Wonderful Indonesia
PERISA YUSMAR YUSUF
Sontang
Minggu, 23 Juli 2017 - 00:04 WIB > Dibaca 943 kali Print | Komentar

Sebuah nama dengan satu kali sentak; Sontang. Bukan nama imajiner. Tapi sebuah realitas yang menjadi tempat tarikan garis lurus yang menghubung wilayah rimbun di hulu sungai dengan kawasan selat yang bergemuruh. Sebuah tarikan garis yang menjanjikan bagi nadi ekonomi regional Sumatra, melalui garis Rokan Hulu untuk tiba di sebuah pelabuhan dan kawasan industri bernama Dumai yang terletak di tepian selat Melaka. Rokan Hulu, sebuah kawasan administratif yang tergeletak di tebing timur pegunungan Bukit Barisan, dan berdepan dengan kawasan rawa maha luas yang boleh dinisbatkan sebagai lembah mandau (Mandau valley) yang terletak di antara dua batang sungai (Rokan dan Siak). Sebuah lembah dan kawasan rawa hutan tropis yang teramat kaya dengan endapan tambang mineral di sepanjang pantai timur pulau Sumatra.

Sontang menjadi sudut orientasi, tempat orang dari kawasan rawa untuk menikmati perjalanan menaik (mendaki) secara pelan dan perlahan. Dan di Sontang pula tebing tanah mulai memperlihatkan wujud pematang (yang sejatinya adalah lidah ujung dari tebing pegunungan Bukit Barisan yang menjulur dan terbaring menjilat lembah mandau yang misterius dan kaya itu. Kawasan rawa ini seakan tak memiliki horison pembatas, dengan warna air paya yang kehitam-hitaman. Sebuah kawasan tangkapan air raksasa yang tiada bertepi, hingga terhenti di tebing sungai Rokan dan beberapa anak sungainya. Anak-anak sungai yang berjumlah banyak dan meliuk-liuk itu memberi kesan kosmologi kawasan paya (rawa) yang tak mudah diduga (dibaca). Sesuatu ihwal yang tak terduga bisa saja terjadi dalam perjalanan anda dari Dumai-Duri menuju Pasir Pengarayan melewati garis Sontang.

Panorama kawasan paya yang dulunya adalah kawasan hutan rawa yang menjadi wilayah buruan pencari ladang minyak, bahkan sawah minyak. Hingga hari ini memang jarang penduduk, atau dengan populasi yang amat terbatas, bahkan terkesan tiada kampung yang berederet di sepanjang ruas jalan ini. Kita baru menemukan cluster kampung Melayu ketika menginjak kaki di tanah pematang bernama Sontang. Di Sontang, kita disuguhi kebun-kebun yang begitu rapat. Namun perjalanan memanjat ke arah barat ini mulai menyuguhkan ruang-ruang kebun tua nan rimbun di sekitar Kepenuhan dan Kota Tengah. Melintas ruas jalan yang lebar dan mulus, memberi kesan riang dan bahagia menjadi warga Riau dengan dimensi kawasan dan wilayah yang amat penuh dimensi dan gradasi. Kebun-kebun tua dan kuburan tua menjadi penanda bahwa kampung-kampung Melayu Rokan amat tua, dah melangsung perjalanan panjang sejarah dan kebudayaannya di sepanjang ruas sungai Rokan Kanan (Batang Lubuh) dengan susunan impian dan capaian impian yang tak pernah sudah dan tak juga selesai.

Rokan Hulu hari ini memulai sesuatu dengan cara yang lain; mereka memiliki ‘pelabuhan’ di pantai timur Sumatra. Mereka membangun narasi ruas Sontang sebagai jalan pintas terdekat bagi garis dagang, niaga dan bisnis bagi kawasan hulu sungai Rokan beserta tetangga mereka di Padang Lawas , Madina (Sumatra Utara) serta Pasaman (Sumatra Barat) untuk dengan cerdas memanfaat garis lurus Sontang menuju pasar regional bernama Singapura dan Semenanjung Tanah Melayu. Dan Dumai menjadi gerbang dan ejaan baru bagi upaya Rokan Hulu untuk memposisikan dirinya senantiasa berada di tengah-tengah Sumatra (jantung@ Heart of Sumatra). Sebagai bunyi, Sontang mengarah ke bunyi “rentang” atau “serentang”, dia memang dihajatkan menjadi garis rentang untuk menghela apa-apa yang ada di kawasan mudik (hulu sungai dan pedalaman Sumatra) untuk diangkut dan dilayari melalui garis “serentang” ini. Begitu pula sebaliknya, di garis “serentang” ini pula hendak ditolak mengarah ke hulu dan kerimbunan hijau mengarah ke pedalaman Sumatra terhadap apa-apa yang ada di kawasan hilir atau muara. Dahulu kala, sebelum ruas jalan eksplorasi minyak maujud di kawasan ini, bahwa alur sungai Rokanlah yang menjadi pengangkut apa-apa yang berada di hulu dan sebaliknya apa-apa yang akan ditolak ke pedalaman. Sebuah peristiwa tolak-hela yang amat menawan.

Garis rentang jalur Sontang ini amat menguntungkan, karena posisi yang menghubungkan beberapa kabupaten kota, sehingga statusnya sebagai jalan provinsi, membuat desingan dan dentuman niaga, bisnis dan dagang di jalur ini kian bergemuruh dan gempita di masa depan. Ketika jalur lintas timur yang merupakan jalur konvensional mulai padat dengan resiko kemacetan, dan ke depan ketika ruas jalan tol Pekanbaru-Dumai terbentang walau terkesan tak hemat (jalan berbayar); maka ruas Sontang merupakan ruas alternatif yang murah, malah menjadi garis pintas yang bisa memperpendek jarak rengkuh Sumatra Utara (tepatnya kawasan Toba ke Dumai atau sebaliknya); kawasan Padang Lawas, Madina dan juga Pasaman. Garis-garis yang menghubungkan titik barat dan timur di pulau Sumatra adalah garis yang membangun keuntungan bagi perniagaan Sumatra, karena lay out (timur-barat) adalah garis relasi tradisional yang berkembang dalam buana  kebudayaan Melayu (baik di Sumatra dan sebaliknya di Semenanjung Malaysia).

Ruas Sontang yang merentang dari tebing timur Bukit Barisan menuju pantai timur Sumatra akan menjadi jalur yang bising dan bergemuruh di masa depan. Sebab, di samping jalur ini menghidang ruas jalan dengan garis lurus, juga melintas kawasan yang tak mungkin biak penduduk, karena kawasan rawa yang teramat luas dan dalam. Ruang-ruang senyap ini, menjadi pesona tersendiri bagi lalu lintas alternatif sekaligus lalu lintas yang memperingkas jarak titik-titik pertumbuhan baru di kawasan barat pulau Sumatra baik yang berada di Sumatra Utara maupun yang berada di Sumatra Barat. Sebab, sejauh ini lay out garis jalur jalan raya yang menjadi nadi ekonomi Sumatra, semuanya menuju pulau Jawa (ruas lintas timur, lintas tengah dan lintas barat). Artinya, lay out jenis ini, amat terkesan “Java Centris”, atau memposisikan pulau Jawa sebagai sumbu (as mayor), terutama Jakarta. Sehingga hiruk pikuk ekonomi dan perputaran uang semuanya mengarah ke dan demi Jakarta dan serba Jawa. Namun, jika garis timur-barat sebagaimana ruas Sontang ini kian banyak, maka pelabuhan-pelabuhan di pantai timur Sumatra akan berderap dan gemeretap. Dia menjadi penggenap pelabuhan dan kawasan industri yang berada di Semanjung dan Singapura di masa depan. Titik itu bisa bernama Dumai, Kuala Tanjung, Buton, Kuala Enok dan Tanjung api-api. Sontang memberi harapan tentang impian Sumatra dan niaga Melayu di sebuah masa yang tak jauh. Sebuah garis yang mempertemukan timur dan barat...***



Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
TERKAIT PEMBERANTASAN KORUPSI
Aturan Tumpang Tindih, Kemenkumham Minta KPK Ikuti UNCAC
Selasa, 12 Desember 2017 - 16:55 wib
WACANA PDI P
Pimpinan DPR Tidak Akan Dikocok Ulang, Ini Alasannya
Selasa, 12 Desember 2017 - 16:45 wib

Duta Besar Kanada Berkunjung ke PCR untuk Program PEDP
Selasa, 12 Desember 2017 - 16:43 wib
TAJAM DI LIVERPOOL
Pemain Terbaik Afrika 2017? Mohamed Salah!
Selasa, 12 Desember 2017 - 16:35 wib
TEMBILAHAN
Maksimalkan Sinergi dalam Pembangunan
Selasa, 12 Desember 2017 - 15:29 wib
TEMBILAHAN
Satu Pelaku Penikaman Masih Boron
Selasa, 12 Desember 2017 - 15:27 wib

Peduli Korban Bencana di Jawa, PAMOR Serahkan Bantuan
Selasa, 12 Desember 2017 - 13:25 wib
Rencanakan Beraksi Akhir Tahun
Jadikan Polisi Target, Empat Terduga Teroris Diamankan
Selasa, 12 Desember 2017 - 13:17 wib
BSP Raih Peringkat Pertama KI Award
Motivasi Berkarya Bangun Daerah
Selasa, 12 Desember 2017 - 13:15 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Dari Pekan Rantau Melayu di Hotel Sri Indrayani

Senin, 11 Desember 2017 - 09:55 WIB

Jefri Antoni Beri Motivasi Umat untuk Bangun Masjid

Senin, 11 Desember 2017 - 09:29 WIB

Riset dan Proses Kreatif

Minggu, 10 Desember 2017 - 19:48 WIB

Kostum Tiara Tembus Enam Besar  Miss Ambasador

Minggu, 10 Desember 2017 - 19:40 WIB

Tiga Hari Mengenal Melayu

Jumat, 08 Desember 2017 - 09:40 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us