Wonderful Indonesia
KOLOM ALINEA
Poliglot
Minggu, 02 Juli 2017 - 00:19 WIB > Dibaca 1558 kali Print | Komentar
Poliglot
Oleh Fatmawati Adnan

Bella Devyatkina, gadis kecil 4 tahun asal Rusia, mendadak terkenal akhir tahun lalu setelah kehadirannya dalam program televisi bertajuk “Incredible People” di Moskow. Dengan tingkah polah kanak-kanak yang lincah, ia tak henti-hentinya bergerak di atas panggung di hadapan para juri dan ratusan penonton. Di panggung itu telah “disediakan” 7 orang dewasa yang merupakan native speaker (penutur asli) bahasa-bahasa yang berbeda.

Tugas Bella adalah berkomunikasi dengan ketujuh orang yang masing-masing berbahasa Inggris, Cina, Spanyol, Jerman, Perancis, Arab, dan Rusia. Si kecil Bella dengan lancar dan fasih mampu berkomunikasi dengan mereka dalam 7 bahasa tersebut. Ajaib! Luar biasa!
Dengan kemampuannya menguasai 7 bahasa, Bella Devyatkina tergolong seorang poliglot atau hiperpoliglot (orang yang mampu menguasai minimal 4 bahasa). Poliglot merupakan istilah pinjaman dari bahasa Yunani, yaitu polýglottos “banyak lidah”, dari kata poly “banyak” dan glotta “lidah, bahasa”. Ahli bahasa Richard Hudson memakai kata “hiperpoliglot” untuk menyebut orang yang fasih berbicara dalam 6 bahasa atau lebih.

Timothy Doner, seorang pemuda Amerika Serikat yang baru berusia 16 tahun, juga mendadak terkenal setelah ia menunjukkan kebolehannya dalam berbahasa yang diunggah di You Tube. Ia menguasai 20 bahasa, termasuk bahasa Xhosa, Ojibwe, dan Pashto yang tidak dikenal banyak orang.

Indonesia pernah dihebohkan dengan kehadiran poliglot Gayatri Wailissa, gadis kelahiran Ambon tahun 1998. Saat berusia 16 tahun, Gayatri telah menguasai 15 bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Mandarin, Arab, Jerman, Perancis, Thai, Korea, India, Rusia, dan Tagalog.

Di masa awal kemerdekaan, muncul beberapa tokoh besar Indonesia yang diklaim sebagai poliglot. Presiden RI ke-1 Soekarno menguasai bahasa Jawa, Sunda, Bali, Indonesia, Belanda, Jerman, Perancis, Arab, dan Jepang. Menteri luar negeri Republik Indonesia di era Soekarno, H. Agus Salim, menguasai 7 bahasa asing; Mohd Natsir (pernah menjabat sebagai Perdana Menteri, Presiden Liga Islam, dan Ketua Dewan Masjid Se-Dunia) menguasai 6 bahasa asing; dan Sutan Syahrir (pernah menjabat sebagai Perdana Menteri 1 dan menteri luar negeri) menguasai 5 bahasa asing.

Bagi mayoritas manusia di muka bumi ini, belajar satu bahasa asing saja sudah cukup menyulitkan. Lalu, bagaimana para poliglot ini mampu menguasai belasan, puluhan, bahkan ratusan bahasa?

Menurut Brown (Nurgiyantoro, 2009), “kompetensi kebahasaan seseorang berkaitan dengan pengetahuan tentang sistem bahasa, struktur, kosakata, atau seluruh aspek kebahasaan itu, dan bagaimana tiap aspek tersebut saling berhubungan”. Dengan demikian, secara garis besarnya kompetensi kebahasaan seseorang dapat diukur dari pengetahuan struktur dan kosakata.
Para ahli bahasa mengatakan seseorang yang mampu berbicara fasih dalam sebuah bahasa setidaknya ia perlu menguasai 3000-5000 kata. Jadi, seorang poliglot yang menguasai 10 bahasa maka ia harus menguasai 30.000-50.000 kosakata.

Habib (2014) mengemukakan bahwa sejarah pembelajaran bahasa asing dimulai dengan model “private” karena pada masa lalu hanya orang-orang terkemuka dan para bangsawan saja yang mampu belajar bahasa asing. Pada permulaan imperium Romawi, peradaban Yunani kuno masih sangat dominan sehingga mereka merasa perlu untuk mempelajari bahasa Yunani. Metode yang digunakan adalah “menghafal” ungkapan-ungkapan dalam bahasa asing (Yunani) dan membandingkannya dengan bahasa ibu (Latin).

Pada fase selanjutnya muncul berbagai pendekatan dan metode pembelajaran bahasa asing. Diawali dengan kehadiran pendekatan terjemahan (The Grammar Translation Approach), pendekatan langsung (The Direct Approach), pendekatan membaca (The Reading Approach), metode audiolingual (The Audiolingual Method), pembelajaran bahasa masyarakat (Community Language Learning), metode diam (The Silent Way), pendekatan fungsional-nosional (Functional-Notional Approach), dan pendekatan respon fisik total (Total Physical Response). Pendekatan dan metode pembelajaran bahasa tersebut pada umumnya adalah pembelajaran klasikal yang diterapkan di sekolah-sekolah atau kursus-kursus bahasa asing. 

Mayoritas poliglot mempelajari suatu bahasa secara autodidak dan individual. Para peneliti poliglot menyimpulkan 6 langkah praktis yang dapat dilakukan oleh seseorang yang ingin mempelajari bahasa asing, yaitu mempunyai rasa ketertarikan yang kuat terhadap bahasa yang ingin dikuasai; menerapkan cara belajar dan membuat jadwal; menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung; mempelajari budaya atau karya bangsa bahasa yang dipelajari;  berkomunikasi sesering mungkin dengan native speaker dari bahasa yang sedang dipelajari; dan belajar rutin secara berkesinambungan dan berulang-ulang.

Apa keuntungan menjadi seorang poliglot? Ternyata, poliglot mendatangkan keuntungan secara psikologis dan sosial. Seorang poliglot cenderung memiliki kelenturan kognitif yang memungkinkannya untuk lebih mampu beradaptasi di lingkungan baru atau yang tak terduga. Keuntungan lainnya adalah memiliki kemampuan berpikir yang lebih tajam, mampu melihat kata secara berbeda, menunda penyakit Alzheimer, mampu memecahkan masalah lebih baik, daya tangkap yang lebih tinggi, dan cenderung menjadi pengambil keputusan yang baik.

Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, ternyata fasih berbahasa Mandarin, Perancis, Ibrani, Latin, dan Yunani kuno. Poliglot lainnya yang masih hidup saat ini adalah Swami Rambhadracharya (pemimpin spiritual Hindu, pendidik, sarjana Sansekerta, penyair, penulis, komentator teks, filsuf, komponis, penyanyi, pengarang, dan seniman) yang mampu menuturkan 22 bahasa, Alexander Arguelles (sarjana multibahasa Amerika Serikat) yang  fasih menuturkan 36 bahasa, Daniel Tammet (penulis, esais, dan penderita autis asal Britania Raya) yang mempelajari 10 bahasa, Dikembe Mutombo (mantan pemain NBA) yang mampu menuturkan 9 bahasa, Graça Machel (istri mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela dan mantan istri Presiden Mozambik Samora Machel) yang fasih menuturkan 7 bahasa,  Ioannis Ikonomou (penerjemah di Komisi Eropa) yang mampu menuturkan 32 bahasa dengan fasih, Roy Hodgson (saat ini manajer timnas sepak bola Inggris) yang lancar berbicara dalam 8 bahasa Inggris, Farin Urlaub (gitaris, penyanyi, dan vokalis punk rock band Jerman Die Ärzte) yang menguasai 7 bahasa, dan Zubair Ali Zai (ulama muslim Pakistan) yang fasih menuturkan bahasa Pashtun, Arab, Inggris, Hindi, Yunani, dan Persia.

Sepertinya, menjadi seorang poliglot di era global sangat menguntungkan dan “mengasyikkan”. Sebab, dunia semakin tak berbatas. ***

Fatmawati Adnan adalah peneliti bahasa di Balai Bahasa Riau

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
JADI TUAN RUMAH DJARUM SIRNAS LI-NING RIAU OPEN 2018
PBSI Riau Bahas Teknis Persiapan sebagai Panitia Lokal
Kamis, 22 Februari 2018 - 17:06 wib
BEKERJA SAMA DENGAN DISPORA RIAU, PLN DAN PT ARARA ABADI
Sabtu, PWI Riau Tanam Pohon di Stadion Utama
Kamis, 22 Februari 2018 - 16:56 wib

Syamsuar Akan Angkat Ekonomi Riau yang sedang Terpuruk
Kamis, 22 Februari 2018 - 16:14 wib
DAMPAK LETUSAN GUNUNG SINABUNG
Pasokan Sayur ke Medan Terancam
Kamis, 22 Februari 2018 - 15:43 wib
NIKITA MIRZANI
Ingin Cepat-cepat Nikah
Kamis, 22 Februari 2018 - 15:17 wib

PSMS Medan Dapat Hadiah Rp550 Juta dari Piala Presiden
Kamis, 22 Februari 2018 - 13:57 wib

Proyek Zona I Lelang Ulang
Kamis, 22 Februari 2018 - 13:26 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
 Berita Hoaks dan Kesantunan Berbahasa Menjadi Perhatian
55 Situs Budaya Diusulkan Jadi WBTB

Selasa, 20 Februari 2018 - 10:51 WIB

Lelaki Tua dan Boneka

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:15 WIB

Metonimia

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:08 WIB

Sekitar Botol Kosong  di Begawai Sastra

Minggu, 18 Februari 2018 - 10:39 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us