Wonderful Indonesia
CERPEN MUSA ISMAIL
Panah Beracun Setan
Minggu, 09 Juli 2017 - 00:53 WIB > Dibaca 2034 kali Print | Komentar
Panah Beracun Setan
Aku rindu Ramadan.

Aku rindu masjid.

Aku takut hanya dapat lapar dan dahaga.

Kemantan sedang duduk santai  di beranda rumahnya. Kebiasaan ini dilakukannya setiap hari. Matanya melompat. Kebiasaannya ini pun dilakukannya setiap waktu. Hari ini dia bersungut panjang menyumpah hujan.

”Sialan! Haram jadah,” mulutnya menyemburkan ludah bertepai-tepai.

***

Ramadan tiba di rumahku bersama hujan. Deru angin mengawali hari sebelum hujan jatuh. Dari celah tingkap, aku menyaksikan rahmat-Nya itu sehari sebelum puasa. Hati semesta menjadi gembira ketika hujan tiba. Aku, dia, mereka, hewan, dan tetumbuhan tertawa ditimpa hujan. Namun, masih banyak juga mereka menyumpah karena hujan tiba. Yang jelas, siapa pun tidak akan tahu kapan hujan tiba di kampung kita, baik sebagai bala maupun sebagai rahmat-Nya.

Setelah kubaca-baca dalam kitabku, hujan tidak serta-merta turun begitu saja. Mulanya,  Allah Taala yang mengirim angin. Lalu, angin itu menggerakkan awan. Selanjutnya, Allah Al-Aziz membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan menjadikannya bergumpal-gumpal.  Akhirnya, kita melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. Hujan itu bagai memagari diriku dengan benda-benda di luar sana.

Hujan membuatku gembira.

Subuh  menggigil. Orang-orang masih mendengkur pulas di balik selimut setan. Gema bang di masjid terus saja seperti biasanya. Suara hujan di subuh itu terus menghiasi hari-hari puasa. Antara suara bang dan hujan menghadirkan melodi indah tentang keagungan Allah Taala.  Aku merasa amat nyaman ketika memandangi hujan. Pikiranku menerawang melintasi baris-baris hujan. Baris-baris rintik itu bagai huruf alif yang menghunjam gersangnya hati kita. Panas yang terjadi beberapa pekan terakhir, telah terhapus hujan lebat beberapa hari ini. Hujan itu menghapus debu-debu yang menempel di setiap dinding rumah. Puasa ini ibarat hujan, hujan yang menghapus sekebat noda di batinku.

”Hujan adalah nikmat Allah. Menyumpah hujan bermakna berkhianat kepada-Nya. Kau tentu tahu apa akibatnya jika kita berkhianat, apalagi kepada Khalikul Alam,” Ramadan terus saja melewati jalan becek itu. Aku cuma mengangguk diam.

”Hei, orang asing!” Kau menceramahiku? Ini bukan zamannya menjaga tepi kain orang lain. Tak perlulah kau menyindir-nyindir begitu. Aku ini tidak pekak,” suara berat Kemantan bagai panah melesat ke arah Ramadan, tetapi terbentur keagungan. Ramadan tanpa sengaja berkata seperti itu. Niatnya sekedar untuk menasihatiku. Sebagai teman dekat, aku memang sangat senang mendengarkan nasihat-nasihat darinya. Kata-katanya itu bagai hujan yang menyejukkan hatiku.

”Saya, Pak?”

”Ya, kau orang asing. Kalau bicara jangan sesedap mulut,” Kemantan berdiri sambil menyergah Ramadan. Aku merasa kecut juga melihatnya. Aku tahu betul temperamen dukun itu. Dia sangat ditakuti di kampung ini. Mulutnya kasar. Kebiasaannya menyakitkan hati orang lain, terutama kaum hawa. Jangankan para dara, isteri orang pun kecut. Anak-anak apalagi!

”Jangan salah paham, Pak. Saya sekedar berbicara dengan kawan,” Ramadan menoleh ke arahku. ”Kebetulan saja saya lewat di depan kediaman Bapak. Kalau terganggu, saya mohon maaf,” Ramadan mendekati dukun itu dan menyorongkan tangan untuk bermaafan.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Pemberantasan Korupsi Tidak Jalan di Tempat
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:22 wib

DKV SMKN 4 Pekanbaru Unjuk Gigi dengan Karya
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:00 wib

PKS Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Danau Lancang
Rabu, 17 Oktober 2017 - 14:53 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Verifikasi Kebenaran Informasi Media Sosial
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:51 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Komisi II Banyak Terima Aduan Konflik Agraria
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:34 wib
EKONOMI BISNIS
Dukung Pemerintah Registrasi Pelanggan Prabayar
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:28 wib

Buruh Melawan Suarakan Aspirasi, Cabut Permen LHK 17
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:01 wib

Akom Beri Sinyal Setnov Terlibat Kasus Proyek KTP-el
Rabu, 17 Oktober 2017 - 11:39 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Gubri Dijadwalkan Hadiri Haul 100 Tahun Ma’rifat Mardjani
Istri Pangkostrad Kagumi  Oleh-oleh Khas Riau

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:26 WIB

Ratusan Seniman Gelar Aksi untuk Rohingya

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:01 WIB

Kerajinan Khas Daerah Terus Dipopulerkan

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:50 WIB

Tanjak Semakin Digemari Masyarakat

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:35 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini