Wonderful Indonesia
CERPEN SULONG ADZAM SHUHUF
Hikayat Hutan Api
Minggu, 06 Agustus 2017 - 00:03 WIB > Dibaca 878 kali Print | Komentar
Hikayat Hutan Api
Alina pikir dia tidak akan pernah lagi bertemu dengan Syahreza. Dua belas tahun rentang waktu yang memisahkan mereka bukanlah masa yang singkat. Sebuah pertemuan yang tak diduga. Dalam penantian panjang di bandara SSQ II yang berselimut kabut asap. Alina akan pergi, dan Syahreza akan pulang.

Mereka bertemu di coffee shop lantai dua. Dua kali delay membuat Alina hilang semangat. Ia pun melangkah gontai sebagaimana ratusan penumpang lainnya; dan tiba-tiba saja matanya menangkap wajah lelaki itu, di sebuah sudut berjendela lebar. Tergagap sejenak, 13 detik Alina seperti koma, tak tahu apa yang harus dilakukannya; bahkan rasanya ia tak mampu memikirkan apa-apa. Reaksi primitifnya kemudian ia ingin berlagak seolah tidak tahu apa-apa dan ingin segera memutar badan keluar dari ruangan itu, menghindarkan diri dari kemungkinan yang tak pernah dibayangkannya. Tapi dia terlambat. Mata lelaki itu sudah menangkap tubuhnya.

Syahreza berdiri. Seperti menyentak tiba-tiba. Seperti paus biru yang muncul dari kedalaman laut yang dingin membeku, melambungkan tubuhnya yang begitu tambun melompati permukaan air. Sembari menyemburkan ribuan galon air yang terpancar dari lubang pernafasannya. Dan dingin memerciki wajah Alina.

Alina mungkin sempat pasi. Dan ia masih bergeming. Tetapi kali ini bukan karena koma, tetapi lebih karena sedang mempertimbangkan kemungkinan dari ribuan alternatif. Seperti juga lelaki itu, yang tampak berdiri gagu, seperti snapshot paus biru yang menggantung saat melambung. Namun, 33 detik kemudian mereka sudah duduk bersama di meja di pojok berjendela besar itu. Alina tidak ingat siapa yang memulainya. Ia hanya menyalahkan orang-orang yang berdesakan begitu luar biasa dalam kebingungan kekesalan dan keputusasaan sehingga tanpa disadari telah menyeretnya ke pojok itu; atau mungkin lelaki itu yang telah menyeretnya ke pojok itu. Entahlah.

Sekarang lelaki itu sudah membiarkan jenggotnya tumbuh bebas. Hanya kumisnya yang dicukur bersih. Dulu, seluruh wajahnya selalu tercukur bersih, dan itu membuatnya terlihat begitu cute. Alina suka memanggilnya My Baby. Tetapi itu hanya bertahan tiga tahun. Lalu menghilang dua belas tahun, dan sekarang mereka bertemu kembali. Apakah ini adalah kesempatan baginya untuk melampiaskan kemarahannya, lagi?

Sampai capuccino latte datang untuk Alina, percakapan mereka baru sebatas “Hai”; tanpa berjabatan tangan. Tebalnya kabut asap di luar, seolah ikut menghadirkan tabir pekat di antara mereka berdua. Meremukkan bunga-bunga, melemaskan hamparan rerumputan, dan bahkan membuat kota menjadi setting yang ideal untuk take adegan zombie-zombie yang sedang keluyuran. Seperti mereka berdua; zombie dari masa lalu mereka.

Syahreza sekarang mengenakan selempang, semacam kain yang biasa digunakan Yasser Arafat. Dulu selagi mereka bermarkas di kampus di Ibukota dan hobi demo sana demo sini, busana wajib lelaki itu adalah celana denim dengan kemeja dan jaket almamater. Alina terpesona pada lelaki beraroma Timur Tengah ini karena wajahnya yang imut dan selera humornya yang elegan di tengah kesehariannya yang sebenarnya kalem. Dan juga karena terlihat ia begitu pemberani. Jantan. Seperti kalem dan ganasnya Sungai Jantan yang membelah dua kota tempat kelahiran mereka.

Menjelang penghujung milenium itu, Alina membawa proposal demo.

“Reza, lo tau kan Sumatera lagi dikungkung kabut asap kebakaran hutan? Malahan sudah sampai ke Singapura dan Malaysia. Kota kita pun sudah tenggelam dalam halimun yang menyesakkan. Tapi nyaris nggak ada yang dilakukan oleh pemerintah kita. Gimana kalo kita bikin demo ke istana, My Baby?”

Tentu saja Reza tahu; dia toh juga berasal dari sana. Proposal itu pun akhirnya berhasil menelorkan tiga kegiatan dari mahasiswa kampus mereka dan beberapa jaringannya: demo besar di depan istana, memungut sumbangan di jalan-jalan raya, dan menurunkan puluhan sukarelawan ke beberapa kota di Sumatera. Demo berlangsung dua hari. Yang pertama berlangsung damai, yang kedua dengan jumlah peserta berlipat-lipat berakhir ricuh dan bubar dengan ayunan pentungan dan kejar-kejaran antara pasukan pengamanan dan demonstran. Itu biasanya adegan yang menyenangkan, tetapi kadang-kadang juga mengerikan. Seperti kali itu. Alina sempat melihat Syahreza melakukan perlawanan secara fisik, menjungkalkan dua polisi, dan itu entah kenapa membuatnya makin cinta. Alina sendiri sempat berdarah lututnya dalam kerusuhan itu.

Akibat kejadian itu, Syahreza dan beberapa temannya yang dicap sebagai provokator dalam demonstrasi yang dianggap anarkis itu sempat ditahan seminggu. Tetapi mereka tak peduli. Seminggu berikutnya mereka sudah berjalan lewat darat menuju Sumatera, bergumul dalam kabut, membawa beberapa perlengkapan untuk pencegahan dan pengobatan. Ketika itu Alina hanya menyeru sambil menggelendot lembut, “My Baby ....”

“Tak ada yang lebih bajingan daripada mereka-mereka itu, bahkan tidak para koruptor!” kata Syahreza ketika itu, “Karena para koruptor hanyalah membunuh potensi ekonomi kita; sedangkan para bajingan asap ini, di samping mereka adalah koruptor, mereka juga meracun tubuh jutaan generasi masa kini dan masa depan, bahkan membunuh dengan perlahan-lahan! Mereka sesungguhnya tergolong genocide terrorist!”

Alina pun terkagum-kagum. Dia sempat membayangkan Che. Tiga tahun kebersamaan mereka lebih sering parkir di kos-kosnya. Malam-malam kelam selesai demonstrasi adalah malam-malam yang paling menggairahkan. Dalam pergulatan, mereka merasa seperti sepasang martir yang dipuja-puja alam semesta. Hamparan jutaan bunga, percikan dari ribuan botol parfum, dan sorak-sorai dan lambaian penuh kebanggaan, mengiringi lenguhan dan khayalan mereka.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
TERKAIT ISU PEMBANGUNAN APARTEMEN
RJA DPR di Kalibata Ternyata Berhantu, tapi...
Rabu, 23 Agustus 2017 - 21:00 wib
TARGETKAN TUNTAS PADA MASA SIDANG INI
Pembahasan Perppu Ormas Akan Dipercepat Komisi II DPR, Alasannya...
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:45 wib
DINILAI BERTANGGUNG JAWAB PENUH
Pansus Angket KPK Didesak Panggil Jokowi ke DPR
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:30 wib
TERKAIT ISU PEMBANGUNAN APARTEMEN
Hanya untuk Kalangan Dewan, Staf Ternyata Tak Boleh Tempati RJA DPR
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:15 wib
DIDATANGI BRPD DAN DITLANTAS
Soal Tunggakan Pajak Mobil Mewah, Begini Klarifikasi Raffi Ahmad
Rabu, 23 Agustus 2017 - 20:00 wib
LA LIGA SPANYOL
Di Maria Gabung Barcelona? Ternyata Ulah Hacker
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:48 wib
SEMPAT DIWACANAKAN SEBELUMNYA
Pengamat: Anggota DPR Seperti Menghina Rakyat jika Jadi Buat Apartemen
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:41 wib
TERUS DIBURU TIM BARESKRIM POLRI
Buronan Korupsi Aset Pertamina Ini Masuk Daftar Cekal Imigrasi
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:37 wib
PERMENHUB DICABUT MA
Organda Khawatir Angkutan Konvensional dan Online Kembali Bergejolak
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:33 wib
PASCA-PENANGKAPAN TARMIZI
Empat Panitera Ini Pernah Terjaring OTT KPK, Berikut Daftarnya
Rabu, 23 Agustus 2017 - 19:27 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Pesan dalam Liuk Tubuh

Minggu, 20 Agustus 2017 - 13:17 WIB

Perkenalkan Budaya  untuk Jaga Persatuan

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:55 WIB

Afrizal, Modernitas dan Kecemasan

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:46 WIB

Rasa Merdeka

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:30 WIB

Tradisi Masyarakat  Warnai Pelepasan JCH

Minggu, 20 Agustus 2017 - 11:16 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us