Wonderful Indonesia
PERISA YUSMAR YUSUF
Revolusi Keempat
Minggu, 02 Juli 2017 - 00:03 WIB > Dibaca 1005 kali Print | Komentar

Digitalized, sebuah mantra. Dunia serba digital adalah sebuah jawaban serba lekas dan bersecepat, namun juga serba tepat dan presisi. Inilah yang menjadi penanda tentang revolusi industri keempat. Tepatnya, dia menjadi penyangga ekonomi gelombang keempat (fouth wave economy). Tak saja ekonomi, dia sudah menjadi nadi dan bagian syaraf komunikasi dan sekaligus informasi yang menerpa pada level (kadar) individual, serba personal. Setiap individu bisa saling berinteraksi dengan individu, institusi dan lembaga negara, lembaga agama atau asosiasi profesi hanya dengan aksi dan reaksi telunjuk jari. Dampaknya?

Energi bumi kian terkuras. Pemakaian listrik, gelombang mikro kian menggila. Maka, setiap negara berlomba-lomba pula menghemat pemakaian energi yang tersedia di atas atau di dalam bumi yang satu. Sebab, bumi tak lebih dari rumah sewa tempat yang paling layak untuk dihuni oleh manusia. Satu-satunya. Ya, satu-satunya. Tak akan mungkin kita melakukan migrasi untuk membangun kehidupan baru di planet alternatif. Karena, kita  yang ribuan tahun menjadi penghuni di ‘rumah sewa’ ini, harus menemukan kiamatnya pula dalam versi bumi yang satu ini.


Maka, festival pencarian energi alternatif itu telah dimulai sejak 40 tahun silam. Tersebutlah antara lain pemanfaatan sampah sebagai pengganti sumber energi fosil. Dan Cina menjadi satu contoh negara yang paling serius sekaligus agresif menekuni ranah ini. Namun, energi sampah untuk listrik yang lebih jinak dan terkesan “hijau” itu, tetap menyisa pertengkaran akademis dan sosial, bahwa “mesin pembakar” sampah (increnator) yang masif itu malah menghasilkan karbon yang tak kurang pula mengharu-biru kehidupan manusia dan makhluk sekitaran. Maka, tersisa lagi alternatif sumber energi terbarukan (matahari dan angin). Khusus tenaga matahari yang berlimpah  di muka bumi ini, diperkirakan baru terpakai sekitar 15 kiloterra, dari 20.000 kiloterra sumber limpahan matahari yang tersedia di muka bumi. Untuk pengembangan tenaga matahari, memang terbentur pada pengadaan infrastruktur yang teramat komplet dan mahal. Demikian pula tenaga angin. Terlebih lagi pemanfaatan “panas bumi” yang hanya bisa dikembangkan pada kawasan-kawasan yang terbatas dengan infrastruktur yang teramat mahal pula. Namun, bagi manusia di atas muka bumi hari ini, tak ada pilihan lain, selain harus merawat perbuatan dan tindakan untuk berlaku hemat dan cermat terhadap sumberdaya bumi yang amat terbatas ketersediaannya itu.

Pada saat bersamaan, kita diserbu oleh revolusi industri digital. Kehidupan dengan seluruh lingkup dan seginya sudah dipetak-petak oleh sistem digital. Termasuk lalu lintas jalan raya, ruang kehidupan, hutan, kontur wilayah, laut, samudra, patahan lempeng bumi, sampai kamar mandi dan toilet umum pun, telah diserbu oleh serba digital. Maka, jangan heran, orang bekerja tidak lagi memerlukan sistem kantor dengan meja-meja birokrasi yang rumit dan berbelit-belit. Setiap orang bisa bekerja dan beroperasi dari dalam kamar pribadi. Konferensi-konferensi yang selama ini memerlukan ballroom yang besar di sebuah hotel bintang, sekaligus mengalami domestikasi dalam ruang-ruang batin setiap individu yang menggerakkan tuas kursor komputer dan laptop dari kamar tidur dan toilet di sebuah rumah di kaki gunung atau malah di puncak gunung.

Dulu, masa-masa hari besar keagamaan seperti lebaran, kita sibuk mengkoleksi kartu dan mencetak kartu untuk mengganti diri dan berkirim maaf lahir batin ke rekan dan sanak saudara nan jauh. Kiini peristiwa seperti itu, jika dilakukan pada hari-hari gini, menjadi sesuatu yang ganjil dan aneh. Dulu yang masih dekat waktunya, kita berkirim sms dengan gaya pantun berkait yang diulang-ulang, namun kini model itu telah dianggap menjemukan dan terkesan kampungan. Saat ini, dunia serba digital. Lewat media sosial, digitalisasi itu kian unjuk gigi dan menggila. Pesan maaf lahir dan batin itu telah naik level menjadi pesan gambar hidup dan meme, bisa pula lewat ikon emoti(con) dan emoji, yang menggarami relasi sosial antara sesama kita agar lebih lembab dan kian syahdu, kian takzim bahkan bisa menertawai diri sendiri. Dulu relasi sederas apapun, masih menyisa relasi feodal (yang tua sama tua dan yang muda sama  muda saling berkirim pesan). Namun saat ini relasi vertikal-feodal itu seakan patah dan berganti dengan model relasi horizontal dan terkadang bisa diagonal. Yang tua bisa berkirim dengan gaya bercanda dengan anak-anak remaja, begitu sebaliknya. Yang muda bercengkerama ringan dengan kaum tua, termasuk ke kaum emak-emak yang telunjuk jemarinya berbentuk segi empat karena terlalu lama bergulat dengan batu pengulek sambal di atas batu ulek. Tak kurang pula, orang-orang tua berlaku kekanak-kanak baik dalam pesan atau pilihan warna serba pinky. Dunia digital, sebuah mantra yang membuat kehidupan tanpa identitas, sebuah kehidupan tanpa nama.

Sistem penghantaran (delivery) dalam format “on demand” juga telah memanfaatkan digitalized; sebut saja loundry dilayani dengan pengantaran lewat “kekuasaan” online. Memindahkan badan manusia dari satu tempat ke tempat lain, juga dilayani dengan jasa digital online (baik wahana, maupun jasa pembacaan informasi traffic); peta macet, peta ruas jalan yang terhalang banjir dan tanah longsor. Termasuk peta jenis-jenis ancaman sosial yang berlaku di beberapa ruas jalan.

Digitalized, membuat dunia hadir dalam kadar tanpa tembok pembatas. Digitalized adalah mantra yang membuat dunia tembus pandang. Dampaknya? Semua tindakan dan kejahatan termasuk korupsi bisa dilacak gerak dan jumlah tentengan uang dalam bungkus kardus sekalipun lewat keperkasaan digital. Berapa orang yang telah tertangkap tangan, tak lepas dari mantra digital yang perkasa dan ranggi itu. Termasuk kejahatan saiber lain, seperti pornografi dan konten pornografi yang ditransaksikan. Digitalized menggiring dunia tanpa privasi, tanpa wilayah pribadi, walau sebelumnya digitalized itu memang dihajatkan untuk melindungi privasi.

Lihatlah, sebaran berita sekelas, rekayasa berita  tanpa sumber kompeten, dan berseliweran di jagat maya, dalam hitungan detik setiap orang bisa mengaksesnya tanpa koreksi dan pertimbangan akal sehat. Tak sedikit pula revolusi sosial dipicu oleh “seraknya” revolusi digital yang tak terkendali oleh pemilik sejatinya  bernama manusia. Digitalized adalah sebuah revolusi industri gelombang keempat, yang mempercepat proses penghancuran peradaban manusia? Ketika ketiadaan privasi, sebuah peradaban  transparan yang dinikmati oleh semua bangsa di dunia ini, sejatinya adalah penanda kiamat peradaban bagi peradaban itu sendiri. Mungkinkah revolusi industri gelombang keempat ini merupakan  intsrumen terakhir  menuju kiamat sesungguhnya di muka bumi yang dalam “status rumah” sewa ini?***

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DAPAT PERHATIAN KHUSUS
Tak Ingin Ada Konflik di Pemilu 2019, Kapolri Ambil Langkah Ini
Jumat, 19 Oktober 2017 - 21:00 wib
UNTUK NAIKKAN ELEKTABILITAS
Isu Pribumi Harus Terus Dimainkan Anies? Ini Penjelasan Pengamat
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:45 wib
MASUKI TAHUN POLITIK
Pengamat Ungkap Tiga Tokoh yang Berpeluang Bertarung di Pilpres 2019
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:30 wib
MASUKI TAHUN POLITIK
Fahri Tantang Prabowo Segera Deklarasi Sebagai Capres, Alasannya...
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:15 wib
SAMBUT BAIK USAHA PEMBERANTASAN KORUPSI
Terkait Pembentukan Densus Tipikor, Begini Sikap MUI
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:00 wib
MASA JABATAN BERAKHIR
Akhir Tahun Ini, KPK Kembalikan Dua Penyidik dari Polri
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:30 wib
SOAL ISTILAH PRIBUMI
Mabes Polri Pastikan Kaji Semua Laporan Terkait Pidato Anies
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:20 wib
PASCA-PEMBUBARAN
HTI Jelaskan Khilafah di DPR karena Merasa Dizalimi Pemerintah
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:10 wib
UNTUK SATU POSTINGAN INSTAGRAM
Soal Endorse Rp100 Juta, Syahrini Akui Hanya Bercanda
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:00 wib
PILPRES 2019
Saingi Jokowi, Apa yang Sudah Diperbuat Prabowo?
Jumat, 19 Oktober 2017 - 18:45 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Pertunjukan Budaya Meriahkan Pelantikan Pengurus Pamor Riau
Gubri Dijadwalkan Hadiri Haul 100 Tahun Ma’rifat Mardjani
Istri Pangkostrad Kagumi  Oleh-oleh Khas Riau

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:26 WIB

Ratusan Seniman Gelar Aksi untuk Rohingya

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:01 WIB

Kerajinan Khas Daerah Terus Dipopulerkan

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:50 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini