Wonderful Indonesia
PERISA YUSMAR YUSUF
Yang Tak...
Minggu, 09 Juli 2017 - 00:03 WIB > Dibaca 1154 kali Print | Komentar
Berita Terkait

Yang terhidu, aroma. Yang tak terhidu, angin. Angin yang menjadi media aroma, berada di atara terhidu dan tak terhidu. Dan, kebudayaan Melayu itu laksana dalam bingkai serba amsal tentang terciumi dan tak terciumi. Antara terhidu dan tak terhdiu. Secara politik, kebudayaan menjadi jargon penambat hati, penawan hati (rakyat). Dia bisa dan biasa dijinjing oleh seorang tokoh politik walau tak berdarah Melayu. Namun, Melayu dan (katanya) nilai-nilai Melayu menjadi pedoman dan hala-tuju tindak dan perbuatan kebudayaan bagi seluruh orang dan warga di Riau ini. Maka, terpaut hatilah segala makhluk Melayu dan Riau terhadap tokoh seperti ini. Bahwa dia adalah sosok yang memperjuang Melayu dan ke-Melayu-an. Pun, kita menjadi lupa bahwa, Melayu di sini bak barang dagangan yang dionggokkan di sebuah los pasar dan menjadi sebuah komoditas. Seakan-akan kita mencium baunya, tapi tak pernah tau bagaimana menjelaskan jenis bau atau aromanya secara deskripsi operasional. Dia seakan ada, tapi tiada. Tiada tapi ada.

Melayu hari ini, di tanahnya sendiri adalah fenomena yang serba malang. Dia berjalan lunglai dengan kemalangannya. Ada taman, namun taman diserbu oleh fenomena pasar yang menyerbu dan menyemut. Badan-badan jalan di kota, menjadi kawasan parkir yang menyesak dalam format serba zig-zag. Seakan kota ini tak terurus dan tanpa pengendali. Lihatlah badan-badan jalan yang lebar di kawasan pusat perkantoran, menjadi arena parkir kenderaan di kiri dan kanan badan jalan. Jalan yang lebar, menyempit seukuran lorong atau gang sempit. Belum lagi tindakan memarkir kenderaan di muara jalan, pas di mulut simpang tiga dan empat, sehingga mengganggu jarak pandang para pengemudi yang amat memerlukan ruang manuver untuk berbelok ke kiri, apatah lagi ke kanan. Lihat pula, ruas jalan di sekitar perkatoran penegak hukum, mobil dalam posisi bujur dan melintang tak simetrik: Lintang pukang.

Belum lagi pembiaran secara masa bodoh terhadap pengendara motor (bahkan mobil) yang melawan arus di ruas-ruas jalan utama, bahkan di ruang jalan yang dua jalur, dalam kecepatan tinggi. Pembiaran-pembiaran ini menjadi pemandangan sehari-hari. Dan inilah wajah bangsa ini, inilah pula wajah tabiat dan perilaku warga yang menghuni sebuah kota yang mengklaim sebagai kota yang “madani” (atau malah ‘mada, ni’). Kenderaan roda dua berpacu dalam kadar bersecepat dan berpacu-pacu untuk mengalahkan kenderaan roda empat di ruas tengah yang semestinya diperuntukkan bagi kenderaan yang berukuran  besar. Semakin, bersecepat dan berpacu di antara sesama kenderaan roda dua, malah tak menyisa ruas jalan bagi kenderaan yang berlawanan arah dari depan yang semestinya menjadi ruang mereka dari depan. Para pengendara roda dua, ketika berada di perempatan jalan yang dihiasi lampu lalu lintas, berlagak bak serombongan pasukan perang Romawi. Menabrak garis batas pejalan kaki yang berada sejajar dengan tiang lampu lalu lintas (traffic light). Mereka tampil dingin dan membeku, dalam mentalitas gerombolan. Jika terhalang ruang lintas di depan, bersecepat mereka akan menaiki trotoar, bahkan laman toko, atau malah laman rumah penduduk. Yang penting, gerak mereka tak boleh ada yang menghalangi.

Dan kita menjadi sejumlah warga yang bangga dan merasa berprestasi jika melanggar aturan atau rambu lalu lintas. Tak tua dan tak muda. Tak laki dan tak perempuan, tak atok dan tak emak-emak. Tak kiyai dan tak haji, tak pelajar dan tak terpelajar. Sama saja. Ketika di jalan raya, kita laksana sedang memasuki arena perang, arena pertarungan “hidup-mati”. Sebuah medan yang mengenepikan segala akhlak dan perilaku ramah dan lembut. Di sini, ruang pembuangan sampah segala sampah; termasuk maki-hamun, sumpah serapah, seranah, umpat sampai ucapan keji dan kebencian. Dia tak lagi menjadi medan silaturahmi, bukan area utk memperbanyak susur galur persaudaraan, bukan ruang untuk sapa menyapa yang membawa rahmah dan berkah antar sesama. Jalan raya, menjadi medan serba anonim.

Orang-orang yang menyemplungkan badannya ke jalan raya, adalah sosok yang a-historis, yang tak memiliki sejarah dan riwayat hidup, sosok yang tanpa biografi, tanpa asal-usul. Seakan makhluk yang terjun dari langit dan tercampak dalam sebuah ruang hampa. Lalu? Ruang hampa ini dipetukangi oleh orang-orang yang terpelanting dan terjungkal itu dalam cara dan isminya masing-masing. Sehingga jalan raya menjadi medan adu argumen serba singkat dan lekas dalam lengkingan para ‘pemenang’. Masing-masing menjadi pemenang dan merasa menang menurut caranya sendiri. Mereka yang diam, tak kuat argumen dan kurang lengking suaranya adalah para pecundang dan orang-orang kalah yang layak disorak, dinyah, dan ditatap dengan sudut mata serba minor, berhias sudut bibir yang mengerucut ke samping (berot).

Ruas jalan raya sekaligus menjadi medan untuk menonton segala ihwal tragis dan komedia. Tabrakan dan musibah jalan raya yang melibat penabrak dan korban, kita yang lewat di jalan raya itu, bukannya memberi pertolongan kepada korban. Namun malahan, korban musibah itu jadi obyek tontonan dan tumpuan segala ceramah, termasuk interogasi para warga sekitar terhadap korban. Jalan raya jadi sesak dan mengundang macet panjang. Formasi tontonan ini membentuk lingkaran (ring) yang cukup bermodalkan duduk di atas jok kenderaan dalam posisi pasif, tapi secara tak sadar mengganggu sistem lalu lintas. Korban musibah dibiarkan tergeletak di pinggir atau tengah jalan. Lalu? Di mana “modal sosial” (social capital) orang timur yang didengung-dengungkan amat tinggi dan besar itu? Di mana sensitivitas orang timur yang dilambung-lambungkan itu, dan di mana akhlak yang dihujani saban detik di masjid-masjid dan madrasah tentang hidup berkaum dan kecakapan menanggulangi mereka-mereka yang diterpa musibah harus didulukan?

Kita pun dibuat bingung oleh kenyataan ini. Saya pun bertanya, kita hidup di ruang mana, dalam masyarakat jenis apa, dan dalam zaman apa dan bagaimana? Sebab, kita hanya berlaku sebagai seorang ‘saksi” kehidupan yang tengah berlangsung secara banal dan binal. Sebuah laku hidup yang diperankan oleh sejumlah makhluk yang tak memiliki “rasa”, tak menyimpan kepekaan sosial, tak memiliki “kamar” tolak angsur (toleransi) dalam kehidupan yang serba majemuk ini. Setiap orang mengaku memikul kebenaran masing-masing ketika keluar rumah, demi memasuki jalan raya. Namun, kebenaran sendiri-sendiri itu bukan untuk didialogkan di medan jalan raya, namun hanya untuk dibenturkan dengan kebenaran orang lain. Sampai kapan, kehidupan jenis ini berlangsung dan diperankan? Gegas dan bergegaslah! Rupanya kita berada dalam buana serba “yang tak...”.***

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
SIDANG TAHUNAN
Setelah Doakan Jokowi Gemuk, Tifatul Minta Pemimpin Takut kepada Tuhan
Rabu, 16 Agustus 2017 - 20:06 wib
NOTA RAPBN 2018
Cukai Plastik Kembali Dipungut Pemerintah Tahun Depan
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:59 wib
DAKWAAN JPU KPK
Dua Pejabat Kemendes Terancam 5 Tahun Penjara dalam Kasus Suap
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:57 wib
DITARGETKAN SELESAI TAHUN DEPAN
Kirim Jutaan Blanko, Mendagri Minta Masyarakat Segera Rekam e-KTP
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:52 wib
SIDANG TAHUNAN
Kritik Pidato Jokowi soal Lembaga Negara, Fadli Singgung Pembubaran Ormas
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:48 wib
SIDANG TAHUNAN
Ternyata, Ketua MPR Sudah Izinkan Tifatul Doakan Jokowi Supaya Gemuk
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:38 wib
SIDANG TAHUNAN
Jokowi Bangga, 72 Tahun Indonesia Tanpa Perang Saudara
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:33 wib
SIDANG TAHUNAN
Tidak Sesuai Realita, Pidato Jokowi soal Ekonomi Dikritik Fadli Zon
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:27 wib
PIDATO JOKOWI DI SIDANG TAHUNAN
Kepercayaan Tinggi dari Rakyat Harus Didapatkan Semua Lembaga Negara
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:24 wib
PIDATO KENEGARAAN DI SIDANG TAHUHAN
Ketika Komitmen Jokowi Perkuat KPK Terganjal Pansus dan Revisi UU
Rabu, 16 Agustus 2017 - 19:00 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Pengurus IKBSD Dikukuhkan

Selasa, 15 Agustus 2017 - 10:35 WIB

Pantun Menuntun Santun

Minggu, 13 Agustus 2017 - 20:56 WIB

Integritas tak Sepintas

Minggu, 13 Agustus 2017 - 17:27 WIB

Sajak-Sajak Hang Kafrawi

Minggu, 13 Agustus 2017 - 01:10 WIB

Bahasa Ibu dan Anak-Anak Milenial

Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:54 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us