakat dengan Jokowi, Ini Alasannya
Jumat, 22 Februari 2018 - 20:50 wib
Cari Berita
Kesehatan Terbaru
Berikan Tips Rambut Hitam

Selasa, 20 Februari 2018 - 10:41 WIB

Olahraga Dapat Membantu Mental Anak Atasi Trauma

Minggu, 18 Februari 2018 - 12:26 WIB

Penggunaan Obat yang Aman pada Lanjut Usia

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:30 WIB

DPR Sindir BPOM soal Temuan Albothyl Berbahaya

Jumat, 16 Februari 2018 - 20:30 WIB

Izin Edar Empat Jenis Obat Ini Dibekukan, Termasuk Albothyl
sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us