Wonderful Indonesia
PERISA YUSMAR YUSUF
Tangkai
Minggu, 06 Agustus 2017 - 00:02 WIB > Dibaca 1008 kali Print | Komentar

Kata-kata berakhiran “ai” dalam bahasa Melayu, sebagian besar menghidang suasana panjang, tinggi; tangkai, tungkai, suntai, sampai, semampai, jurai, burai dan seterusnya. Makhluk yang lekat dengan peristiwa tangkai itu adalah makhluk nabati (botani, vegetasi) alias tumbuh-tumbuhan. Pada setiap dahan dan ranting, selalu menyediakan tangkai untuk sangkar putik jelang membesar dan ranum lalu dinamakan buah. Pada ketika yang lain, tangkai itu malah mengukuhkan daun yang melekat. Sehingga, sesuai dengan nama dan pembawaannya, maka tangkai itu menghidang sesuatu yang panjang, jauh, rengkuh, tarik, tolak dan sekaligus “menyalur” zat makanan dari akar tanaman menuju putik (buah).

Begitulah tangkai pada manusia, yang dialamatkan kepada lengan yang dua bilah. Tangkai lengan itu bak dahan yang panjang bagi tanaman. Lewat lengan manusia menggores karya di gunung-gunung batu di Yaman purba. Lewat keperkasaan lengan pula, kisah dan perjalanan sejarah pemukiman manusia seperti kota tua Petra Yordania difahami secara berangkai dan penuh decak kagum. Lewat kekuatan tangkai dan imajinasi intelektual manusia Cina, terbangun tembok raksasa sepanjang ribuan mil, memecah kebekuan gunung, lembah, lereng, ngarai bahkan hingga menjilat pantai. Orang-orang Inca di dataran tinggi Peru membangun kesadaran ruang dan waktu di puncak gunung menjadi Maccu Piccu. Dam raksasa yang membendung sungai nil, begitu pula wadi raksasa di Yaman, tak lepas dari gerak tangkai lengan manusia kala itu yang berkecipas.

Tanpa tangkai, manusia tak kan mampu menungkai (berdiri di atas tumpuan dua bilah kaki). Ketika dua bilah kaki menegak, maka tangkai lengan menjadi penyeimbang, sehingga tubuh tak huyung, tak doyong, tak condong. Manusia pitecantropus pun hadir berkat kemampuan tangkai lengan. Peristiwa tegak (erectus) yang dilekatkan pada imbuhan akhir pitecantropus itu, seakan-akan ingin menggiring, bahwa fungsi bilah kaki lah yang paling dominan membuat tegakan tubuh itu menjadi kokoh. Padahal, badan yang menegak karena diampu oleh dua bilah kaki, tanpa penyeimbang dari tangkai lengan (dahan dalam dunia vegetasi), maka tegakan itu tidak akan sempurna. Sekaligus, tegakan itu tidak akan dinamis; alias tegakan yang tak menghasilkan gerak. Bayangkan sebatang tubuh yang tak memproduksi gerak, dia tak lebih dari mayat yang maujud dalam tegakan. Dia hanya mempersembahkan aura kematian.

Begitulah kebudayaan Melayu hari ini. Dia hanya tegak dari hasil ampuan bilah kaki (yang katanya kokoh), akan tetapi tanpa lengan penyeimbang. Posisi tangkai (lengan) tak saja menjadi penyeimbang, akan tetapi sekaligus berfungsi menyapa yang jauh, merengkuh yang sayup, merangkul yang dekat, melindungi yang lemah, menerjang sesuatu yang jahat, menarik yang berjarak. Artinya, lewat tangkai lenganlah segala bentuk dialog dibangun. Sebuah kebudayaan tanpa dialog, dia tak lebih dari materia beku yang tersadai di penampang ruang. Dia tak bernilai. Sebab, nilainya hanya satu; mengusung kebenaran tunggal. Kebudayaan itu bukan fenomena kebenaran tunggal. Ketika dia “menunggalkan kebenaran”, pada ketika itulah terjadi klaim sepihak tentang kemenangan. Namun kemenangan versi orang-orang kalah. Mereka yang anti dialog, adalah sejumlah orang-orang yang membangun kemenangan dalam versi sepihak (membeku).
Kaitan dengan kekuasaan dan politik, juga memerlukan tangkai yang kukuh dan panjang.

Fungsinya bukan untuk melanggengkan kekuasaan, akan tetapi lebih berfungsi selaku pelayan, bukan penguasa. Tangkai lengan yang terlalu kuat dari segi kuasa, akan melelehkan kaidah dialog dan kebersamaan itu sendiri. Namun, ketika tangkai lengan yang kuat dan digunakan sebagai pelayan, maka dia akan menjadi setawar sedingin bagi orang-orang lemah, duafa, mereka-mereka yang dikaumkan dalam segerombolan oiketai, dan sekaligus membangun kesadaran membunga tentang hidup berbagi dan memberi. Kekuasaan yang dipegang, bukan untuk menangguk untung, tetapi kekuasaan yang telah berada dalam genggaman tangan seorang penguasa adalah instrumen yang paling mangkus untuk menyampaikan kebajikan (virtue). Kekuasaan (politik) sebagai bagian dari kebudayaan, tidak akan pernah bajik, kalau dia tak diserbukkan dengan orientasi laku yang bijak (wise). Kekuasaan yang tak beralas pada platform bijak, dia hanya menjadi pemangkah kebudayaan hingga terpelanting ke pinggir jurang peradaban.

Dialog, apa pun bentuk dan maujudnya menjadi penting ketika kita berikhtiar untuk mematangkan kebudayaan dan kekuasaan. Sehingga kebudayaan dan kekuasaan menjadi alat penyebar kebajikan bersama, untuk kehidupan bersama, tak saja kehidupan dalam lingkup peri kemanusiaan, akan tetapi merengkuh lebih jauh dari itu; kehidupan yang berbasis pada peri-kemakhlukan (segenap gempita makhluk dan semesta kehidupan).  Dan, hari ini di depan mata kita, tersisa segala bentuk bengkalai kebudayaan yang tak sudah dan tak selesai oleh sebab kelalaian kita di masa lalu. Kelalaian itu tak boleh terulang lagi (keledai tak kan terantuk pada batu yang sama).

Peran tangkai dan tungkai menjadi signifikan dalam kancah kebudayaan dan politik yang bercelaru. Kita tak bisa semena-mena mengenderai demokrasi. Kita pun tak bisa secara ceroboh menunggangi kenderaan bernama demokrasi. Sebab, demokrasi yang diurus secara ceroboh (baik oleh kekuasaan maupun oleh kebudayaan) dia akan mengundang serangkaian tindakan membatu. Bak kata ahli-ahli politik: “Demokrasi itu tak lebih dari kata-kata. Dia akan meleleh di depan senapang”. Kita berdemokrasi hari ini, adalah sebuah cara memfestivalkan kuasa rakyat (demos) dalam kaidah-kaidah peradaban. Bukan untuk memperkaya diri atau memperkaya kaum kerabat.

Akan tetapi demi membangun kemanusiaan dan peradaban yang jelita, dengan satu tujuan besar; menciptakan kehidupan yang berbahagia. Bukan kehidupan yang sejahtera. Sebab, ketika orang yang sudah berkecukupan dan hidup sejahtera, belum tentu dia mampun “happiness harvesting” (memanen kebahagian); dalam rumah tangga, dalam lingkup warga dan masyarakat, dalam lingkup hidup yang lebih luas bernama negara dan bangsa. Maka, ketika berkehendak membesarkan kebudayaan, kita tak bisa melupakan peran dan fungsi tangkai lengan yang kokoh demi menjadi jembatan bagi dialog dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Semuanya itu dengan satu matlamat: kita menjadi besar karena kehadiran yang lain-lain...***
    

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
MENJAWAB WARTAWAN SAMBIL BERCANDA
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres
Sabtu, 24 Februari 2018 - 00:09 wib
TERKAIT PENUTUPAN JALAN DI TANAH ABANG
Anies Baswedan Diadukan, Polisi Masih Mempelajari
Sabtu, 23 Februari 2018 - 21:11 wib
TUDINGAN WAYAN KOSTER TERIMA SUAP MILIARAN
Nyanyian Nazaruddin Harus Dibuktikan Secara Hukum
Sabtu, 23 Februari 2018 - 19:12 wib
POLISI MEMBANTAH
Artis Cantik Ini Bukan Pengedar Narkoba
Sabtu, 23 Februari 2018 - 18:15 wib
DITANGKAP POLISI
Pengunggah Hoax "Megawati Minta Azan di Masjid Ditiadakan" Bilang Cuma Iseng
Sabtu, 23 Februari 2018 - 17:43 wib
DIPUTUSKAN DI RAKERNAS III DI BALI
PDI Perjuangan Akhirnya Tetapkan Sosok Ini Jadi Calon Presiden
Sabtu, 23 Februari 2018 - 17:29 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Suku Teater Mulai Pementasan Perdana "Dilanggar Todak"

Jumat, 23 Februari 2018 - 01:20 WIB

 Berita Hoaks dan Kesantunan Berbahasa Menjadi Perhatian
55 Situs Budaya Diusulkan Jadi WBTB

Selasa, 20 Februari 2018 - 10:51 WIB

Lelaki Tua dan Boneka

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:15 WIB

Metonimia

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:08 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us