Wonderful Indonesia
CERPEN DANTJE S MOEIS
“Video Call” Pangkal Hari
Minggu, 23 Juli 2017 - 00:38 WIB > Dibaca 1990 kali Print | Komentar
“Video Call” Pangkal Hari
Akhir-akhir ini tepat hampir sebulan lebih, aku sangat sulit untuk dapat beristirahat malam dengan sempurna. Walau tak setiap malam dalam sebulan lebih itu, rasa menghantu, ketakutan yang beralasan, selalu saja tiba saat aku ingin istirahat, memulai tidurku.

Tak ingin jadi gila. Kuputuskan untuk berkonsultasi dengan Psikiater. Sebuah tindakan yang tak pernah terbayangkan sebelumya. Psikiater adalah orang yang ahli dalam persoalan kejiwaan, ganguan jiwa, sakit jiwa, mendekati gila. “Apakah aku gila?”

Jawaban si Psikiater, “Anda hanya sedang mengidap depresi ringan, akibat beban pikiran yang terlalu berat. Perbanyaklah istirahat, minta cuti, dan lakukan perjalanan ke tempat-tempat yang menyenangkn. Ini saya berikan resep obat anti-depresi, agar anda dapat rileks dan tidur dengan sempurna, Itu saja.”

Dari beberapa artikel pada rubrik konsultasi kesehatan, di berbagai media yang sambil-lalu kubaca, namun kerap. Selalu saja dikatakan bahwa wanita mempunyai kelebihan, bahwa kami kaum hawa, lebih kuat, lebih tegar dalam menghadapi berbagai persoalan, baik itu tekanan dalam kehidupan lazim dalam keluarga, pertemanan maupun di tempat pekerjaan. Juga dalam persoalan sosial, dampak interaksi dengan segala ragam bentuk dan perilaku manusia yang mau tak mau harus kuhadapi sebagai konsekuesi wajar, bagi seorang humas dari sebuah perusahaan transportasi udara. Selama ini aku kuat, namun setelah peristiwa aneh dan berulang-kali itu, aku kalah.

Kupandang-pandang kemasan obat anti depresi itu berkali-kali, “akankah obat ini satu-satunya jalan untuk mendapatkan ketenangan?” Limabelas butir benda itu telah kutelan dalam sepuluh hari ini, dan tampaknya hanya obat itulah yang dapat menghantar aku untuk dapat rileks, tidur lumayan sempurna.

Telepon lokal, antar ruang di mejaku berdering dan kuangkat.

“Hallo…”

“Nat, segera ke ruanganku, ada hal penting yang akan aku bicarakan” dan tanpa basa-basi, tak sempat mengucap kata sepatahpun, telepon darinya ditutup

Begitulah pak Dasmo, bosku yang kaku, terkesan tak berbasa-basi dan hal dulu paling tak kusuka adalah, saat ia menyapa atau memanggilku dengan panggilan “Nat” saja. Padahal dalam keluarga dan teman-teman semasa sekolah dan kuliah dulu, mereka selalu memanggilku dengan pangkal nama yang lengkap, “Natasya” lengkapnya “Natasya Ariesta Vesty”.

“Ah..sudahlah…” walau berkali-kali aku coba memperbaiki, namun ia tetap memanglku dengan “Nat”

“Lebih praktis dan familiar,” katanya.

“Dengkulmu,” kataku hanya dalam hati.

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Pemberantasan Korupsi Tidak Jalan di Tempat
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:22 wib

DKV SMKN 4 Pekanbaru Unjuk Gigi dengan Karya
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:00 wib

PKS Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Danau Lancang
Rabu, 17 Oktober 2017 - 14:53 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Verifikasi Kebenaran Informasi Media Sosial
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:51 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Komisi II Banyak Terima Aduan Konflik Agraria
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:34 wib
EKONOMI BISNIS
Dukung Pemerintah Registrasi Pelanggan Prabayar
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:28 wib

Buruh Melawan Suarakan Aspirasi, Cabut Permen LHK 17
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:01 wib

Akom Beri Sinyal Setnov Terlibat Kasus Proyek KTP-el
Rabu, 17 Oktober 2017 - 11:39 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Gubri Dijadwalkan Hadiri Haul 100 Tahun Ma’rifat Mardjani
Istri Pangkostrad Kagumi  Oleh-oleh Khas Riau

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:26 WIB

Ratusan Seniman Gelar Aksi untuk Rohingya

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:01 WIB

Kerajinan Khas Daerah Terus Dipopulerkan

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:50 WIB

Tanjak Semakin Digemari Masyarakat

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:35 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini